“Ini nih anaknya, ganteng kan. Ngga bakal nyesel sayang kalo jadi istrinya dia. Udah ganteng, kaya, anak band lagi.” Arum melirikkan matanya ke arah sang Mama--Rina---yang duduk diatas sofa sembari menunjukkan sebuah foto cetak kepada Amara---sang kakak.
Gadis itu menipiskan bibirnya, lalu kembali menyelesaian pekerjaannya membersihkan lantai.
“Gimana? Masih mau nolak?” Arum bisa mendengar nada suara Rina yang tengah menggoda sang kakak.
“Ihhh ganteng banget, Ma. Tapi dianya mau ga sama aku?” Arum kembali melirik, menatap sang kakak yang tengah tersipu dengan wajah terbinar.
Rina terdengar berdecak, wanita berusia hampir setengah abad itu mengelus sayang surai putri kesayangannya itu. “Yaa pasti suka dong. Siapa coba yang berani nolak anak cantik mama ini, hmm? Kamu jangan rendah diri gitu, mama ngga suka liatnya. Kamu harus kayak mama dong, percaya diri.”
Arum tersenyum miris, kemudian membawa perlengkapan bersih - bersihnya ke gudang belakang.
“Arum, hari ini kamu ngga usah masak. Biar saya aja.” Arum berhenti melangkah, menoleh ke arah Rina dengan kerutan. Tidak biasanya.
“Iya, Ma.” jawab gadis itu. “Yaudah sana, lanjutin kerjaan kamu.”
Arum melenggang meninggalkan ruang tamu. Otak gadis itu bertanya - tanya. Mengapa suasana hati Rina sangat cerah hari ini, tidak ada bentakan seperti hari - hari biasanya. Nada suara Rina juga terkesan sedikit lembut, walaupun sebenarnya tidak bisa dikategorikan lembut juga.
Dan mendengar percakapan Rina dan Amara tadi, Arum berpikir. “Kak Mara bakal nikah? Tapi ngga mungkin sih, Kak Mara 'kan sebaya dengan aku. Ah, nggak taulah.”
Arum memilih memasuki kamarnya yang berada di ruang bawah tangga. Kamar cukup luas yang didominasi warna abu - abu. Arum nyaman berada dikamar ini, ya walaupun kepalanya beberapa kali harus terhantuk ketika akan masuk ataupun keluar dari sana.
Arum meraih gawainya, membalas beberapa pesan yang masuk.
Dela
|arum kls km dapet buku paket mtk yg sampulnya ungu itu ga?
17.30
Arum kemudian menuju rak bukunya, mencari buku matematika mana yang Dela maksud. “Ini bukan sih yang dimaksud sama Dela?” Arum bergumam memilih memfoto sampul dari buku tersebut, kemudian mengirimkannya kepada Dela.
Arum
/you sent a picture/ |
yang ini bukan? |
18.23
Arum menutup room chatnya dengan Dela. Hendak membuka grupchatnya bersama Akus dan Juwita, sebelum sebuah pesan tidak dikenal terlebih dahulu menarik perhatiannya.
+62 8745677882***
|besok jam 6 pagi gue tunggu lo di uks
|awas aja kalo lo ga dateng
17.09
Alis Arum mengeryit, “Ini siapa sih? Kok main ngancem?” gumamnya. “Nggak mungkin 'kan kalau ini Rama?” Gadis itu bergumam kecil, ada nada cemas disana.
Arum
maaf? |
siapa ya? |
18.25
Arum hendak menutup gawainya ketika notifikasi dari nomor tersebut kembali muncul.
+62 8745677882***
|rama
|besok pagi ke uks!
18.26
Kerutan dikedua alis Arum terlihat semakin jelas, “Rama? Kok dia bisa tau nomer hp aku?” gumamnya bertambah resah. Tanpa membalas pesan dari Rama, Arum menggerakkan jarinya dengan lihai diatas benda pipih tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
TANYA GENGSI
Genç Kız Edebiyatı19+ | Arum tahu bahwa hidupnya tidak akan baik-baik saja setelah ia sah menjadi istri Rama, si pelaku pembullyan saat dirinya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. ___________ Arkasa Rajendra Rama adalah sosok laki-laki yang mati-matian Arum...
