Happy Reading 📚
K
etakutan terbesar Arum saat ini bukanlah mengenai skripsi yang sudah menunggu untuk dikerjakan, bukan juga mengenai akan menjadi apa dia kala lulus dari perguruan tinggi nanti. Ketakutan terbesar Arum saat ini adalah bertemu dengan Rama. Rasa takut itu jauh lebih besar dari yang sebelumnya, terlebih setiap ia mengingat apa yang sudah Arum lakukan pada pemuda Rajendra itu. Rasanya, Arum ingin menenggelamkan dirinya ke dasar palung mariana.
Ia menampar Rama. Arum mengangkat tangannya dan menampar pemuda Rajendra itu hingga tangan dinginnya praktis terasa panas dan kebas. Arum yang sekarang menganggap dirinya di dua minggu yang lalu adalah sosok yang gila karena sudah berani menampar putra bungsu dari keluarga paling berpengaruh di Nusantara.
Namun, tak ada yang bisa Arum pikirkan kala Rama menciumnya dengan ... agresif, tamparan keras yang ia berikan di pipi pemuda itu adalah bentuk refleks dan pertahanan dirinya kala Arum merasakan lidah pemuda yang merangsak masuk dan membelit lidah kelunya. Bukan salah Arum, Rama memang pantas mendapatkan tamparan itu sebab tindakan Rama sama sekali tidak mendapat konsen dari Arum.
Perbuatan Rama termasuk tindak pelecehan. Harusnya Arum tak setakut ini saat memikirkan akan berhadapan dengan Rama suatu hari nanti, harusnya Rama yang merasakan perasaan gelisah ini. Tapi kenapa Arum tetap merasa resah? Kenapa ia yang merasa seperti tersangka dalam hal ini?
Sudah sejak dua minggu ini Arum memilih mendekam diri di rumah, ia bahkan mengundurkan diri dari kepanitiaan yang akan dilakukan oleh unitasnya, dan ajakan Aswangga yang ingin bertemu dan menghabiskan waktu bersama pun Arun tolak sejak dua minggu terakhir. Semua itu ia lakukan hanya untuk menjauhi Rama, sebab di mana pun ia berada, Arum merasa Rama selalu ada di sana. Entah karena kebetulan atau tidak.
Walau memang aktivitas perkuliahan sedang mengalami libur untuk dua bulan kedepan karena pergantian semester, Arum tetap merasa was-was. Mungkin saja jika Arum memaksa diri untuk tetap melanjutkan aktivitas kepanitiaannya, ia akan berujung bertemu dengan Rama di area kampus—karena dari cerita Aswangga, Rama cukup aktif di BEM dan kegiatan unitasnya. Dan Arum tidak menginginkan itu terjadi.
Membicarakan perihal kejadian dua minggu lalu, selepas Arum memberikan tamparan kerasnya pada Rama. Arum lantas berujar dengan suara gemetarnya dan memaksa Rama untuk membukakan pintu apartmentnya, kala itu Arum pikir Rama akan tetap arogan, tapi ternyata pemuda itu menuruti tanpa banyak kata.
Rama tak jadi mengantarkannya pulang, sebab Arum pada saat itu sama sekali tak mau berada dalam satu lingkup dengan pemuda itu dalam waktu yang semakin lama. Oleh sebab itu, Arum akhirnya memesan layanan ojek online. Saat itu Arum tahu bahwa Rama mengikutinya dengan mobil pemuda itu, maka ia dengan sengaja meminta diantarkan ke rumah melewati gang-gang sempit agar Rama tak bisa mengikutinya lagi. Dan cara itu berhasil.
Tok! Tok!
"Non Arum, ada Den Aswangga di bawah. Katanya mau ketemu."
Suara ketukan yang dibarengi dengan pemberitahuan itu menarik Arum kembali pada realita. Gadis itu praktis bangkit dari baringnya, segera membuka pintu dan mendapati Bi Ratna masih berada di depan pintu kamarnya.
"Ada Aswangga di bawah?" Tanyanya kembali, memastikan.
Bi Ratna mengangguk, "Iya, Non."
"Tolong bilangin tunggu sebentar ya, Bi? Lagi lima menit aku turun." Ujar Arum yang dibalas dengan anggukan.
Arum kembali masuk ke kamarnya, mematut penampilannya di cermin. Cukup berantakan, dan Arum tidak ingin Aswangga melihat dirinya yang seperti ini. Untuk itulah ia lantas membenahi penampilannya, tak banyak, yang penting jauh lebih rapi dan enak dipandang dari sebelumnya. Setelah selesai, ia lantas bergegas turun.
KAMU SEDANG MEMBACA
TANYA GENGSI
Romance19+ | Arum tahu bahwa hidupnya tidak akan baik-baik saja setelah ia sah menjadi istri Rama, si pelaku pembullyan saat dirinya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. ___________ Arkasa Rajendra Rama adalah sosok laki-laki yang mati-matian Arum...
