C54 : Pulau Bungin

9.1K 412 23
                                        

Happy Reading 📚

Kala mobil jeep yang mengantarkan pasangan muda Rajendra—Rama dan Arum—melewati gapura bertuliskan "Kampung Nelayan Maju", saat itu jugalah satu kesan tertanam di benak Arum tentang sebuah pulau kecil tempat ia dan Rama berada sekarang.

Panas. Begitulah kesan pertama Arum untuk Pulau Bungin. Pulau terpadat di dunia yang terletak di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Mobil jeep hanya mampu mengantarkan mereka tak jauh dari titik masuk Pulau Bungin sebab akses jalan yang tak luas.

"Ngga apa-apa, kan, jalan sebentar?" Rama bertanya, memperhatikan wajah Arum yang tampak menyipit akibat terik matahari.

Arum membenahi topi pantainya, ia mengangguk. "Ngga apa-apa, rumah Eyang masih jauh?"

Pandangan Rama mengedar, "Ngga begitu jauh." Jawab pemuda itu yang lantas mengalihkan pandangannya ke Ole—pemandu yang ia sewa. "Tolong bawakan tas ini ya, Mas Le. Takut istri saya ngga kuat, soalnya lagi panas banget."

"Oh iya, Mas." Ole menyanggupi dengan ramah.

Mereka mulai berjalan dengan Rama yang memimpin langkah, kedua tangan pemuda itu tak luput dari satu tas jinjing cukup besar dan sebuah koper. Pandangan Rama mengedar, meneliti pulau padat tersebut yang ternyata tak banyak berubah dari yang terakhir ia ingat. Ia tersenyum kecil. Sedangkan Arum tampak menaruh minat tinggi terhadap pulau itu.

Netra Arum bergirilya kesana-kemari, terheran sekaligus kagum dengan yang ia lihat. Sejauh mata memandang, pulau kecil ini tampak sangat padat. Nyaris semua sudutnya diisi oleh rumah-rumah panggung dengan atap yang saling bersinggungan, tak ada halaman, tampak gersang sebab nyaris tidak ada tumbuhan atau bahkan pohon yang nampak oleh netranya. Aroma asin khas perkampungan nelayan juga turut menyeruak memenuhi indera penciumannya.

Manik cokelat terang Arum terbinar kagum kala melihat beberapa kambing yang dilepas begitu saja seolah kucing liar—nyaris terlihat di sepanjang jalan yang mereka susuri.

"Kambingnya ngunyah plastik?" Arum bergumam takjub.

Rama menoleh ke arah sang istri, menarik senyum melihat keterkejutan yang nampak jelas di wajah Arum. "Di sini ngga ada lahan hijau sama sekali, jadi kambing-kambing ini terbiasa makan sampah."

Arum mengerjap seraya mengangguk saat mendengar penjelasan Rama.

"Kalau dulu, kambing-kambing di sini nguyahnya bukan plastik, Mbak, tapi kertas. Hanya saja sekarang karena apa-apa sudah kebanyakan pakai plastik, jadinya sampah plastik lumayan membuldak, alhasil itu yang jadi sasaran kelaparan kambing-kambing ini." Ole Sang Pemandu ikut bergabung dalam percakapan.

Lagi, Arum mengangguk. "Kalau gitu kenapa masyarakat di sini lebih memilih memelihara kambing, Mas?"

"Biar bisa disembelih, Mbak." Sahut Ole seraya tertawa kecil, "Kalau melihara kucing atau anjing, pakannya susah. Ngga mungkin kucing atau anjing mau nguyah kertas apalagi plastik, lagi pula hewan peliharaan itu juga ngga lazim untuk di makan. Tapi di sini ada juga yang pelihara kucing dan anjing kok Mbak, walau ngga banyak." Sambungnya.

"Tapi anjing sama kucingnya bukan untuk di sembelih juga, kan?" Tanyanya menyuarakan bayangan ngeri yang terlintas di pikirannya.

Ole tertawa kecil, "Walau hampir setiap hari kami makan ikan dan hasil laut lainnya, kami masih belum bosan, Mbak. Jadi anjing sama kucing yang ada di sini cuma dipelihara tanpa diapa-apain." Jelasnya sembari bergurau.

Arum meringis, merasa salah bicara. Ia kembali menatap kambing yang nampak oleh kedua matanya, "Kambing-kambingnya ngga apa-apa makan plastik dan sampah, Mas?" Rupanya topik kambing Pulau Bungin yang gemar memakan plastik masih sangat menarik bagi gadis itu.

TANYA GENGSITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang