Happy Reading ~
Bagi Rina Prasmajati, ketakutan terbesarnya saat ini adalah Arumaya Kathrine Maungali—anak tirinya. Ia takut kehadiran gadis itu merusak semua angan-angannya, terlebih menghancurkan harapan putri semata wayangnya. Ia takut kondisi yang sejak tiga tahun lalu memihak pada dirinya dan sang putri tiba-tiba memutar haluannya.
Kala ia melihat kehadiran Arum menuruni anak tangga di tengah suasana ruang tamu yang diisi oleh para tamunya, ketakutan dibenak Rina terasa kian membelenggu. Bahkan semakin menjadi-jadi saat gadis itu yang hadir mengintrupsi percakapan, membuat para calon besannya menaruh atensi penuh pada anak tirinya itu.
Bagi Rina, Arum adalah sebuah ancaman. Ancaman besar bagi kebahagiaan putri terkasihnya.
Rina pikir semua hanya ketakutan tidak berdasar, tapi ternyata semua tidaklah seperti yang ia harapkan. Ketakutan yang membelenggunya sejak minggu lalu menjadi kenyataan kala suaminya mengumpulkan semua anggota keluarga mereka di ruang keluarga, memberikan informasi yang demi Tuhan tak sudi Rina dengar sampai kapan pun.
Bagai disambar petir di siang bolong, perasaan Rina praktis kalut, marah membuncah dan terasa tak terbendung, degup jantungnya tertalu begitu cepat. Ia alihkan pandangannya ke arah sang putri—Amara—yang tampak terdiam linglung dengan wajah piasnya.
"Maksud Mas apa? Kenapa tiba-tiba Amara harus digantikan? Apa yang salah dengan putriku?!" Intonasi suara wanita itu meninggi, menatap nyalang ke arah suami yang tampak sangat tenang.
Bahran menatap istrinya, "Ini keinginan langsung dari Tuan Wibisana, bukan kuasaku untuk mengatur." Jawabnya dengan tenang.
Dada Rina terasa bergemuruh mendengar hal itu. "Mas hanya perlu menolak keinginan Tuan Wibisana. Bujuk beliau agar tetap mempertahankan Amara sebagai calon istri untuk cucunya. Rencana perjodohan ini sudah ada sejak tiga tahun lalu, Amara sudah terlanjur menyukai pemuda itu, Mas!"
Helaan nafas berat terdengar dari Bahran ketika mendengar deretan kalimat penuh desakan itu. "Kamu pikir siapa yang sedang aku hadapi ini? Beliau adalah tetua Rajendra, keluarga paling tersohor di negeri ini, kalau kamu lupa. Kamu pikir apa yang bisa saja terjadi pada nasib karir polikku jika aku berani menolak keinginan beliau?" Intonasi suara Bahran sedikit meninggi, membungkam Rina.
Kedua tangan Rina mengepal begitu erat, wajahnya memerah karena luapan emosi yang terasa ingin meledak. Ia lirikan matanya pada sang putri yang kini sudah terduduk di sofa, anak gadisnya itu menangis tanpa suara. Amarah Rina terasa semakin membara.
Rina mengalihkan tatapannya, nyalang menatap Arum yang bergeming di tempatnya. Amarah Rina terasa semakin meluap, tangan kanannya terangkat ke udara seiring dengan langkahnya yang mendekat pada Arum. "Semua ini karena kamu, kalau saja—"
"Jaga sikapmu pada putriku, Rina!" Bentakan terdengar menggelegar, menghentikan langkah Rina yang hendak menampar Arum.
Bentakan itu turut mengejutkan Arum yang sempat melamun akibat keterkejutan akan informasi yang beberapa saat lalu disampaikan oleh ayahnya. Ia menatap sang mama tiri yang tampak diselimuti oleh amarah. Gadis itu menundukan pandangannya, menatap Amara yang menangis.
Arum menelan salivanya yang terasa serat, ragu-ragu gadis itu menatap sang ayah. "Kalau Arum menolak, apa bisa? Arum masih terlalu muda untuk menikah, Arum ... Arum masih belum siap untuk tanggung jawab itu."
Helaan nafas frustasi itu kembali terdengar. Bahran menatap tajam putrinya, "Apa penjelasan Papa tadi masih belum bisa kamu cerna, Arumaya?"
Arum mengerjap kaku ketika mendapati aura sang ayah yang sangat mendominasi, dalam hal ini ia tahu bahwa ayahnya sedang tidak ingin dibantah. Gadis itu menundukan pandangannya, "Arum ngga mau ngerampas hak Kak Amara." Gumamnya kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
TANYA GENGSI
Romance19+ | Arum tahu bahwa hidupnya tidak akan baik-baik saja setelah ia sah menjadi istri Rama, si pelaku pembullyan saat dirinya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. ___________ Arkasa Rajendra Rama adalah sosok laki-laki yang mati-matian Arum...
