C7 : Topik Panas

16.5K 521 3
                                        

Kamis pagi seharusnya berjalan dengan baik – baik saja, tapi semua itu jauh dari perkiraan Arum. Baru menginjakkan kaki di halaman utama sekolah, dirinya sudah di cemooh banyak siswi.

“Murahan banget lo jadi cewek.” Alis Arum tertaut ketika ia todong kalimat kasar itu.

“Maaf, tapi maksud kalian apa ya?” Tanyanya berusaha tenang dan sabar.

“Lo!” salah satu siswi dengan rambut curly menekan bahu Arum dengan keras. “Berani banget cewek cupu kayak lo seenaknya megang-megang Rama. Keganjenan banget lo jadi cewek.”

Arum tambah tidak mengerti. Maksudnya apa? Gadis itu memilih melanjutkan jalannya tanpa menghiraukan dua orang itu. Disepanjang koridor pun ia menerima banyak umpatan. Hingga akhirnya Arum membelah kerumunan yang mengerubungi madding sekolah.

Arum seketika terbelalak, ada dua buah foto cetak besar tertempel di madding. Foto itu memperlihatkan dua potret momen yang Arum ingat bahwa itu adalah kejadian di UKS pagi kemarin. Itu dia dan juga Rama. Foto pertama ada dirinya yang tampak berusaha menyentuh wajah Rama, lebih tepatnya lebam pemuda itu. Sedangkan di foto kedua, ada potret Rama yang menepis tangan Arum dengan wajah garang, terkesan tidak suka dan terganggu.

Foto ini memberi kesan ambigu dan menyudutkannya. Padahal dikejadian aslinya yang Arum lakukan itu adalah bentuk reflex dan hanya terjadi sepekian detik.

“Lo pikir lo sekelas sama seorang Rama? Dasar ganjen.”

“Bener’kan dugaan gue, nih cewek sebenernya binal. Sok polos aja biar banyak yang simpati.”

“Emang pantes dibully nih cewek.”

“Nggak tau diri banget lo, jelek!”

Arum menggigit bibir bagian dalamnya, benar – benar sakit hati dengan ucapan kasar yang dilontarkan untuknya. Kenapa mereka selalu memandang Arum sebagai oknum yang salah, kenapa mereka semua seolah menolak fakta akan watak Rama yang seharusnya lebih pantas untuk mereka adili?

Arum sedikit berjinjit, mencabut paksa foto itu dari madding. Gadis itu kemudian berbalik, memandang para siswa-siswi yang memandangnya dengan pandangan mencemo’oh sepekian detik. Lalu pergi dari sana dengan pelupuk mata yang sudah tergenang air mata sedari tadi. Cengeng banget sih, Arum.

***

“Kan aku udah bilang, jangan berurusan sama Rama. Tuh cowok emang berengsek, pasti dia yang nempelin foto – foto ini dimadding. Lagian kamu kenapa bisa sama dia sih? Ini pas kapan?” Dela menceramahi sembari memandang dua foto di tangannya.

“Itu kemarin, di UKS. Selasa malem dia ngechat aku dan nyuruh ke UKS jam 6 pagi, tapi aku malah ngeblock nomor dia dan dateng ke sekolah jam 7. Dia marah dan ngekunci UKS, nggak ngebiarin aku ke kelas, padahal jam pelajaran pertama kemarin ada ulangan fisika.” Jelas Arum, dia baru ingat kalau kemarin dia tidak menceritakan apapun pada Dela.

Dela beralih menatap Arum dengan binar di wajahnya. “Bagus, aku bangga sama kamu. Tuh cowok emang pantes di block.”

Arum tersenyum kecil. “Tapi ini sekarang gimana. Fansnya Rama bahkan mulai terang – terangan ngehina aku.” Tanyanya memelas.

“Susah sih ini, kamu udah jadi hot topic dari tadi pagi. Bahkan ini juga diposting di akun gossip sekolah. Tapi kamu tenang aja, Arum. Selama ada Dela, kamu akan baik – baik aja. Pokoknya kemana – mana kamu harus sama aku, aku nggak bakal ngasih celah buat setan – setan itu ngehujat kamu lagi.”

Arum tersenyum haru, walau perkataan Dela terdengar lebih seperti bualan, tapi hal itu tidak berlaku dengan tindakannya. Perkataan dan perilaku Dela selalu selaras. Arum benar – benar berhutang budi pada gadis tofu ini dalam dua tahun terakhir ia bersekolah di SMA TELUMGA.

TANYA GENGSITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang