C42 : Ingkar Janji

14K 535 39
                                        

a/n: terharu dan rada ngga nyangka di chapter sebelumnya banyak banget yang komen 😭 terimakasih yaa^^

Happy Reading~

Sudah terhitung tiga kali sejak terakhir keluarga Rama datang ke kediaman Ketua Kemenkumham ini, dan tiga kali kedatangan mereka yang berturut-turut sejak sebulan terakhir bertujuan untuk membahas perjodohan antara Arum dan Rama.

Sampai detik ini Arum tak pernah membayangkan dirinya akan sampai di tahap ini, yaitu di tahap dirinya akan sibuk mempersiapkan rencana pernikahannya. Di usianya yang masih tergolong sangat muda untuk menikah, Arum pikir masa-masa ini akan ia habiskan dengan bersenang-senang menikmati masa mudanya yang singkat, tapi kenyataan justru yang berbeda dari yang ia bayangkan.

"Aku punya usulan, Bahran."

Arum menaikan pandangannya ketika mendengar perkataan itu dari Andira yang tampak sangat bersemangat seperti biasanya.

"Usulan mengenai apa?" Bahran bertanya, cukup penasaran.

Senyum Andira merekah, ia melirik ke arah sang putra—Rama, yang kini juga tengah menatapnya. "Bagaimana menurutmu kalau pernikahan mereka dipercepat? Tahun depan, Rama berniat membuka perusahaan baru, jadi aku takut dia kurang bisa membagi waktu untuk persiapan pernikahan. Apalagi kamu tahu sendiri, Rama masih tergolong baru di dunia bisnis, dia juga masih belajar. Jadi, bagaimana kalau pernikahan Rama dan Arum kita percepat? Sebelum akhir tahun ini aku rasa waktu yang pas."

Bahran tampak sedikit kaget, pun dengan Arum yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.

"Kurang dari dua bulan?" Bahran bertanya memastikan, sebab mempersiapkan rencana pernikahan tidak semudah itu.

Andira mengangguk, "Iya, bagaimana menurutmu?"

Bahran menarik nafas samar. "Apa tidak terlalu cepat? Bagaimana dengan pertunangan dan acara adat lainnya?"

Kini giliran Jefri yang berucap. "Itu perkara gampang, Bahran. Andira sudah menghubungi WO dan lain-lainnya sejak seminggu lalu, persiapan yang kurang hanya dibagian pakaian pengantin dan keluarga. Kalau kamu setuju, hari ini Andira berniat langsung mengajak Arum dan Rama ke tempat kenalannya untuk fitting."

Penjelasan Jefri membuat Arum menahan nafasnya tanpa sadar, semua sangat tiba-tiba, dan Arum bahkan tidak bisa memberikan pendapatnya akan hal tersebut.

Bahran menarik nafas sejenak, menimang. "Apa Tuan Wibisana setuju?"

"Papa setuju. Tapi beliau tidak mau memaksa, jadi keputusannya ada di kamu." Jefri menjawab.

Bahran mengangguk, "Kalau Tuan Wibisana setuju, maka aku rasa tidak benar kalau aku menolak usulan kalian."

Senyum Andira merekah, ia alihkan tatapannya pada Arum yang hanya diam. "Kamu ngga masalah, kan, Arum?"

Arum praktis melirik ayahnya yang hanya diam menatapnya. Dalam hal ini keputusan sudah dibuat, maka Arum rasa pendapatnya tidak akan berarti.

"Ngga masalah kok, Tante." Jawabnya.

Andira menatap teduh dengan senyuman lebarnya. "Tante ngga sabar banget bawa kamu pulang sebagai menantu, kalau Bunda kamu masih ada, dia pasti sama excited-nya seperti Tante." Wanita itu menjeda sejenak, ia menarik nafas pelan. "Tante harap perjodohan ini ngga membebani kamu, karena baik Tante, Om Jefri, apalagi Rama, kami semua benar-benar menerima kamu dengan tangan terbuka."

Tidak ingin menyangkal, hati Arum terenyuh mendengar perkataan hangat Andira. Gadis itu menarik senyum kecil, "Terimakasih, Tante." Ia menjawab sekenanya.

TANYA GENGSICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang