C46 : Bunga dan Pertengkaran Pertama

11.7K 453 18
                                        

Happy Reading 📚

Satu hal yang sangat Arum sadari setelah mereka menikah adalah fakta bahwa Rama ternyata sosok yang cukup romantis. Selama mereka menikah, kepulangan Rama dari kantor menjadi salah satu hal yang cukup Arum tunggu. Hal tersebut karena ia didominasi oleh rasa penasaran terhadap bunga jenis apa yang akan Rama bawa di setiap penghujung petang.

Arum tak bohong, nyaris setiap hari Rama pulang dengan membawakan Arum cukup banyak tangkai bunga yang pemuda itu beli di perjalanan pulang. Saking seringnya, semua bunga dalam vas yang menghiasi beberapa sudut apartment selalu Arum ganti tanpa perlu menunggu bunga tersebut layu terlebih dahulu.

Seperti hari ini contohnya, bunga lily dalam vas masih tampak sangat segar, Arum baru saja menggantinya petang kemarin. Namun, petang ini Rama kembali pulang dari kantor dengan tangan pemuda itu yang tampak menggenggam buket sederhana berisi lebih dari tujuh tangkai peony.

"I'm home, Love." Rama berjalan mendekat ke arah Arum yang tampak berdiri dari duduknya. Ia rengkuh sejenak istrinya itu dan memberi satu kecupan singkat di leher gadis manisnya tersebut. "Untuk istriku tercinta." Gombalnya sembari menyerahkan buket di tangannya pada Arum.

Arum tertawa kecil, malu sendiri mendengar kalimat itu dari Rama. Ia meraih buket tersebut, "Wangi banget." Gumamnya kala aroma harum semerbak menguasai indera penciumannya.

"Hm, wangi banget. Kamu masak apa?" Tanya Rama. Jelas saja konteks wangi yang sedang ia singgung berbeda dengan Arum.

Arum melirik Rama sejenak. "Aku masak rawon, kamu mau makan sekarang? Mau aku ambilin?"

Rama tampak tertarik, "Rawon? Kamu bisa masak rawon?"

Arum mengangguk ragu, "Baru belajar sih. Tapi tadi aku udah nyicipin, lumayan enak kok."

Rama mengecup pelipis Arum sekali, "Masakan istri gue ini udah pasti enak."

Sejujurnya Arum tersipu setiap Rama menyanjung masakannya, tapi ia berusaha untuk tetap mengendalikan diri. "Kamu mau mandi dulu atau mau makan dulu?"

Berpikir sejenak, Rama kemudian menjawab. "Makan dulu deh, udah laper banget."

Arum mengangguk sekali, "Ya udah, ayo. Aku ambilin."

Rama meletakkan tas kerjanya di sofa, lantas mengikuti langkah Arum menuju meja makan. "Kamu ngga makan?"

"Masih kenyang karena tadi kebanyakan ngemil."

Rama mengangguk tanpa suara, ia memperhatikan bagaimana telatennya Arum menyiapkan makanan untuknya. Pemuda itu bertumpu tangan, tersenyum kecil menatap punggung istrinya.

Kala semangkuk rawon dan sepiring nasi sudah tersaji di depannya, Rama tak lantas mulai makan. Ia mengernyit menatap Arum yang justru menjauhi meja makan, "Mau kemana?"

Arum menoleh sejenak, "Sebentar, aku mau ngambil gunting sama vas."

Satu hal lainnya yang cukup Arum sadari setelah menikah adalah kenyataan bahwa Rama selalu memintanya untuk menemani pemuda itu ketika ia harus makan sendirian. Sehingga kini, tanpa perlu Rama minta pun Arum cukup peka untuk menemani acara makan malam pemuda itu.

Tak butuh waktu lama bagi Arum untuk kembali duduk di meja makan, berhadapan dengan Rama.

"Cantik banget." Gumamnya menatap satu tangkai peony di tangannya.

Di sela kunyahannya, Rama tersenyum kecil menatap Arum. "Suka, kan?"

Arum mengalihkan pandangannya sejenak, "Suka banget." Jawabnya yang masih menganggumi cantiknya bunga berwarna merah muda itu.

TANYA GENGSITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang