Happy Reading ~
Masih di hari kamis yang sama, tak berselang satu jam sejak Rama dan keluarganya kembali ke kediaman mereka setelah cukup lama menghabiskan waktu siang mereka di rumah besar keluarga Maungali, Rama tidak lagi ingin membuang-buang waktunya untuk terlalu banyak berpikir.
Ia langkahkan kedua kaki dengan sangat yakin menyusuri lorong lantai dua, menuju salah satu ruangan dengan pintu berukir khas Jepara. Tubuhnya tegap berdiri di depan pintu yang tertutup itu, satu tarikan nafas pemuda itu ambil guna menetralkan degup jantungnya yang sedikit terasa lebih cepat. Setelahnya, Rama mengangkat tangan kanannya, mengetuk pelan pintu berukir itu.
Tok! Tok!
Pada ketukan kedua, Rama berujar. "Kakek, Rama izin masuk."
Tanpa perlu menunggu jawaban, pemuda itu lantas mendorong pelan pintu kayu tersebut, bersamaan dengan itu aroma kopi yang khas turut menyapa indera penciumannya. Rama melarikan pandangannya sejenak, mengintip area dalam ruangan tersebut sebelum akhirnya masuk dan kembali menutup pintu.
Si pemilik ruangan, Wibisana Rajendra, menoleh kala Rama berjalan mendekat ke arahnya. Pria itu sedang duduk di sebuah kursi kayu yang sedikit condong menghadap jendela. Sebuah senyum tercetak di wajah pria tua itu yang sudah dipenuhi garis-garis halus cukup ketara.
"Sangat kebetulan sekali kamu kemari, Rama. Baru saja Kakek akan menyuruh Galang memanggilmu." Suara serak sang tetua Rajendra itu mengalun, memenuhi ruangan yang sunyi. Dalam hal ini, Galang yang pria tua itu maksud adalah salah satu anak buahnya yang berumur lima tahun lebih tua dari Rama.
"Apa yang membawamu kemari?" Pria tua itu bertanya, tak ingin bersusah payah menyuruh cucu bungsunya itu untuk duduk pada kursi di sebelahnya.
Kerutan samar tercetak di kedua alis Rama. "Apa yang ingin Kakek bahas? Kenapa Kakek berniat menyuruh Galang memanggil Rama?"
Wibisana tersenyum samar, "Tentu saja mengenai pendapatmu tentang calon tunanganmu."
Mendengar hal tersebut membuat Rama menarik nafas berat. Dengan lamat ia menatap sang kakek yang saat ini dengan tenang menyesap kopi tak manisnya itu. "Ngga ada yang spesial dari dia. Dia ngga lebih dari perempuan-perempuan pada umumnya."
Cangkir besi yang berisi wedang kopi itu masih terngkat di udara kala Wibisana melarikan pandangannya pada Rama. "Dia?"
Rama menghela nafas samar, ia menjawab dengan nada sedikit malas. "Rama lupa namanya."
Wibisana terkekeh kecil mendengar penuturan itu, "Belum satu jam sejak kita kembali dari rumah calonmu itu, dan sekarang kamu sudah lupa nama calon tunanganmu? Kakek yang hampir 75 tahun ini saja masih ingat apa yang nenekmu ucapkan saat bertemu dengan kakek 48 tahun yang lalu." Pria tua itu menggeleng prihatin dengan daya ingat cucunya ini. "Namanya Maharani Amarayaksa. Ingat itu, yaa." Sambung Wibisana dengan jari telunjuknya yang menodong rendah pada sang cucu.
Rama menarik nafasnya, "Rama ngga mau mengingat nama perempuan itu, karena Rama rasa hal itu ngga perlu untuk Rama lakukan."
Wajah teduh Wibisana lenyap ketika mendengar hal tersebut, ia menatap cucu tersayangnya itu dengan saksama. "Jelaskan maksudmu."
Rama bergeming dua detik, pemuda itu menatap yakin ke arah sang kakek. "Rama menolak dijodohkan dengan dia."
Hening. Kedua laki-laki berbeda generasi itu saling adu tatap.
Tak berselang lama, helaan nafas terdengar dari Wibisana. "Lagi? Jangan kamu pikir saya akan menuruti kemauan kamu seperti tiga tahun lalu. Sudah cukup semua kelonggaran yang saya berikan kepada kamu, Rama."
KAMU SEDANG MEMBACA
TANYA GENGSI
Romance19+ | Arum tahu bahwa hidupnya tidak akan baik-baik saja setelah ia sah menjadi istri Rama, si pelaku pembullyan saat dirinya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. ___________ Arkasa Rajendra Rama adalah sosok laki-laki yang mati-matian Arum...
