C2 : Tingkah Tsundere Rama

31.8K 1K 12
                                        

Arum tampak sangat lesu usai pelajaran olahraga, wajahnya sedikit pucat menandakan kelelahan. Jam istirahat pertama baru saja berbunyi, membuat Arum dengan enggan beranjak dari tempat duduknya. Di depan pintu—Dela—satu-satunya sahabat yang ia miliki di sekolah ini, sudah menunggunya dengan lengkungan senyum ceria. Gadis berkulit kelewat putih itu memang tak pernah lelah menyunggingkan senyum manis, salah satu hal yang menjadi ciri khas dari seorang Yugenestya Dayuni.

Mau tak mau Arum juga ikut menyunggingkan senyum, hanya sebatas senyum simpul. Ia tak ingin membuat Dela khawatir, tapi Arum rasa dia gagal melakukan hal tersebut. Terbukti ketika alis Dela sudah berkerut, menandakan kekhawatiran.

“Kamu kenapa? Pucet banget, sakit?”

Arum menggeleng sembari tersenyum meyakinkan. “Engga kok, cuman capek aja karena tadi praktek bola basket. Belum sempet sarapan juga. Ayo ke kantin, udah laper banget ini.”

Arum dengan segera meraih lengan Dela, mengajaknya ke kantin sebelum gadis tofu itu bertanya lebih banyak.

“Kamu beneran ngga apa-apa, Rum? Balik ke kelas aja ya, biar aku aja yang beli makanannya.”

Arum menghela nafas, “Ck! Beneran, Dela. Cuma pusing dikit aja kok. Ayo buruan, nanti keburu kantinnya rame.” Ucapnya, mengajak Dela mempercepat langkah.

Tak butuh waktu lama untuk keduanya sampai dikantin, Arum dan Dela menatap kantin sekolah mereka yang sudah dipadati siswa-siswi SMA TELUMGA yang kelaparan.

Pandangan Arum mengedar, dia tidak mempermasalahkan suasana kantin yang ramai. Hanya saja Arum mencoba berhati-hati, memastikan sosok Rama tidak ada di dalam kerumunan orang-orang itu.

“Kamu cari tempat duduk, biar aku aja yang pesen. Nasi campur Bi I'is, kan?” Tanya Dela.

Arum menoleh sembari mengangguk. Mereka berdua berpencar. Arum berjalan menuju bangku kosong di pojok dekat dengan pot bunga besar, sedangkan Dela berjalan menuju salah satu kedai guna membeli makanan.

Mata Arum masih memperhatikan sekeliling, dalam hati gadis berlesung pipi itu berdoa semoga Rama dan teman-temannya tidak ke kantin hari ini. Setidaknya jam istirahatnya akan Arum jalani dengan perasaan tenang.

Yakin bahwa Rama dan para sahabatnya tidak ada di area kantin, Arum memilih melipat kedua tangannya di atas meja kemudian menelusupkan kepalanya di sana. Kepalanya sangat pusing sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi. Arum tidak ingin membuat sahabatnya khawatir.

Sedangkan di depan sana, Rama dan ketiga sahabatnya baru saja memasuki kantin. Tatapan memuja serta pujian - pujian yang dilemparkan oleh para siswi menyambut kedatangan mereka. Rama, Arkan, Bima, dan Ega sudah biasa dengan semua hal itu. Ya, seperti makanan sehari - hari mereka.

Tanpa memperdulikan pekikan senang para siswi, keempatnya berjalan menuju meja yang berada dipojok. Dimana Arum berada. Rama mendudukkan tubuhnya di samping Arum, tatapan datarnya menatap malas pada gadis yang tengah bertumpu tangan itu. Tanpa aba Rama menyenggol keras lengan Arum, membuat gadis itu tersentak.

Arum otomatis mendongak, wajah pucatnya terlampau ketara. Matanya menangkap keberadaan Ega dan Bima yang kini duduk dikursi didepannya, melihat hal tersebut membuat Arum seketika menoleh ke samping. Dan benar saja, Rama kini sudah berada di sampingnya dengan memasang wajah datar andalannya, juga Arkan yang duduk disamping pemuda itu.

Arum menghela nafas resah, bibir keringnya terlihat enggan terbuka. Gadis itu megalihkan pandangannya, tak kuasa bila harus membalas tatapan tajam Rama yang terasa seolah menghunusnya.

Arum bisa merasakan jantungnya yang berdegup lebih cepat, gadis itu sungguh takut jika Rama akan melakukan hal yang kembali merugikannya. Ia tampak sangat gelisah, keempat dari pemuda yang merupakan bintang sekolah ini kompak menatapnya dengan berbagai jenis tatapan. Membuat Arum sangat gugup dan tak nyaman karena itu.

TANYA GENGSICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang