Matahari sudah semakin tinggi, tapi tak membuat kedua insan yang sedang berpelukan diatas kasur untuk membuka matanya dan bangun dari tidur mereka. Beberapa kali handphone mereka berbunyi pun tak membuat mereka berdua untuk bangun, hingga sebuah ketukan kencang pada pintu kamar mulai membuat mereka terusik.
Cikal membuka matanya perlahan dan bangun dari tidurnya, suara ketukan semakin kencang membuat Cikal mengusap wajahnya kasar. Mungkin baru sekitar 3 jam diri nya dan Kinara tertidur, tapi sudah diganggu saja.
Cikal menurunkan kakinya dari kasur untuk memakai pakaian dan membuka pintu, namun langkahnya terhenti kala pintu terbuka lebar dan menunjukkan Adrian dan Kiky yang menatapnya tajam.
"Papah telfonin dari tadi kenapa tidak diangkat-angkat," Ujar Kiky dengan nada sedikit marah.
Melihat Kinara yang sedikit terganggu membuat Cikal langsung berdiri dan berjalan menghampiri Kiky serta Adrian, namun aneh nya kedua pria paruh baya itu malah membalikan badannya memunggungi Cikal.
"Kita bicara diluar, kasian Kinara biar istirahat dulu," Ujar Cikal sambil berjalan menghampiri Kiky dan Adrian, namun langkah nya terhenti saat mendengar ucapan Kiky.
"Pakai dulu celana dalam dan pakaian mu, dasar anak mesum," Ujar Kiky sambil berjalan keluar yang diikuti Adrian.
Cikal diam mematung dan melihat dirinya yang masih telanjang tanpa sehelai kain pun yang menutupi, pantas saja papah dan mertuanya membalik badan. Padahal mereka berdua pun memiliki burung yang sama seperti Cikal, atau mungkin mereka berdua malu karna milik Cikal lebih gagah dan besar daripada milik mereka berdua yang sudah mulai keriput dan loyo. Membayangkan itu membuat Cikal refleks ketawa, memang kurang ajar Cikal. Baru jam 10 pagi tapi pikirannya sudah kemana saja.
Dengan cepat Cikal memakai celana dalam dan pakaiannya yang ada dilantai, sebelum keluar dari kamar dan menemui Kiky serta Adrian yang menunggunya.
Tepat didepan pintu, Kiky dan Adrian berdiri sambil menyender pada dinding hotel. Saling pandang lalu menegakkan tubuh mereka saat Cikal sudah berdiri tepat dihadapan mereka, yang pasti sudah berpakaian lengkap tidak seperti tadi.
"Ada apa?" Tanya Cikal.
"Kinara masih tidur?" Adrian bertanya balik, yang hanya dibalas deheman saja oleh Cikal.
"Jadi gini, tujuan papah dan Adrian kesini karna ada hal yang harus dibicarakan sekarang juga," Ujar Kiky dengan wajah serius.
"Ada apa?"
"Sesuatu kekacauan terjadi pada cabang perusahaan milik Adrian di singapore," Ujar Kiky.
"Lalu?" Tanya Cikal sambil mengangkat alis nya sebelah.
"Papah dan Adrian harus kesana sekarang juga, pesawat kita berdua akan terbang dalam waktu kurang dari 1 jam lagi. Papah minta agar kamu mengurus perusahaan disini se---"
"Cikal ga bisa pah, kan aku udah pernah bilang kalo aku ga berminat untuk meneruskan pekerjaan papah," Jawab Cikal dengan raut wajah serius. "Aku ingin mandiri dengan usaha aku sendiri, makanya aku memilih membuka usaha sendiri daripada bergantung pada papah sepenuhnya,"
"Kinara, dia setuju untuk meneruskan perusahaan membantu saya. Kami sudah membicarakannya kemarin, saya harap kamu membantu Kinara dalam mengelola perusahaan karna kami berdua sungguh harus pergi dan menyelesaikan kekacauan bersama," Ujar Adrian.
Cikal menghela nafas pelan, ia menolak keras keinginan Kiky tapi Kinara menerima permintaan Adrian. "Sampai kapan?"
"Tidak tau," jawab Kiky dan Adrian bersamaan.
"Oke, aku akan coba untuk membantu sebisa nya aku. Kalian berdua pun tau kalo aku masih mahasiswa , bahkan skirpsi pun belum buat," Ujar Cikal dengan wajah pasrahnya.
"Saya percaya Kinara sebenarnya mampu menangani semuanya, tapi saya minta agar kamu bantu untuk meringankan pekerjaannya,"
Cikal mengangguk mengerti membuat Kiky dan Adrian menepuk lengan atas Cikal, sebelum mereka pergi dengan berjalan cepat meninggalkan Cikal sendiri didepan kamar hotel.
Cikal pun kembali masuk ke kamar hotel , dan menghampiri Kinara yang baru saja bangun dari tidur nya. Dikecup lembut kening Kinara, dan memeluknya pelan.
"Darimana?" Tanya Kinara sambil mengucek matanya.
"Dari luar, tadi papah dan Pak Adrian datang kesini," Jawab Cikal.
"Ada apa?"
Cikal pun menjelaskan semua nya dan Kinara mengangguk pertanda paham.
"Kita pulang sekarang," Kinara turun dari kasur dan berjalan menuju walkin closet, namun langkahnya terhenti kala Cikal mengendongnya dengan cepat. "Jangan bilang...."
"1 ronde," Ujar Cikal membuat Kinara menatap tak percaya.
Apa mungkin dirinya yang sudah semakin tua atau memang nafsu Cikal yang terlalu tinggi? Jujur Kinara cukup kewalahan menghadapi Cikal yang sedang di tahapan dewasanya, bisa-bisa Langit memiliki adik dalam waktu dekat.
***
Kini Kinara sudah berada diruangan Adrian, ya meski Cikal menolak keras tapi Kinara tetap lah Kinara. Ia memilih untuk menuju perusahaan Adrian dan mengurus pekerjaan papah nya yang belum selesai, sedangkan Cikal hanya terduduk disofa panjang sambil memainkan handphone nya.
"Kalo cuma mau leha-leha lebih baik pulang saja," Ujar Kinara tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas diatas meja.
"Mbak kita ini pengantin baru loh, bisa-bisa nya lo malah ngangggurin gue dan lebih milih tumpukan kertas itu," Jawab Cikal dengan nada jengkel.
Kinara menatap Cikal yang kini sudah menutup wajahnya dengan lengan, mau bagaimana lagi Kinara pun harus mengurus dokumen penting ini yang belum sempat diselesaikan oleh Adrian. Kinara pun berjalan menghampiri Cikal dan mengecup pelan keningnya, membuat Cikal menurunkan tangannya dan menatap Kinara.
"Gue itu ngerajuk, tapi lo malah ngusir," Cikal menarik tubuh Kinara hingga jatuh dan terduduk diatas pangkuan Cikal.
"Bukan ngusir, daripada jenuh disini lebih baik pulang bermain dengan Langit dirumah atau kumpul dengan teman-teman mu," Ujar Kinara.
Cikal menggelengkan kepala pelan, dan menjatuhkan wajahnya tepat didada Kinara membuat sang empunya melotot kaget. Ini bukan dirumah ataupun hotel, tapi ini ruangan Adrian yang Kinara yakin sekali pasti ada cctv dan bagaimana jika Adrian memergoki mereka.
"Cikal, jangan kaya gitu. Ini diruangan bapak bukan dikamar," Ujar Kinara mencoba menjauhkan wajah Cikal dari dadanya namun nihil, tenaga Cikal lebih kuat dari dirinya.
"Biarin aja, orang yang punya ruangannya juga ga ada," Jawab Cikal dan mulai mencium bibir Kinara.
Diemut pelan bibir Kinara, tidak lupa kedua tangannya yang semakin mempererat posisi Kinara. Kini tubuh mereka berdua menempel tidak ada celah.
"Eungh," Kinara melenguh pelan disela ciuman mereka, ulah tangan Cikal yang sudah meremas nikmat payudara Kinara.
Satu kancing
Dua kancing
Tig---
Drrrttt, drrttt
"Cik...al," Panggil Kinara disela ciuman mereka, tapi diabaikan.
Drrttt, drrtttt
Handphone Cikal dan Kinara terus bergetar namun tetap diabaikan oleh Cikal, hingga sebuah ketukan terdengar dari balik pintu.
Kinara pun sekuat tenaga mendorong Cikal, dan bangkit dari posisinya. Tidak lupa membereskan dulu pakaiannya sebelum membuka pintu, dan terlihat sekretasi Adrian berdiri mematung.
"Maaf bu, pak Adrian menyuruh saya untuk bicara pada ibu agar mengangkat panggilan teleponnya," Ujar nya yang langsung belalu dan duduk kembali ke kursinya.
Kinara menutup kembali pintu dan menatap Cikal yang sedang duduk disofa sembari memegangi handphone.
"Kenapa?" Tanya Kinara pada Cikal.
"Ini dua orang tua nelfonin," Jawab Cikal.
"Angkat dong, siapa tau penting,"
Dengan malas Cikal menslide tombol hijau dilayar handphone, terdengar suara nyaring Adrian membuat Cikal dan Kinara diam mematung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sssttt Mbak!
RandomBELUM REVISI! TYPO BERTEBARAN NOTES! 🤞🙏 **************************************** Kinara Ayu (28thn), seorang sekretaris disebuah perusahaan swasta yang sedang berkembang. Anak tunggal yang jauh dari sanak saudara. Wanita yang manis, perfectsionis...
