a/n: sedikit 18+
Happy Reading 📚
Setelah menikah, Arum jarang sekali mengunjungi rumah keluarganya, justru ia lebih sering menyambangi sang mertua. Padahal jarak apartment tempatnya dan Rama tinggal tergolong lebih dekat dengan lokasi perumahan keluarga gadis itu dari pada keluarga Rajendra. Salah satu alasannya mungkin karena tak ada yang akan menyambutnya dengan tangan terbuka selain sang ayah.
Namun, di hari libur ini, baik ia dan Rama menyanggupi undangan sang ayah untuk sarapan dan menginap selama satu hari di kediaman Maungali. Dan ya! Di sini lah mereka sekarang, duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan. Sarapan bersama.
"Papa dengar Arumaya kembali bekerja, apa itu benar?" Bahran bertanya, mengisi hening yang sempat menguasai meja makan beberapa detik.
Menelan kunyahannya, Arum lantas mengangguk. "Iya, baru sekitar tiga minggu. Itupun sekedar trial jadi sekretaris Rama."
Kedua alis Bahran terangkat satu senti. "Sekretaris Rama?" Tanyanya yang kini memusatkan atensi pada sang menantu.
Rama mengangguk, "Sebenarnya saya kurang setuju waktu Arum bilang ingin kerja lagi karena saya ngga mau dia kelelahan, tapi karena dia lumayan memaksa jadi saya usulkan untuk jadi sekretaris saya aja." Ia melihat peluang untuk mengadu, sebab saat ini pun Rama masih berharap Arum tak lagi bekerja. Alasannya tetap sama, ia tak ingin istrinya kelelahan sebab mengurus rumah sekaligus bekerja bukanlah perkara mudah.
"Saya sempat ngusulin untuk hire ART kalau memang Arum serius mau kerja lagi. Tapi istri saya ini hobinya nolak, katanya dia bisa handle semuanya sendiri." Sambungnya sembari terkekeh ringan di akhir kalimat.
Rama melirik Arum sejenak, seperti dugaannya wajah Arum tampak sengit memandangnya. Ya, mau bagaimana lagi? Dengan mengadu ke mertuanya, Rama menemukan peluang agar Arum menyetujui salah satu dari sarannya. Berhenti bekerja atau mempekerjakan asisten rumah tangga apabila gadis tersebut memang tetap ingin bekerja.
Tatapan Bahran beralih kepada putrinya, "Seharusnya kamu ikuti perkataan suamimu, lagi pula semuanya untuk kebaikan kamu kan, Arumaya?"
Arum sudah menduga ayahnya akan mendukung Rama, gadis itu menghela nafas samar. "Arum belum benar-benar yakin apa setelah ini mau terus kerja atau ngga. Arum pikir dengan setuju kerja jadi sekretaris Rama, Arum ngga bakalan bosen lagi karena Arum udah punya kesibukan. Tapi ternyata sama aja, ngga banyak kerjaan yang bisa Arum kerjain di kantor." Ia melirik Rama dengan raut masamnya yang berusaha gadis itu sembunyikan. "Rama ngga ngizinin Arum kerja selain sama dia, tapi Arum juga ngga yakin kedepannya akan dikasih kerjaan yang benar-benar 'kerjaan' atau ngga. Selama tiga minggu ini rasanya kayak lagi main kantor-kantoran, tapi bedanya ini dapet gaji beneran." Keluhnya.
Di sela kunyahannya, Rama berusaha meredam tawa. Gemas sekali mendengar Arum mengeluh seperti ini.
Bahran terkekeh kecil, "Rama itu berpikir untuk jangka panjang. Mungkin kamu masih belum merasakan karena kalian masih tinggal di apartemen, tapi ketika kalian sudah pindah, kamu pasti akan sadar gimana lelahnya mengurus rumah. Jadi Ibu Rumah Tangga sekaligus bekerja bukan ide yang bagus, Arumaya. Apalagi kalau kalian sudah memiliki anak." Bahran menjeda, menatap putrinya yang tampak tertegun.
"Kamu pasti sudah sering lihat berita perempuan yang depresi karena menjadi IRT, kan? Pada dasarnya itu pekerjaan yang lebih sulit dibanding bekerja kantoran. Apalagi kamu malah ingin menghandle keduanya di saat bersamaan. Kalau kamu memang masih mau bekerja, maka hire ART seperti saran suamimu." Sambungnya.
Arum mengangguk sekenanya sebagai respon. Tak ada hal yang bisa ia lakukan untuk berkilah, apalagi sang ayah sudah bersabda demikian. "Iya, nanti Arum diskusiin lagi sama Rama."
KAMU SEDANG MEMBACA
TANYA GENGSI
Roman d'amour19+ | Arum tahu bahwa hidupnya tidak akan baik-baik saja setelah ia sah menjadi istri Rama, si pelaku pembullyan saat dirinya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. ___________ Arkasa Rajendra Rama adalah sosok laki-laki yang mati-matian Arum...
