Happy Reading 🌷
"Kamis ini kosongkan jadwalmu, Rama." Suara lirih dan sedikit serak milik Wibisana—Kakek Rama—mengalun, memenuhi rungu Rama yang masih tampak duduk di salah satu kursi besar dengan laptop di hadapannya. Ada Jefri—Ayah Rama, yang juga duduk di salah satu kursi. Mereka bertiga masih mengisi ruang rapat yang tampak telah legang sejak lima belas menit lalu.
Rama mengangkat pandangannya, menatap sang Kakek. Fokusnya menganalisa laporan keuangan buyar seketika saat mendengar perintah itu.
"Kenapa? Ada kunjungan bisnis yang Kakek ingin Rama datangi lagi?" Tanyanya.
Wibisana terdiam sejenak, sedangkan Jefri yang sudah tahu maksud dari perintah itu hanya tampak diam dan tenang. "Kita akan mengunjungi calon tunanganmu."
Rama mematung seketika, kesadarannya seolah dihantam beton besar. Pemuda itu berusaha tetap tenang, menghalau perasaan kalut akan emosi yang terasa kian tersulut di relung hatinya. "Kakek tau kalau Rama lagi sibuk ngurus perusahaan, di rapat tadi Kakek sendiri tau kalau peforma perusahaan ini masih kurang memuaskan. Rama juga berencana mendirikan perusahaan baru di bidang investasi crypto, Rama sudah sampaikan hal itu ke Kakek dan Papa, kan? Rama mau fokus untuk kedua hal itu dulu." Jelasnya.
Wibisana menatap cucu laki-lakinya itu, "Kamu tidak akan langsung menikah besok, Rama. Kita hanya melakukan kunjungan biasa, sebatas silaturahmi antar keluarga. Tentang pertunangan dan pernikahan masih bisa dibicarakan nanti." Terang pria paruh baya itu dengan pelan.
Jefri tampak mengangguk, menyetujui perkataan ayahnya. Pria itu berucap, "Dengan ini, kamu juga bisa mendapat waktu lebih banyak untuk mengenal lebih jauh calon tunanganmu. Untuk pernikahan kalian masih bisa dilakukan tahun depan atau mungkin saat perusahaan baru kamu sudah mulai menunjukan performa yang stabil. Kami tidak akan memaksa kamu menikah tahun ini, jadi kamu masih bisa fokus dengan perusahaan."
Rama terdiam. Walau ada gemuruh perasaan marah yang terselip semakin besar di hatinya, namun, penawaran tersebut cukup mampu membuat dirinya sedikit lebih tenang. Setidaknya dengan ini ia masih memiliki waktu untuk menyempurnakan rencananya guna membatalkan perjodohan ini.
Rama mengalihkan pandangannya ke arah Wibisana, menunggu validasi dari sang Kakek terkait ucapan ayahnya. Wibisana yang ditatap demikian seriusnya oleh sang cucu, lantas menarik senyum kecil. Pria tua itu mengangguk. "Seperti yang dikatakan oleh Papa mu."
Rama menarik nafas panjang, termenung sejenak. Sudah tidak ada alasan baginya untuk menolak perintah sang Kakek, untuk itulah, pemuda tersebut mengangguk pelan. "Hanya sebatas silaturahmi."
Wibisana dan Jefri mengangguk.
"Okey, akan Rama kosongkan jadwal untuk kamis ini." Ucapnya memberi jawaban final.
***
"Kamu beneran bisa ngehandle meeting kamis ini, kan?" Pertanyaan itu datang dari Maha, salah satu supervisor yang menjadi penanggungjawabnya.
"Tenang aja, Maha. Dia pasti bisa kok, selama ini kan udah sering ikut kamu sama anak marketing lainnya untuk ketemu klien. Udah belajar banyak juga tentang gimana caranya ngasih konsultasi pemasaran, jadi harusnya aman. Apalagi klien yang ini orangnya baik luar biasa." Jawaban atas pertanyaan tersebut tidak berasal dari Arum, melainkan dari Intan yang juga kebetulan berada di ruang divisi.
Maha mengalihkan pandangannya ke Intan sejenak, lalu beralih menatap Arum yang berada di depannya. Perempuan itu menarik senyum, "Bisa?" Tanyanya pada Arum.
Arum mengangguk mantap, "Bisa, Mbak. Mbak Maha tenang aja, aku jamin Bu Winda bakalan puas sama hasil meeting nanti."
"Okey deh. Aku percayain ke kamu. Pastiin untuk pelajarin keluhannya ya? Nanti aku minta Pio untuk nemenin kamu meeting sama Bu Winda. Udah dikabarin di mana lokasi meetingnya?" Maha kembali bertanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
TANYA GENGSI
Literatura Feminina19+ | Arum tahu bahwa hidupnya tidak akan baik-baik saja setelah ia sah menjadi istri Rama, si pelaku pembullyan saat dirinya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. ___________ Arkasa Rajendra Rama adalah sosok laki-laki yang mati-matian Arum...
