A.N // agak 21+, tapi kayaknya bukan agak lagi. warning pokoknya!! 21+
Happy Reading ☆
Drttt! Drttt!
Dering ponselnya menjeda kegiatan Arum yang tengah mengupas jeruk. Ia melirik sejenak, mendesah pelan kala melihat nama sang suami lagi-lagi tertera di layar benda pipih tersebut. Siang ini saja, sudah terhitung lima kali Rama itu menghubunginya, dan Arum sangat bisa memprediksi apa yang akan keluar dari mulut pemuda Rajendra tersebut kala panggilan telepon itu sudah ia sambut.
Meletakkan kembali jeruknya di atas nampan, Arum lantas menerima panggilan tersebut. "Haloo?" Sapanya dengan nada sedikit panjang, terselip kejengahan di sana.
Kekehan terdengar. "Sayang, udah ada pengen makan sesuatu? Atau ngidam apa gitu?"
Kan! Sesuai tebakan Arum.
Rutinitas Rama sejak mengetahui Arum tengah mengandung adalah menanyakan apakah sang istri sudah mengidam sesuatu atau tidak. Nyaris tak ada hari tanpa pertanyaan tersebut.
Arum terdiam sejenak, berpikir. "Kamu ngga ada meeting? Perasaan kamu sering luang banget akhir-akhir ini." Ia bertanya, tak mengindahkan pertanyaan sang suami.
Helaan nafas samar terdengar. "Sepuluh menit lagi aku ada meeting." Jeda sejenak, "Ganti ke panggilan video, Love. Kangen."
Arum menurut. Tak lama, wajah sang suami tampak memenuhi layar ponselnya. "Udah di ruang meeting?" Ia bertanya kala telah memperhatikan background tempat Rama berada sekarang.
Rama mengangguk sekali. "Masih belum ngidam?" Ia kembali pada topik utama.
Arum menggeleng. "Belum~ Hari ini aja kamu udah nanya itu 10 kali lho." Kekehnya geli.
Rama merenggut lesu. "Habisnya kamu ngga ngidam-ngidam, aku kan pengen direpotin sama kamu dan Si Bayi. Usianya udah hampir 14 minggu lho, Love."
Arum menggigit bibirnya pelan, menahan senyum melihat tampang sang suami yang nelangsa hanya karena dirinya belum memasuki fase 'ngidam' di kehamilannya ini. "Kamu pengen banget aku repotin." Godanya.
Rama mencebik. "Bibirnya jangan digigit gitu, nanti berdarah." Peringatnya kala Arum sangat betah menggigit bibir bawahnya sendiri. "Aku iri aja, setelah meeting pagi tadi, investor-investor saling cerita kalau mereka dibuat kewalahan ngadepin fase ngidam istri mereka, karena ngidamnya macem-macem dan kadang ngga masuk akal." Ia terkekeh. "Aku juga pengen ngerasain itu, Lovee." Akunya.
Arum memicing geli melihat tingkah Rama. "Kamu serius mau nurutin ngidam aku sekalipun itu ngga masuk akal? Atau bikin kamu marah?" Tanyanya.
Rama terdiam sejenak, menimang. Sedetik kemudia Arum bisa melihat anggukan tegas dari pemuda itu. "Iya, ngga apa-apa, aku ngga akan marah."
Arum melipat bibirnya tipis. Menimang apakah ia akui saja atau tidak perihal keinginannya tiga hari lalu yang hanya bisa ia pendam itu. "Mm, sebenernya waktu temen-temen kamu main ke rumah sabtu kemarin itu, aku ada ngidam. Tapi aku takut kamu marah."
Kening Rama tertaut samar. "Kenapa ngga bilang? Emangnya apa yang kamu pengenin sampai aku bakal marah?"
Lagi, Arum menggigit bibirnya. Ragu mengutarakan keinginannya itu.
Decakan kecil terdengar. "Jangan gigit bibir terus, nanti luka." Teguran datang dari sang suami yang sangat memperhatikan Arum. "Itu jobdesk aku gigit bibir kamu." Sambungnya.
Arum terperangah mendengarnya, lantas mendesah geli diselingi decakan kecil-membuat Rama tergelak.
"Jadi waktu itu kamu pengen apa, Sayang?" Tanya Rama.
KAMU SEDANG MEMBACA
TANYA GENGSI
Romance19+ | Arum tahu bahwa hidupnya tidak akan baik-baik saja setelah ia sah menjadi istri Rama, si pelaku pembullyan saat dirinya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. ___________ Arkasa Rajendra Rama adalah sosok laki-laki yang mati-matian Arum...
