C45 : Karya Rama

14.9K 461 15
                                        

Happy Reading ~

Jika ditanya bagaimana kehidupannya pasca lebih dari dua bulan telah menjalani kehidupan rumah tangga bersama Rama, maka Arum akan dengan sangat yakin menjawab bahwa hari-harinya berjalan dengan cukup menyenangkan. Hanya saja ia tidak ingin mengelak bahwa beberapa hari terakhir semua justru terasa monoton.

Mungkin, suasana membosankan itu tak akan ia rasakan apabila Arum memiliki kesibukan yang berarti di sepanjang hari-harinya. Tapi sayang, kegiatannya dimulai dengan bangun pagi, sarapan, dan mendekam diri di apartment sampai petang menghampiri langit. Sesekali, mungkin perempuan itu akan keluar, mengunjungi cafe atau tempat-tempat menarik lainnya untuk melepas jenuh. Tapi sekali lagi, Arum tidak bisa membohongi diri. Sedari awal dirinya memang bukan tipe orang yang suka menghabiskan waktu di luar, namun mendekam diri di apartment sendirian juga terasa sangat tak menyenangkan.

Mengenai pekerjaannya di Bintary Consulting, Arum telah resign sebelum acara pertunangannya dengan Rama. Bukan keinginannya untuk resign dari pekerjaan yang demi Tuhan mati-matian berusaha ia dapatkan itu. Alasan dirinya mengundurkan diri karena usulan dari Andira yang merasa bahwa persiapan pernikahan Arum dan Rama kala itu terlalu padat, sedangkan Arum yang bekerja sebagai karyawan korporat tidak memiliki waktu seflesksibel Rama untuk serta merata hadir dalam setiap diskusi atau kegiatan lainnya menjelang pernikahan.

Usulan wanita yang kini merupakan Ibu Mertuanya itu disetujui oleh Wibisana, sedangkan sang ayah—Bahran, yang kala itu berusaha membantu Arum untuk mempertahankan pekerjaannya, tak memiliki pilihan lain sebab tetua Rajendra tersebut sudah memberi pendapatnya.

Begitulah akhirnya bagaimana Arum melepas pekerjaan yang baru ia jalani sekitar tujuh bulan tersebut. Beruntungnya saat itu ia masih belum menandatangani kontrak untuk benar-benar menjadi karyawan Bintary Consulting, sehingga ketika ia memilih untuk resign, Arum tidak perlu mendapat sanksi apapun.

Mungkin jika ia masih bekerja, hari-harinya sekarang akan jauh terasa lebih baik. Sebab berdiam diri di apartment menunggu Rama yang entah akan pulang atau tidak, terasa benar-benar membosankan.

Sudah satu minggu lebih jadwal Rama sangat padat, tidak jarang pemuda itu akan menghabiskan waktunya di kantor alih-alih pulang ke apartemen. Jujur saja, Arum merasa sedikit kesepian karena hal itu. Namun, mengutarakan keluh kesahnya pada Rama pun terasa sangat tidak tepat untuk saat ini. Ia cukup mengerti kesibukan Rama, dan Arum tidak ingin menambah beban yang akan memberatkan pemuda itu.

Arum menghela nafas pelan, ia melirik pada ponselnya yang berdenting. Terdapat sebuah notifikasi dari grup chatnya bersama Juwita dan Akus yang kontan membuat pupil matanya membesar sejenak.

akus
|besok gue balik indo nih, boleh dong di jemput 😎
15.45

juwita
|hAH??!
|kok tbtb? bukannya waktu ini lo bilang mau di sana dulu sebulan lagi?
15.47

akus
|lusa kemarin gue dapet email dari TELKAM, diajakin untuk gabung sm mereka
|senin depan wawancaranya
15.48

wahhh, TELKAM?|
keren bangett|
15.49


akus
|iyaa dongg 😎😎
15.49

Arum terkekeh membaca balasan singkat itu.

Sedari kecil, Kusuma atau yang biasa ia panggil Akus ini memang selalu bisa membuat dirinya dan Juwita kagum dengan pencapaian pemuda itu. Nampak dari luar, Akus memang tidak termotivasi dengan akademiknya. Ia tampak tidak berambisi. Namun yang sesungguhnya terjadi justru pemuda itulah yang paling jelas memiliki goals untuk masa depannya.

TANYA GENGSITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang