Happy Reading 📚
"Selamat pagi, Pak Rama." Giona dan Savitri memberi sapaan kala Rama nampak di pandangan mereka.
Rama mengangguk sekali, "Selamat pagi." Balasnya yang kemudian menghentikan langkah di depan kubikel kedua sekretarisnya. "Oh iya, revisian materi untuk meeting dengan Pak Erlangga siang nanti sudah saya revisi, finalnya juga sudah saya kirim ke email kamu. Tolong disiapkan hard copynya untuk nanti ya." Ujar Rama pada Giona.
"Siap, Pak. Setelah ini saya sesuaikan lagi dengan power pointnya." Jawab perempuan tersebut.
Rama mengangguk samar sebagai respon, hendak kembali berucap namun Savitri terlebih dahulu bersuara.
"Hari ini Bu Arum ngga ikut ke kantor, Pak?" Tanyanya penasaran.
Rama mengalihkan atensi, pemuda itu menggeleng. "Saya sengaja minta istri saya untuk istirahat hari ini."
Savitri mengernyit samar, "Bu Arum sakit ya, Pak?" Terselip nada khawatir di sana.
Rama menarik kedua sudut bibirnya sembari menggeleng, "Cuma kecapean aja."
Savitri bergumam 'Ohh' tanpa suara, lantas mengangguk.
"Ya sudah, kalau gitu saya ke ruangan dulu. Tolong kopi-nya ya?"
Giona mengangguk, "Baik, Pak."
Hari kerja itu Rama lewati seperti hari-hari sebelumnya, tapi khusus di hari ini, keinginannya untuk sesegera mungkin pulang ke rumah baru Rama rasakan lagi setelah sekian lama—hatinya membuncahkan keinginan untuk segera melihat Arum yang terakhir kali ia lihat pagi ini. Ah! Ingatkan Rama untuk mengunjungi toko bunga saat pulang nanti, sebab ia perlu membujuk Arum yang merajuk karena Rama telah meninggal cukup banyak bercak kemerahan di beberapa titik tubuh gadis itu akibat aktivitas menyenangkan mereka semalam.
Drtt! Drtt!
Rama melirik ponselnya sejenak, panggilan masuk dari sang ayah. Ia segera mengangkatnya, "Halo, Pa?"
"Halo, Sayang. Lagi sibuk?" Bukan suara Sang Papa yang ia dengar, melainkan suara Andira—Sang Mama.
Kening Rama mengernyit kecil, tidak biasanya. "Cuma lagi ngecek pergerakan saham, Ma. Ada apa? Papa di mana?"
Kekehan kecil terdengar, "Ada nih, di samping Mama. Mama mau nanya, jadwal kamu untuk minggu depan udah ada?"
Kening Rama tampak semakin tertaut, penasaran akan kemana arah pembicaraan ini. "Udah ada, Ma. Minggu depan lumayan sibuk. Kenapa? Ada acara ya?"
Helaan nafas terdengar, "Hmm, ngga ada acara keluarga sih. Kakek ngasih hadiah liburan untuk kamu sama menantu Mama, liburannya full dua minggu. Jadi Kakek minta Mama mastiin jadwal kamu kosong sebelum Mama urus soal printilan lainnya." Jelas wanita itu.
"Liburan? Kok tiba-tiba?" Rama bertanya.
"Coba aku yang bicara." Suara Jefri samar terdengar, pria itu mengambil alih percakapan. "Ini Papa kamu aja yang jelasin." Ujar Andira.
"Halo?"
"Iya, Pa?"
"Kalau minggu depan jadwalmu sudah full, minta sekretaris kamu untuk mengonsongkan jadwal dua minggu lagi. Ngga masalah, kan?" Suara berat sang Papa menyapa rungunya.
"Tapi jadwal sampai bulan depan juga udah ada, Pa." Jawab Rama.
Decakan kecil terdengar, "Ya sudah, tinggal minta sekretarismu yang handle atau jadwalnya dipindahkan saja. Kalau nunggu kamu punya waktu luang ngga akan ada habisnya. Ini Kakekmu sendiri yang nyuruh kamu untuk istirahat dari kerjaan. Hitung-hitung sekalian kamu dan Arum pergi Honeymoon. Pernikahan kalian sudah lebih dari lima bulan, kan?Mau ditunda sampai kapan lagi bulan madunya? Mama-mu sudah kebelet gendong cucu katanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
TANYA GENGSI
Romansa19+ | Arum tahu bahwa hidupnya tidak akan baik-baik saja setelah ia sah menjadi istri Rama, si pelaku pembullyan saat dirinya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. ___________ Arkasa Rajendra Rama adalah sosok laki-laki yang mati-matian Arum...
