Happy Reading ⚘
Pulang dari perjalanan bulan madu mereka yang singkat, baik Rama ataupun Arum sama-sama jatuh sakit. Tidak parah, hanya sebatas tidak enak badan biasa yang mampu disembuhkan dengan obat dari apotik dan beristirahat. Setidaknya begitulah yang dialami Rama, sebab dirinya hanya perlu beristirahat sehari saja dan besoknya pemuda itu merasa sudah cukup bugar untuk menjalani aktivitas kesehariannya seperti sediakala. Sedangkan Arum mengalami gejala demam yang sedikit lebih berat dibandingkan sang suami, namun di hari kedua ia absen dari kantor, badannya sudah kembali membaik.
Baik Arum ataupun Rama meyakini bahwa menurunnya kesehatan mereka akibat perubahan suasana dari tempat mereka berbulan madu. Dari teriknya panas pesisir pantai, tubuh mereka mungkin sedikit syok sebab harus menghadapi dinginnya hawa dataran tinggi Kintamani.
"Masih panas?" Rama bertanya sembari meletakan punggung tangannya di kening Arum.
Arum menggeleng pelan. "Cuma lemes aja. Dikit." Balasnya.
Kening Rama tertaut. "Masih anget gini badannya. Besok jangan dulu ikut ngantor ya? Istirahat, kalau masih belum mendingan juga, kita ke dokter. Ngga boleh ngebantah." Ujarnya sebab ia tahu bahwa Arum pasti sudah merencanakan untuk kembali bekerja besok.
Wajah Arum merenggut jelas, sangat tak setuju dengan keputusan sepihak Rama. "Aku udah baik-baik aja kok, besok pasti lebih fit lagi. Aku ngga enak libur terus." Balasnya.
Rama merenggangkan dasinya—ia masih mengenakan pakaian kerjanya sebab baru saja pulang dari kantor—lantas berkacak pinggang sembari menatap sang istri. "Mau kamu libur satu bulan juga ngga masalah, Sayang. Aku ..." Ia menunjuk dirinya sendiri. "Suami kamu yang punya kantornya. Ngga ada yang berani marahin kamu cuma karena izin sakit dua-tiga hari aja." Ia memberi pengertian.
Masih kukuh menolak perkataan Rama, Arum berdebat. "Justru karena itu. Aku makin ngga enak, nanti dikiranya aku memanfaatkan posisi kamu seenaknya. Kerja, kan, harus profesional Rama."
Rama menghela nafas, "Kalau gitu berhenti kerja, biar kamu bisa full istirahat dan ngga perlu over-thinking tentang pemikiran orang-orang kantor ke kamu." Balasnya.
Arum mendongak, memandang sengit sang suami yang kini memandangnya dengan raut begitu serius. "Kamu mau mecat aku?"
Rama mengedikan bahu, "Kalau kamu terus-terusan keras kepala gini."
Kening Arum semakin tertaut jelas, suasana hatinya terasa kian memburuk kala mendengar jawaban Rama. "Kamu emang pengen aku berhenti dari lama, kan? Tapi kamu baru nemu peluangnya sekarang." Tuduhnya.
Lagi, Rama mengedikkan bahu. "Kamu udah tau hal itu dari awal, kan? Aku ngga pernah setuju kamu kerja lagi, karena semua kebutuhan kamu bisa aku penuhi. Apapun itu." Ah, untuk yang kali ini Rama merasa ia harus menang berdebat dari istrinya ini.
Dada Arum bergemuruh, rasanya marah dan kesal seolah merangsak relung hatinya. "Kenapa kamu jadi nyebelin gini sih?"
Rama menarik nafas pelan, memandang sang istri dengan lamat. "Dan kenapa kamu akhir-akhir ini keras kepala banget? Selalu mau menang sendiri, pendapat dan keinginan kamu harus selalu aku dengar?"
Arum tak menjawab, ia memilih membuang muka. Menurutnya perkataan Rama terlalu berlebihan, selalu mau menang sendiri seperti apa yang pemuda itu maksud? Ah, berdekatan dengan Rama disaat kondisi mereka sedang sama-sama sumbu pendek seperti ini adalah hal yang perlu hindari karena jika dibiarkan pertengkaran kecil ini mungkin akan membesar tanpa mereka sadari.
Arum menghela nafas jengah, lantas berdiri dari duduknya di atas ranjang dan berjalan meninggalkan Rama yang bergeming menatapnya dengan raut heran.
"Mau kemana?" Suara Rama terdengar, sedangkan Arum enggan menjawab. Gadis itu terus melangkah hendak meninggalkan kamar mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
TANYA GENGSI
Romance19+ | Arum tahu bahwa hidupnya tidak akan baik-baik saja setelah ia sah menjadi istri Rama, si pelaku pembullyan saat dirinya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. ___________ Arkasa Rajendra Rama adalah sosok laki-laki yang mati-matian Arum...
