C13 : Si Berengsek, Rama

17.5K 503 5
                                        

siap², Rama kelewat berengsek disini.

Happy Reading~

Rama baru saja selesai dengan ritual mandinya ketika mendapati kamarnya yang tadi berantakan sekarang sudah rapi dan tampak bersih. Mengedarkan pandangannya, Rama sama sekali tidak melihat keberadaan Arum. Pemuda itu lalu keluar, cukup terkesan ketika melihat penjuru ruangan tampak sangat rapi. Secepat itu Arum membersihkan apartment yang tidak kecil ini?

Berjalan beberapa langkah, pemuda itu menjatuhkan pandangan pada tubuh Arum yang terbaring duduk dengan kepala yang berada sisi salah satu sofa. Gadis itu tampak tertidur, terbukti ketika Rama menyadari nafasnya yang teratur dan tenang.

Rama mengamati wajah pulas gadis itu sebentar, menyadari satu hal yang pantang untuk ia akui. Pemuda itu lalu berjalan menuju dapur, membuka kulkas dan mengambil susu kotak dari dalam sana. Ia mendudukkan dirinya di single sofa, lalu menyalakan sebatang rokok. Dengan aktifitasnya itu, Rama tak melepas pandangan dari wajah damai Arum yang tertidur.

Drtt! Drrt!

Rama mengernyit ketika mengetahui bukan ponselnya yang bergetar, tapi ponsel milik Arum yang masih berada di dalam tas kecil miliknya. Dengan lancang ia meraih dan membuka tas tersebut, mengambil ponsel milik gadis itu.

“Akus?”

Rama bergumam ketika membaca nama yang tertera. Sedikit berpikir keras, Rama akhirnya menemukan satu benang merah disini. Dia ingat bahwa Akus adalah pemuda yang mengirimi pesan kepada Arum kemarin siang, tapi Rama juga ingat bahwa Arum sempat memanggil sahabat masa kecil yang Rama ketahui merupakan kekasihnya itu dengan panggilan Akus. Jadi Ari Pradipta Kusuma dan pemuda yang mengirimi Arum pesan kemarin itu adalah satu orang yang sama? Hah! Rama benar – benar merasa bodoh sebab berpikir bahwa mereka adalah dua orang yang berbeda.

Drrt! Drtt!

Rama menatap ponsel Arum yang kembali menampilkan panggilan telepon dari orang yang sama. Dengan kesal ia mereject panggilan tersebut, lalu tersenyum puas. Tapi sayangnya hal itu hanya bertahan sebentar saja sebab selang beberapa detik kembali muncul panggilan dari kekasih Arum itu. Rama kembali mereject tapi panggilan terus muncul dan membuat rasa kesalnya tersulut.

Terlintas satu ide dipikiranya ketika melihat panggilan dari pemuda tersebut terus bermunculan, kali ini Rama tidak merejectnya, tapi menggeser layar hijau dan menempelkan ponsel tersebut ditelinganya.

“Halo, Arum? Kamu kenapa nolak panggilan terus? Kamu baik – baik aja’kan?” terdengar suara penuh gusar dari seberang telepon sana, membuat Rama lantas berdecih.

“Baik, malah lagi keenakkan nih sekarang.” Rama menjawab dengan suara seraknya yang ia buat sesensional mungkin.

Ada jeda sebentar sebelum sebuah suara bentakkan terasa memekik telinga Rama. “Sialan! Dimana Arum bangsat?!”

Rama mendekatkan kembali ponsel tersebut ke telinganya, “Weshh selow man, lo ngeganggu aktifitas kita. Shhh … iyaa gitu … Ahh …”

Rama mengulum bibirnya kedalam, tak kuat dengan tingkahnya sendiri. Tolol, tolol, tolol. Rutuknya sendiri berusaha menahan tawa agar tidak meledak.

“Berengsek, lo apain cewek gue?!” Rama rasanya ingin tertawa puas ketika mendengar teriakan penuh frustasi dari kekasih Arum yang bernama Akus itu.

“Sshh … semuanya Arumhh …hhh …” Rama tertawa tanpa suara, kenapa ini terasa menyenangkan.

“Gue bener – bener bakal ngabisin lo kalau lo berani macem – macem sama cewek gue!”

TANYA GENGSICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang