Happy Reading 📚
Suasana di dalam mobil yang hanya diisi dengan dua orang tersebut tampak sunyi. Arum dan Aswangga baru saja memasuki mobil setelah percakapan mereka dengan anggota Angkara beberapa saat yang lalu. Arum melirik kekasihnya yang hanya tampak diam seribu bahasa sejak meninggalkan area kantin tadi, Aswangga sama sekali terlihat tidak memiliki minat untuk menyalakan mesin mobil dan meninggalkan area kampus.
Arum menarik nafas berat, tentu saja ia cukup peka dengan keadaan. Kekasihnya ini jelas memiliki seribu pertanyaan yang bersarang di kepalanya sejak pertemuan dan percakapan super canggung antara dirinya dengan Angkara, khususnya Rama.
Arum membahasi bibirnya, “Em, …”
“Astaga maaf sayang, aku malah ngelamun. Kita langsung ke rumah sakit?”
Baru saja saat Arum hendak berbicara, Aswangga dengan cepat memotong. Pemuda itu menatap Arum dengan seutas senyum, yang jelas saja Arum tahu bahwa senyum itu adalah hal yang dipaksa. Tanpa menunggu jawaban Arum, pemuda itu langsung saja menghidupkan mesin mobil.
Arum menghela nafas, “Aku tau pasti ada hal yang mau kamu tanyain setelah obrolan sama Angkara tadi. Gapapa kamu tanya aja apa yang mau kamu tau.”
Aswangga menoleh ke arah Arum yang duduk tepat dikursi sebelahnya. Matanya menatap Arum dengan serius, “Kamu ngga masalah dengan itu?”
Aswangga tentu penasaran dengan siapa sebenarnya Rama dalam kehidupan semasa SMA kekasihnya ini. Dari gerak-gerik Arum tadi, gadis itu terlihat jelas tidak nyaman dengan kehadiran anggota Angkara, khususnya Rama. Aswangga kembali bertanya ketika mendapat anggukan dari sang kekasih. Ia merubah posisinya menghadap Arum, menggenggam kedua tangan gadis itu dengan lembut.
“Kamu tadi keliatan ngga nyaman sama mereka, kenapa?”
Arum berpikir sejenak, apakah benar tindakannya jika ia menceritakan bagaimana menyesakannya masa SMA sebab Rama? Tapi bagaimana pun, Aswangga sekarang adalah kekasihnya, jadi tidak benar rasanya jika Arum harus terus-terusan menyembunyikan hal tersebut dari pemuda ini, apalagi pertemuannya dengan Rama dan teman-teman pemuda itu dapat menyebabkan kesalahpahaman.
Arum menarik nafas yakin, ia menatap serius kedua mata Aswangga yang sedari tadi menelisiknya. “Aku akan cerita semuanya. Tapi satu yang perlu kamu ingat, semuanya masa lalu. Setiap orang bisa berubah kan?” Aku harap Rama juga demikian.
Aswangga mengangguk, dan detik itu juga Arum membiarkan suaranya memenuhi kesunyian dalam mobil. Ia menceritakan semua yang ia rasa perlu untuk ia ceritakan kepada sang kekasih, disisi lain, Aswangga sendiri dengan seksama mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Arum. Lambat laun, perubahan mimik wajah Aswangga terlihat jelas seiring semakin seriusnya Arum bercerita. Namun, meski demikian pemuda itu tak menyela, ia tetap membiarkan Arum bercerita hingga selesai.
Di tiga puluh menit lebih sejak Arum bersuara, hingga akhirnya gadis itu selesai dengan senyuman manis di bibirnya. Setegar itu Arum menghadapi kenangan masa SMA-nya. Aswangga tidak bisa menahan diri untuk tidak menarik Arum dalam rengkuhannya. Erat, sangat erat hingga pemuda itu bisa merasakan debaran jantung Arum yang sedikit lebih cepat dari yang seharusnya. Aswangga iba, ia tahu bahwa tak mudah membuka luka lama dan menceritakannya dengan sangat lantang seperti yang Arum lakukan.
“Maaf. Aku minta maaf untuk apa yang udah kamu alami dulu, sayang.” Bisiknya pelan, tak tahu saja bahwa dibalik punggungnya ada Arum yang mati-matian menahan diri untuk tak menangis. Pada dasarnya semua tidaklah mudah untuknya.
“Aku ngga apa-apa. Sekarang aku baik-baik aja.” Jawabnya pelan namun penuh keyakinan, karena kehidupannya yang sekarang setelah dirinya lepas dari masa SMA adalah fase terbaik dalam hidupnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
TANYA GENGSI
Romance19+ | Arum tahu bahwa hidupnya tidak akan baik-baik saja setelah ia sah menjadi istri Rama, si pelaku pembullyan saat dirinya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. ___________ Arkasa Rajendra Rama adalah sosok laki-laki yang mati-matian Arum...
