a/n: 19+, sedikit frontal tapi masih cenderung aman. bagi yang puasa tolong skip aja ya!!
Happy Reading 📚
Masih di malam yang sama kala Rama tak bisa menjabarkan semua kalimat bahagianya selain hanya dengan menggumamkan kata terimakasih terus menerus kepada Arum sebab telah membalas perasaannya. Malam itu Rama enggan melepas Arum dari pelukannya, membubuhi seluruh wajah si gadis dengan kecupan-kecupanya yang ringan. Bahagia yang meluap menguasai relung hatinya juga turut sukses membuat pekerjaannya yang masih perlu diselesaikan seolah tak berharga baginya.
Malam itu, suasana hangat dan manis menguasai kamar mereka untuk beberapa saat. Namun, entah mengapa di setiap pergantian detik dan menit yang disertai kecupan ringan Rama pada setiap sisi wajah Arum, membawa hawa panas yang perlahan terasa menuntut. Kecupan ringan Rama lambat laun berganti menjadi ciuman intens yang tak kuasa Arum tolak. Dalam dan memabukan.
Itu adalah ciuman mereka yang kesekian sejak resmi berstatus sebagai pasangan suami-istri. Namun, itu adalah kali pertama Arum merasa bahwa ciuman ini tak hanya akan berhenti di sini. Lumatan bibir Rama pada miliknya sangat intens, menuntutnya untuk mengimbangi setiap gerak yang terasa kian tak terkendali. Ciuman itu tak lagi terasa seringan kapas sebagaimana yang pernah Arum rasakan sebelumnya, sebab ciuman Rama kali ini justru terasa berat.
Rama memang selalu mampu membuatnya berdebar tak karuan, namun malam ini terasa sangat berbeda. Sangat mendebarkan hingga membuat panas serasa menjalari setiap bagian tubuhnya tanpa terkecuali.
Tarikan nafas Arum terdengar sangat jelas kala Rama akhirnya melepas pungutan mereka—membebaskan bibirnya yang mungkin sudah sedikit bengkak dibuatnya. Nalurinya membuat kedua mata Arum terpejam kala lembut sapuan bibir Rama menyusuri area rahangnya, memberikan kecupan ringan yang sangat sensual. Terus merambat naik ke area cuping telinganya, mengecup pelan—membuat Arum mengerang kecil.
"Hhhh..."
Rama membawa wajahnya menuju area leher Arum, tempat favoritnya. Membubuhi area tersebut dengan cumbuan manis dan panasnya tanpa bosan, memberi warna yang kontras dengan cerahnya kulit sang istri di beberapa titik—membuat Arum lagi-lagi meloloskan lirihan kecilnya.
Puas dengan karya yang ia buat di beberapa titik leher si gadis, Rama kembali melahap bibir Arum dalam kuasanya. Mengecap, melumat, dan menyesap. Mengajak lidah istrinya saling berkelit dengan miliknya. Jari-jemari tangan kanan Rama mengelus telinga Arum dengan seduktif, lalu merambat turun menyusuri sela-sela helaian rambut si gadis yang terurai. Sedangkan siku kirinya berusaha menopang tubuhnya agar tak sepenuhnya menindih Arum yang berada di bawahnya.
Malam itu, pendingin ruangan kamar mereka menyala dengan suhu yang cukup rendah—namun, hal tersebut tak mampu menampik panas yang merambat di setiap saraf tubuh keduanya. Kegiatan mereka menimbulkan suara decapan, memecah telak keheningan di ruangan tersebut. Malam itu Rama tahu bahwa ia tak lagi bisa menahan diri. Arum terlalu memabukan untuk bisa ia lewati.
Rama tak kuasa melawan gelonjak gairah yang seolah membakar jiwanya, ia mengangkat diri—menekuk lutut kanannya di antara kedua kaki Arum, lalu dengan gerak yang begitu cepat membuka kaos polos yang sedari awal masih melekat di tubuhnya. Manik Rama menggelap, dikuasai kabut gairah kala menatap Arum yang berada di bawahnya—terlentang menatapnya dengan raut wajah gadis itu yang tampak sangat cantik di matanya.
Rama tak tahu saja bahwa Arum dengan posisinya itu sedang dilanda kegugupan yang sangat mendebarkan. Jantungnya berdegup sangat kencang, nafasnya seolah tercekat kala melihat Rama yang melempar sembarang atasannya yang beberapa detik lalu pemuda itu buka dengan tergesa. Arum rasanya semakin mati kutu kala ia membalas tatapan Rama yang sangat intens, menyadari bahwa suaminya sedang dilingkupi gairah yang tak tertahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
TANYA GENGSI
ChickLit19+ | Arum tahu bahwa hidupnya tidak akan baik-baik saja setelah ia sah menjadi istri Rama, si pelaku pembullyan saat dirinya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. ___________ Arkasa Rajendra Rama adalah sosok laki-laki yang mati-matian Arum...
