Happy Reading~
Nyaris sepuluh tahun Maharani Amarayaksa resmi menjadi saudarinya, Arum sama sekali tak pernah membayangkan bahwa kakak tirinya ini akan meminta hal gila kepadanya. Amara ternyata nyaris sama gilanya dengan Rina—Sang Ibu Tiri.
Dalam keadaannya yang tampak sudah rapi dengan balutan gaun cantik yang senada dengan keluarga mempelai, Amara tampak menangis, memohon sejadi-jadinya kepada Arum yang kini tampak pias menatap dirinya. Tangan panas Amara meremat erat kedua tangan Arum yang terasa dingin, tatapannya sendu dan putus asa.
"Arum ... Tolong, lepasin Rama untuk aku. Aku mohon Arum." Lirih gadis muda itu.
Wajah Arum yang sudah terpoles make up sama sekali tak mampu menutupi bagaimana pucat wajahnya ketika mendengar permintaan itu. Arum menatap kakak tirinya dengan pandangan rumit.
"Maksud Kakak gimana?" Gadis itu baru bersuara ketika bungkam cukup lama.
Tatapan Amara terangkat, mata cokelat gelapnya yang tampak basah menatap Arum dengan secercah binar harapan. Gadis itu menarik nafas cepat, jemarinya kian meremat tangan Arum.
"Biarin aku ngegantiin kamu di pernikahan ini. Aku ... aku udah nyiapin semuanya, aku bisa janjiin ke kamu, ngga akan ada yang sadar kalau yang ada di altar nanti adalah aku." Dalam isak yang berusaha ia redam, Amara berucap dengan tergesa.
Arum menatap tak percaya kakak tirinya itu, saking kagetnya ia bahkan tanpa sadar mundur selangkah. Kening Arum tertaut jelas, pandangannya meneliti wajah Amara yang tampak sangat ... menyedihkan. Jantung gadis itu berdegup kencang, merespon kondisi tegang yang tengah melingkupinya.
Arum menggigit bibir bagian dalamnya, menatap Amara dengan memelas. "Kak, tolong jangan kayak gini. Aku—"
Belum selesai Arum dengan ucapannya, Amara terlebih dahulu memotong. "Aku mohon sama kamu, Arum. Aku udah terlanjur cinta sama Rama, lagi pula pernikahan ini harusnya untuk aku. Dari tiga tahun yang lalu, Rama adalah calon suamiku. Aku ... ngga bisa dan ngga rela lihat dia nikah sama perempuan lain. Aku cinta sama dia, Arum."
Isakan kembali terdengar. Wajah Amara menunduk, berusaha meredam tangisnya yang kembali pecah, sakit di hatinya terasa begitu menyesakan. Berbulan-bulan ia tahan perasaan menyakitkan itu dan mencoba merelakan Rama, tapi Amara tidak bisa membohongi dirinya. Ia tetap menginginkan Rama untuk dirinya sendiri.
Arum menunduk sejenak, menarik nafasnya yang terasa tercekat. Bagaimana mungkin ia dihadapkan dengan kondisi seperti ini tepat di hari pernikahannya?
Arum menatap Amara dengan lamat. "Kenapa Kakak sampai senekat ini? Kenapa Kakak ngga bilang sedari awal ke Papa atau bahkan ke keluarga Rajendra? Ini semua ngga bener, Kak. Kakak tau sendiri mereka siapa, kan? Kita ngga bisa seenaknya main-main sama mereka. Kalau aja Kakak dari awal mau jujur tentang perasaan Kakak, mungkin sekarang semuanya akan beda."
Amara terisak, ia sangat sadar dengan semua itu. "Aku akan handle semua itu, Arum. Aku siap dengan semua konsekuensinya. Sekarang, aku cuma butuh kesediaan kamu tentang rencana ini. Tolong, aku mohon."
Arum memejamkan matanya, gadis itu menarik nafas berat. "Gimana sama aku? Aku ngga siap sama semua konsekuensinya, Kak." Ujarnya dengan jujur.
Arum merasa perasaannya kian kalut setiap mendengar permohonan lirih yang Amara layangkan. Semuanya terasa gila. Kenapa baru sekarang Amara menyuarakan keberatannya? Kenapa harus di saat Arum sudah mulai menerima Rama untuk masa depannya? Dan kenapa harus tepat di acara pernikahannya yang akan digelar kurang dari satu jam ke depan?
Tatapan basah Amara terangkat, binar permohonan yang sendu tergambar jelas. "Aku ... aku akan tanggung jawab untuk semuanya. Aku pastiin kamu ngga akan kena masalah, Arum."
KAMU SEDANG MEMBACA
TANYA GENGSI
Literatura Feminina19+ | Arum tahu bahwa hidupnya tidak akan baik-baik saja setelah ia sah menjadi istri Rama, si pelaku pembullyan saat dirinya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. ___________ Arkasa Rajendra Rama adalah sosok laki-laki yang mati-matian Arum...
