Happy Reading~
Sedari awal Arum sudah menduga hal ini. Sejak Rama menyuruhnya untuk menjadi salah satu sekretaris pemuda itu, ia sudah menduga bahwa Rama tidak akan memperlakukannya seperti Giona dan Savitri—dua sekretaris Rama yang lain.
Minggu pertama kala dirinya mulai bekerja sebagai sekretaris suaminya itu, Arum masih cukup memaklumi saat tak ada pekerjaan berarti yang dibebankan padanya. Di minggu pertama hampir semua pekerjaan Arum hanyalah mencetak laporan yang sudah disiapkan oleh Savitri atau Giona, sangat monoton dan kalau Arum boleh jujur lebih baik ia berada di apartment daripada menjadi sekretaris Rama.
Di meja kerjanya, Arum bertumpu tangan. Rasa bosan merangsak membuatnya kian jengah, gadis itu menghela nafas. "Mbak Giona, beneran ngga ada perkerjaan yang bisa aku lakuin selain ngeprint?" Tanyanya pada sekretaris Rama itu yang tampak tengah sibuk dengan tabletnya.
Giona mengalihkan pandangannya sejenak, menatap istri bosnya itu. "Untuk saat ini belum ada, Buk." Jawabnya formal.
Lagi, Arum menghela nafas. "Jangan panggil aku 'Buk', Mbak. Posisiku di sini bahkan lebih rendah karena Mbak seniorku. Lagian yang jadi bosnya itu suamiku, bukan aku Mbak." Ini bukan kali pertama ia meminta pada Giona ataupun Savitri untuk tidak memanggilnya dengan embel-embel 'Buk'.
Seperti yang sudah-sudah, Giona hanya meringis, tak mengiyakan.
Arum menatap Giona, "Aku serius, Mbak. Panggil aku Arum aja, biar lebih akrab. Bicaranya juga ngga perlu formal." Ucapnya serius. "Okey, Mbak?" Kali ini sedikit memaksa.
Giona tersenyum kaku, ia mengangguk ragu. "Akan saya usahakan, Buk—eh, Arum maksudnya."
Arum mengulum senyum, ia mengangguk puas. Gadis itu melirik ke arah iPad Giona, "Lagi ngerjain apa, Mbak?"
Giona melirik iPadnya sejenak, "Ngerangkum hasil rapat tadi."
Mata Arum berbinar, menemukan celah untuk mendapatkan hal yang bisa ia kerjakan. "Boleh aku yang kerjain ngga, Mbak? Kebetulan rapat tadi juga udah aku catet, nanti catatan punyaku bisa dicocokin sama punya Mbak, takut-takut nanti ada hal yang aku lewatin." Arum menyarankan.
Giona tampak jelas sekali sedang memikirkan alasan untuk menolak permintaan Arum. "Maaf ya, Bu—Rum, bukannya saya ngga percaya sama kamu. Tapi kebetulan banget saya udah hampir selesai ngerangkum."
Arum terdiam, menghela nafas berat. Bahunya meluruh mendengar penolakan itu. "Mbak pasti disuruh sama Rama, kan, untuk ngga ngasih aku kerjaan?" Tebaknya.
Giona tampak panik, seolah tertangkap basah. "Bukan gitu, Rum. Akhir-akhir ini memang kebetulan lebih santai dari pada yang sebelum-sebelumnya, jadi ngga terlalu banyak ada kerjaan." Ia memberi alasan.
Lagi, Arum menghela nafas. "Tapi yang aku liat ngga santai banget Mbak, hari ini aja udah ada tiga meeting dan Mbak udah bolak balik ruangan Rama 15 kali. Emang santainya perusahaan ini kayak gitu ya, Mbak?"
Giona kaget mendengar penuturan Arum, terlebih mendengar gadis itu yang mengungkapkan jumlah dirinya keluar masuk ruangan bosnya.
"Mbak ngga usah kaget gitu. Aku ngga ada kerjaan, jadi aku hitung aja setiap kali Mbak bolak balik ruangan Rama. Nih liat." Ujarnya yang lantas menggeser buku kecil yang berisi garis-garis vertikal.
Giona tersenyum kikuk, memilih tak menjawab.
Arum meraup pelan wajahnya, gadis itu lantas berdiri. "Mbak, aku izin masuk ke ruangan Rama ya." Ujarnya.
Giona mengangguk ragu, merasa aneh sebab Arum meminta izinnya hanya untuk masuk ke ruangan suaminya sendiri.
Berdiri di hadapan pintu kaca ruangan milik Rama, Arum mengetuk dua kali sebelum akhirnya mendorong pintu tersebut tanpa menunggu sahutan dari dalam. Arum sudah memastikan bahwa tak ada tamu di ruangan suaminya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
TANYA GENGSI
Roman d'amour19+ | Arum tahu bahwa hidupnya tidak akan baik-baik saja setelah ia sah menjadi istri Rama, si pelaku pembullyan saat dirinya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. ___________ Arkasa Rajendra Rama adalah sosok laki-laki yang mati-matian Arum...
