chapter ini ga ada notif ya? akunku kayaknya lagi error, tiap aku update atau kalian ngevote ceritaku, ga ada notifikasinya 😓
Happy Reading 📚
Amanda pernah bilang bahwa kedepannya ia dan Arum akan lebih sering bertemu. Dan menurut Arum, ternyata hal tersebut memang benar adanya. Di minggu ini, ia dan aktris muda tersebut sudah bertemu sebanyak tiga kali. Kali ketiganya adalah saat ini, di mana Arum harus menemani Amanda menemui supervisor divisi marketing di lantai dua.
"Kebetulan Pak Darma sedang ada meeting, tapi kemungkinan sebentar lagi selesai. Sekiranya apa bisa menunggu sebentar, Bu?" Tanya seorang staf divisi marketing, Jio namanya.
Arum menolehkan kepalanya pada Amanda, meminta persetujuan gadis tersebut. "Ngga masalah?"
Amanda mengangguk, "Bisa kok, kebetulan meeting sama Pak Darma itu jadwal terakhir gue hari ini."
"Baik, mari saya antar ke waiting room." Jio mendahului langkah, berjalan menuju ruangan dengan kaca transparan. Perempuan itu mempersilahkan Arum, Amanda, dan Dimas-asisten Amanda, untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. "Kalau begitu saja tinggal dulu ya, Bu. Mungkin sekitar lima belas menit lagi meetingnya selesai." Ucap gadis berambut bob itu.
Arum mengangguk, "Terimakasih." Balasnya.
Kala mereka telah duduk di sofa, Dimas si asisten kemayu Amanda tak kuasa menahan diri untuk bertanya pada si aktris. Ia berbisik, "Ini yang yey bilang istrinya Rama si Rajendra-Rajendra itu, kan?"
Amanda memutar bola matanya malas, "Lo niat bisik-bisik ngga sih, Dim? Ngga sekalian bisik-bisiknya pakai toa?"
Amanda lantas menatap Arum yang termangu canggung dalam posisi duduknya, tentu saja istri Rama itu dapat mendengar ucapan Dimas. "Rum, sorry ya. Asisten gue ini emang agak-agak gini orangnya."
Arum menarik senyum kaku, mengangguk sekenanya sembari menatap Dimas yang kini menumpu kaki kanannya di atas kaki kiri sembari melengos dengan gerik gemulainya. "Emang yey pikir eyke orang gila perempatan Delima? Enak aja tuh bibir alemsyong kalau ngomong." Ucap pada Amanda.
Dimas mengalihkan pandangannya pada Arum, raut wajahnya kian cerah. "Buk Arum ini beneran istrinya Rama-Rama itu, kan? Yang rumornya jadi hak waris KARNIKA itu?" Tanyanya berusaha menjaga tutur katanya.
Arum mengangguk sekali, "Ia, saya istrinya."
"Alamak! Beneran udah punya istri. Padahal eyke niatnya mau naksir doi. Suami yey gantengnya udah kayak sambala-sambala sambalado-nya Ayu Ting Ting itu lho. Hot-nya ngalahin Chiko Jeriko, aduhai dibikin lemah hati ini." Dimas berseru dramatis sembari memegang dadanya, tak lagi mampu mengontrol tutur katanya.
Arum hilang kata untuk membalas ucapan asisten Amanda itu yang sangat dramatis. Ia hanya mampu menarik senyum kakunya.
"Eh! Mau belum beristri pun, Rama mana mau sama cacing kepanasan kayak lo. Cintanya udah paten ke Arum." Sahut Amanda.
Dimas tentu saja tidak tersinggung oleh setiap ucapan Amanda yang memang terdengar kasar bagi orang awam, sebab pada dasarnya mereka memang suka saling menghina satu sama lain-namun hanya dalam konteks candaan semata.
Mendengar perkataan Amanda, Dimas tampak menaruh minat. Ia menatap Arum penasaran, "Ihh, jangan bilang dese alasan percintaan yey trulala waktu SMA dulu?"
Kening Arum mengeryit, tak paham dengan bahasa yang digunakan oleh laki-laki gemulai itu. "Maksudnya?"
Plak! Itu suara yang dihasilkan dari geplakan Amanda pada bahu Dimas, tak keras.
KAMU SEDANG MEMBACA
TANYA GENGSI
Romance19+ | Arum tahu bahwa hidupnya tidak akan baik-baik saja setelah ia sah menjadi istri Rama, si pelaku pembullyan saat dirinya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. ___________ Arkasa Rajendra Rama adalah sosok laki-laki yang mati-matian Arum...
