Empat Puluh Delapan

1.5K 57 1
                                        

Kini Cikal dan Kinara sedang berdiri di balkon kamar Cikal, setelah drama Langit yang tak ingin pulang dalam arti masih ingin menginap dirumah kakek nenek nya namun harus ditemani kedua orang tua akhirnya Cikal dan Kinara mengalah. Meskipun pasangan suami istri itu heran, anaknya merengek pada mereka untuk ikut menginap namun lihat lah malah sekarang tak ingin tidur bersama dikamar malah tidur dikamar adik bungsu Cikal yang kini sudah duduk di bangku kelas 3 SD.

"Mbak," Cikal memanggil Kinara pelan. "Inget ga kalo aku dulu suka ke kamar kamu lewat jalan kecil itu," Cikal menunjuk tembok yang menghubung dengan kamar Kinara dulu, hanya ada lahan sedikit untuk berpijak namun hebat nya Cikal tidak pernah jatuh.

"Kek maling banget, mana mesum lagi," Kinara berdecak jika mengingat kelakuannya Cikal dulu.

Cikal tertawa renyah. "Pesona mbak itu ga bisa di tolak tau, sangat bikin aku jatuh cinta," Dengan gemas Cikal mencubit pipi Kinara yang kini lebih berisi.

"Tapi ga diem-diem juga! Gila banget kek maling lo!" Kinara memukul keras pundak Cikal hingga meringis pelan.

"Sorry deh sorry," Cikal memeluk Kinara dari samping dan menyimpan dagu nya pada pundak istrinya itu. "Maaf ya kalo dulu banyak banget salahnya, tapi jangan sampe nganggep kalo Langit kesalahan," Cikal menatap Kinara lekat.

"Langit itu kesalahan paling indah dalam hidup aku. Dari Langit aku banyak belajar tentang hidup, kalo ga ada Langit mungkin hidup aku ga tau gimana," Kinara mengangkat kepala nya sedikit menatap bulan yang bersinar terang malam ini.

"Maafin aku, selama masa sulit kamu aku ga ada disamping kamu," Cikal mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajah nya pada pundak Kinara.

"Yang lalu udah biar berlalu aja, sekarang kita fokus aja sama masa depan," Kinara mengusap lembut tangan Cikal yang memeluknya erat.

Cikal mengangkat kepalanya, memutar tubuh Kinara menjadi berhadapan dengannya. "Kalo kaya gitu," Cikal mengangkat Kinara, membuat istrinya itu refleks mengalungkan kedua lengannya pada leher Cikal. "Kita lanjut program baby twins,"

Cikal menggendong Kinara ala koala masuk kedalam kamar, menjatuhkan perlahan diatas kasur. Kesempatan emas tidak akan Cikal lewatkan begitu saja, menghasilkan keringat sebanyak-banyaknya dan mendengarkan lenguhan candu dari mulut istrinya malam ini tanpa gangguan dari sang anak.

***

2 bulan berlalu, hari-hari Cikal dan Kinara kini semakin berwarna dengan Langit yang mulai jelas dalam berbicara dan banyak tingkah ajaib nya yang kini tanpa harus khawatir akan kelelahan. Keluarga kecil itu sedang tiduran diatas karpet didepan TV, sesekali bercanda gurau tak lupa Langit yang terkadang merengek ulah jahil nya Cikal.

"Sssttt," Bisik Cikal tepat ditelinga Kinara. "Malam ini malam jum'at, tidurin Langit lebih awal ya,"

Kinara hanya memutar bola mata nya malas, ia hanya membalas dengan deheman saja karna mau beralasan bagaimanapun selalu kalah oleh Cikal yang memiliki berjuta-juta cara untuk mendapatkan Kinara dibawah kungkungannya.

"Kaya nya sate dragon enak ya," Celetuk Cikal membuat kening Kinara mengkerut.

"Mana ada sate dragon, jangan ngaco deh," Kinara bangkit dari posisi tidurannya dan duduk sembari merapihkan ikatan rambutnya.

"Kalo gitu soto kadal gimana?" Tanya Cikal yang kini sudah ikut duduk disamping Kinara.

"Ck! Mana ada Cikal, jangan aneh-aneh deh udah hampir jam 8 malem ini. Mending tidur," Kinara mengambil remot dan mengganti saluran TV.

"Tapi aku beneran pingin banget sayang, kalo ga sate dragon ya soto kadal," Cikal merengek seraya menggesekan wajahnya pada punggung Kinara.

"Cari aja sendiri sana, aku mau nidurin Langit," Kinara membereskan mainan Langit. "Kita tidur ya nak, sudah malam," Lanjutnya yang diangguki kepala oleh Langit.

Kinara menggendong Langit, membawa nya ke dalam kamar mandi untuk bebersih dulu sebelum tidur. Cikal masih memberengut kesal melihat Kinara yang mencueki nya, mengambil jaket dan kunci motor Cikal pun berlalu pergi keluar rumah. Ia mencoba untuk mencari sendiri makanan yang sangat ia ingin saat ini.

Kinara hanya menggelengkan kepala saja kala mendengar suara motor Cikal keluar dari pekarangan rumah, sebenarnya Kinara cukup pusing dengan tingkah laku suami-nya itu akhir-akhir ini. Selalu ada saja celetukan yang keluar dari mulut suami-nya itu, dan barusan yang sangat parah. Sate dragon? Soto kadal? Kinara memijit pelipisnya pelan, mana ada yang jual makanan random itu.

Teringat sesuatu, Kinara mengambil Hp dan membuka salah satu aplikasi. Apa mungkin? ah Kinara harus memastikannya terlebih dahulu setelah Langit tidur.

***

Hampir satu jam berkeliling akhir nya Cikal memarkirkan motornya dipekarangan rumah Andra, dengan wajah murungnya Cikal memasuki rumah itu yang pintu nya terbuka sebelah. Menyalimi kedua orang tua sahabatnya itu yang sedang duduk diruang tengah, sebelum berjalan menaiki tangga memasuki kamar Andra.

"Kenapa muka lo? Ga dapet jatah?" Tanya Andra sambil memakan kuaci.

Cikal tak menjawab, ia membaringkan badannya dilantai menatap langit-langit kamar. "Gue pingin sate dragon atau engga soto kadal,"

Uhuk uhuk.

Brak.

Perkataan Cikal sukses membuat Andra tersedak kuaci, sedangkan Riki dan Hafidz refleks menjatuhkan stick PS yang sedang mereka mainkan.

"Bantuin gueeeeee hiks hiks hiks pingin sate dragoooonnnn," Cikal menangis dengan kaki yang ia tendang tendang dengan sesekali membolak balikkan badannya.

"Lo kenapa njir," Andra berdiri menjauh dari Cikal, sial ia takut melihat kelakuan sahabatnya itu.

"Kayanya Cikal kerasukan tuyul gede yang suka mangkal dibawah pohon toge depan komplek," Riki mendekati Andra  untuk menjauh dari Cikal, mengingat sekarang malam jum'at dan Cikal bertingkah aneh.

Hafidz menghela nafas pelan dan menaiki kasur sedikit membungkuk menatap wajah Cikal. "Lo kenapa bege? Datang-datang pingin sate dragon,"

"Hiks hiks Pi-pingin sate dragon Fidz hiks hiks ta-tapi Kinara nolak, hiks hiks katanya cari aja sendiri huaaaa," Tangis Cikal semakin menjadi membuat ketiga sahabatnya itu semakin melongo.

"Gila," gumam Andra, Riki, dan Hafidz sambil menatap Cikal.

Hafidz pun turun perlahan, membantu Cikal duduk dan memeluknya dengan tangan mengusap punggung pelan. "Cup cup cup jangan nangis ya, kita cari sate dragon sama soto kadal sekarang. Tapi lo jangan nangis,"

Ucapan Hafidz sukses membuat Cikal berhenti, dengan antusias menganggukan kepalanya dan menarik lengan Hafidz untuk berdiri. Tanpa bicara Cikala menarik lengan Hafidz keluar kamar, tak lupa Hafidz menarik lengan Riki dan Riki menarik lengan Andra. Sesampainya didepan rumah, Cikal langsung menaiki motornya yang diikuti oleh Hafidz dan yang lainnya menaiki motor masing-masing. Namun, lagi-lagi Cikal menangis.

"Kenapa lagi sih?" Ujar Andra gemas melihat Cikal.

"Hiks hiks ma-mau dempat nyari nya," Cicit Cikal namun masih terdengar oleh Riki.

"Lo gila?! Mana bisa pake motor dempet empat anjing! Badan kita udah pada gede gini," Riki menatap Cikal tajam.

Hafidz dan Andra mengusap punggung Riki yang mulai emosi oleh tingkah laku Cikal. "Sabar Ki sabar, orang sabar jodohnya spek IU," ujar Andra.

"Kal mana bisa dempet empat dimotor, masing-masing aja oke? Atau 2 motor gimana? saling bonceng," Hafidz berjalan mendekati Cikal yang masih sesenggukan, namun Cikal menggeleng kepalanya cepat.

"Hiks hiks gu-gue pingin dempet empat Fidz, hik hiks pake motor yang mana aja hiks asal dempet empat," Cikal menutup kedua wajahnya dan menjatuhkannya pada stang motor.

Boleh kah Hafidz memukul kepala Cikal dengan kencang sekarang?

.

.

.

.

.

Ada yang mau mewakilkan Hafidz untuk memukul Cikal? 🙂


Jangan lupa vote dan komennya😘

Sssttt Mbak!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang