C10 : Sehari Bersama Rama

16.5K 547 2
                                        

Arum menatap gedung tinggi di depannya, gadis itu bisa memperkirakan bahwa ini merupakan kawasan apartemen elit, yang harga sewa perbulannya sangat tinggi. Motor ninja hitam Rama masih melaju hingga berakhir berhenti di basement, Arum segera turun tanpa banyak kata.

Pertanyaan yang berputar sedari tadi dikepalanya masih berusaha ia pendam, walau rasanya Arum ingin sekali menyuarakan hal itu untuk membuat rasa takutnya sedikit menghilang.

“Ikut gue.” Rama berjalan lebih dahulu, sedangkan Arum mengikuti dari belakang.  

Menaiki lift, mereka akhirnya sampai di lantai lima. Arum masih terus mengikuti langkah pemuda itu hingga mereka sampai di depan sebuah pintu apartemen yang Arum yakini itu adalah milik Rama.

Arum meremat tali totebag di tangannya, “Kenapa harus di apartemen kamu? Kenapa nggak di perpustakaan atau tempat umum lainnya?”

Arum memejamkan mata, itu adalah pertanyaan yang sedari tadi mengganggu pikirannya. Arum tentu takut jika Rama akan berbuat macam – macam padanya. Walaupun Rama sangat membencinya, tapi tidak ada jaminan bahwa pemuda itu tidak akan berbuat hal tak senonoh pada dirinya. Terlebih lagi title bad boy yang disandang pemuda itu memperkuat segala pikiran buruk Arum.

Rama berbalik ketika pintu sudah terbuka, memandang Arum dengan raut datar sebagaimana biasanya. “Kenapa? Lo takut? Denger ya, gue sama sekali nggak tertarik sama lo, apalagi tubuh lo. Jadi jangan kepedean dan mikir kalau gue bakal berbuat macem – macem ke lo.”

“Gue juga liat – liat,” pemuda itu menggantungkan kalimatnya, melirik penampilan Arum dari bawah hingga atas. Ia menyeringai, “Lo nggak semenggugahkan itu. Ngerti?”

Jika pada umumnya perempuan di luar sana akan sangat tersinggung dengan perkataan yang dilontarkan Rama, Arum justru bersyukur. Itu artinya, ia akan berada di zona aman ketika berada diruangan yang sama dengan Rama. Arum tidak perlu mengkhawatirkan mengenai kemungkinan terburuk yang sejenak menguasai pikirannya, walau ia harus tetap berhati – hati dan waspada.

Arum tersenyum, cukup senang mendengar ucapan Rama yang menyinggung itu. Sedangkan Rama mengernyit tak mengerti dengan respon yang Arum berikan. Alih – alih bersedih atau menangis, gadis itu justru tersenyum.

“Tolol.”

Itu adalah kata terakhir yang Rama ucapkan sebelum akhirnya berjalan memasuki apartementnya. Senyum dibibir Arum luntur, berganti dengan kerutan didahinya. Gadis itu tidak banyak omong, memilih mengikuti langkah Rama yang sudah memasuki apartemen.

Arum menatap pintu apartemen yang tertutup, kemudian beralih pada Rama yang mulai membuka jaket kulit berwarna coklat yang ia kenakan dan melempar jaket tersebut ke atas single sofa. Arum berjalan ke arah sofa, mengeluarkan buku dan alat tulis.

“Ngapain lo ngeluarin itu semua?” Rama datang mengagetkan, celana panjang berwarna coklat tua yang ia kenakan tadi kini sudah berganti dengan celana hitam sebatas lutut.

Arum menghentikan kegiatannya, “Mau belajar’kan?” tanyanya pelan.

“Lo pikir gue mau belajar sekarang?” tanya Rama dengan datar. Arum heran kenapa pemuda satu ini suka sekali memasang wajah tanpa ekspresi seperti itu.

“Emang enggak mulai dari sekarang?”

“Enggak,” Rama mendudukkan dirinya di sofa, “Lo bisa masak?”

Dengan ragu Arum mengangguk.

“Sana lo ke dapur, buatin gue makanan!”

Arum mengernyit tak mengerti, “Tapi’kan dikesepakatannya aku cuma bantu kamu untuk belajar.” Ucapnya pelan, takut – takut Rama membentak.

TANYA GENGSICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang