C9 : Antara Rama dan Keluarga Rajendra

18K 557 3
                                        

jangan lupa vote dan komen ya^^

Happy Reading~


“Inget pulang juga kamu.”

Kalimat yang terucap dengan suara tegas penuh wibawa itu adalah hal pertama yang menyambut kepulangan Rama di rumah besar keluarga Rajendra.

Rama melirik Ayah dan Kakeknya yang duduk tenang di sofa ruang keluarga, walau sebenarnya merasa malas, Rama tetap menghampiri dua pria paruh baya yang begitu dihormati itu. Menyalami tangan keduanya. “Iya.” Hanya itu balasannya.

“Loh mau kemana kamu? Duduk disini sebentar.” Itu suara serak milik kakeknya, Wibisana Rajendra.

Mau tak mau Rama menuruti, duduk di salah satu sofa ketika sudah meletakkan kunci mobil yang ada ditangannya. “Kenapa?” Rama tipikal orang yang to the point, dia sudah hapal dengan semua hal yang menyangkut keluarganya.

Wibisana tersenyum, menyebabkan kulit keriputnya mengkerut. “Jadi gimana? Kapan kamu ada waktu luang? Biar Kakek dan Papa kamu bisa ngatur rencana pertemuan keluarganya.”

Rama mendesah, “Rama nggak mau dijodohin. Rama’kan udah bilang.”

Wajah bersahabat sang kakek seketika berubah, menyorot datar pada cucu bungsunya itu. “Kamu tau sendiri’kan, nggak ada yang namanya penolakan jika itu menyangkut tradisi keluarga.”

Rama tersenyum miris, “Kalian juga tau’kan Rama bukan tipikal anak penurut kayak kak Dirga. Jadi jangan berharap besar pada Rama.”

“Kamu terlalu banyak tingkah selama ini Rama, jangan harap saya akan menuruti kemauan kamu untuk yang satu ini.”

Seolah terjadi perang dingin antar ketiga laki – laki itu.

“Rama nggak peduli ya, ini menyangkut masa depan Rama. Kalian tau sendiri’kan gimana Rama, kenapa kalian malah maksa Rama untuk ngemban tanggung jawab besar. Rama bahkan nggak bisa bertanggung jawab untuk diri Rama sendiri, tapi ini … Rama nggak habis pikir sama kalian.”

Kini giliran Jefri, ayah Rama yang berbicara. “Karena itu kami berniat menjodohkan kamu, kamu akan belajar bertanggung jawab nantinya dengan hubungan yang mengikat kamu.”

Rama terkekeh sinis, “Gimana kalau Rama tetep nggak bisa bertanggung jawab? Kalian mau tanggung jawab nantinya kalau masa depan Rama dan cewek yang bakal dijodohin sama Rama itu hancur?”

“Kamu akan belajar dengan sendirinya nanti.”

“Kenapa kalian bersikap seolah – seolah kalian itu Rama?”

Dua orang tua itu diam, hanya menghembuskan nafas. Tak berselang lama Wibisana berucap, “Jefri, kamu atur pertemuannya.”

“Kek! Nggak bisa gitu! Kalian nggak bisa bersikap seenaknya.” Rama berdiri, menatap marah pada dua orang tersebut.

“Kamu bisa milih antara fasilitas kamu yang akan saya tarik, atau menerima perjodohan yang sudah saya rancang.” Ancaman, itu, itu, dan itu lagi. Rama muak.

Rama membasahi bibirnya yang kering, “Gini aja, Rama nggak akan nolak dijodohin, tapi nggak sekarang. Tunggu sampai Rama umur dua puluh tahun, sampai Rama sedikit siap. Setidaknya sampai Rama bisa bertanggung jawab dengan diri Rama sendiri.”

Sang kakek menggeleng, tapi Rama kembali bersuara. “Sebagai imbalannya, Rama akan berusaha mendapatkan nilai memuaskan di ujian akhir nanti.”

“Bagaimana jika kamu tidak berhasil?”

“Kalian bisa melanjutkan rencana perjodohan ini. Rama akan nurutin kemauan kalian.”

Dua orang tua itu mengangguk, “Baik, saya tunggu empat bulan lagi.”

TANYA GENGSICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang