Cikal berjalan memasuki rumah, duduk disamping papah nya yang sedang menonton tv dengan secangkir kopi ditangannya.
"Pah," Panggil Cikal tanpa melepaskan pandangannya pada Kiky.
"Apa?" Jawab Kiky tanpa mengalihkan pandangan dari tv.
"Pah, dari pada Langit punya adik sebelum akad nikah lebih baik akad nikah nya dipercepat pah,"
Kiky tersedak kopi yang baru saja masuk ke mulut nya, dia melotot tak percaya pada anak sulung nya itu. "Maksud kamu apa?"
"Iya dari pada Langit punya adik dalam waktu dekat sebelum akad nikah, bukankah lebih baik akad nikah nya dipercepat besok biar punya adik nya setelah akad," Cikal menjelaskan kembali pada Kiky.
"Kamu y---,"
"Cikal pamit ke kamar pah," Secepat kilat Cikal berlari pergi menuju kamar nya yang berada dilantai 2 sebelum mendapatkan amukan dari papah nya.
Cikal membaringkan tubuh nya diatas kasur, menatap langit dengan senyuman lebar. Ah benar-benar tidak sabar untuk meminang Kinara kan kalo seperti ini cerita nya, Cikal harus kuat-kuatin iman hingga 2 bulan ke depan.
Tok. Tok. Tok
Cikal bangkit dan membuka pintu, terlihat Kiky dengan wajah yang sulit diartikan. Cikal melangkah mundur kala papah nya itu berjalan memasuki kamar nya, Cikal harus terima jika ia akan di amuk oleh papah nya sekarang.
"Maksud dari ucapan kamu tadi apa?" Tanya Kiky to the point.
"Bukan apa-apa pah," Cikal menjawab sambil mengalihkan pandangannya pada kaca jendela.
"Jadi kamu ga akan memberi tahu papah hm?" Tanya Kiky lagi.
"Paaahh, aku mana tahan liat mbak Kinara tiap hari," Ujar Cikal dengan nada merajuk, sudah tanggung ini lebih baik Cikal pun to the point saja.
"Kamu ini ya!" Kiky menjewer telinga Cikal dan menatapnya tajam. "Jangan macem-macem dulu sama Kinara, papah ga mau nanti Adrian mengamuk gara-gara kelakuan kamu,"
"Kalo Kinara yang bilang ke om Adrian kira-kira bakal dituruti ga ya buat akad nikah nya dimajuin?" Cikal menatap Kiky dengan penuh harap.
"Coba aja kalo bisa," Jawab Kiky sambil berlalu pergi meninggalkan Cikal.
Cikal pun memberengut kesal, bukannya membantu anak sulungnya malah berlalu pergi setelah menjewer telinganya. Cikal pun kembali membaringkan badannya diatas kasur, mungkin besok ia harus mencoba untuk membujuk Kinara agar meminta pada Adrian menikahkan mereka lebih cepat.
***
Esok harinya, setelah selesai kuliah Cikal pergi mengecek usaha kecil milik nya yang semakin hari semakin ramai penjualan. Setelah selesai Cikal pergi untuk menemui Kinara dirumahnya, tidak lupa membeli sebuket bunga mawar putih.
Sesampainya dipekarangan rumah Kinara, Cikal berjalan dengan pelan karna melihat ada mobil Adrian terparkir didepan. Dengan senyum yang dipaksakan lebar, Cikal berjalan memasuki rumah yang ternyata sudah ada para orang tua - Adrian, Mawar, Kiky, Sofia, Arki, Inara dan ada dua orang lainnya yang Cikal tidak kenal.
"Assalammualaikum," Cikal menyalimi tangan semua orang tua didalam rumah dan duduk disamping Kiky. "Pah ada apa ini?" Tanya Cikal pelan pada papahnya itu.
"Kamu!" Adrian menunjuk Cikal dan menatap dengan tajam. "Apa yang sudah kamu lakukan ke Kinara hm??"
Cikal diam terpaku, apa mungkin kelakukannya yang kemarin sudah diketahui semua orang? Ia tidak akan dipukuli atau bahkan dipenjara bukan? Segala pikiran buruk terlintas dipikiran Cikal, hingga cubitan Kiky pada pahanya membuat Cikal kembali sadar.
"Pah! Sakit tau," Ujar Cikal dan menatap Kiky dengan tajam.
"Ditanya sama Adrian tuh jawab bukan diem, kaya punya dosa aja," Balas Kiky dengan senyuman miring.
Cikal semakin tajam menatap Kiky yang akhirnya hanya menghela nafas pelan, kelakuan papahnya ada aja yang ngebuat Cikal ingin bertengkar dengannya. Cikal menatap Adrian dengan raut wajah yang sebisa mungkin dibuat normal, dan tidak terlihat tegang apalagi terlihat memiliki dosa.
"Maksud om apa ya? Aku kurang paham sama pertanyaannya tadi," Ujar Cikal mencoba tenang, meski sebenarnya ia gelisah.
"Kamu ga macem-macem ke Kinara kan?" Tanya Adrian lagi.
Tubuh Cikal menegang, ia pun menatap Kinara yang ternyata hanya menundukkan kepalanya. "Yang maksud om macem-macem itu apa?" Cikal balik bertanya.
"Soalnya om ga percaya kalo kamu ga macem-macem ke Kinara, karna tidak mungkin Kinara meminta om untuk memajukan akad nikah kalian segera jika tidak ada apa-apa,"
Cikal tersenyum lebar mendengar ucapan Adrian, Cikal jadi tidak perlu merayu Kinara agar dinikahkan lebih cepat. Ternyata Kinara sendiri sudah bertindak lebih dulu tanpa perlu Cikal memohon.
"Berarti memang Kinara yang ga bisa hidup tanpa aku om, jadi lebih baik turuti aja kemauan Kinara deh kata aku mah," Jawab Cikal dengan santai.
"Mana yang kemarin memohon unt--- Aaaaww kurang ajar kamu!" Kiky menatap Cikal tajam , karna ulah Cikal yang mencubit pinggangnya membuat Kiky tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Adrian menatap Cikal tak percaya. "Kamu yakin nak? Ini bukan mempercepat 1 bulan atau 1 minggu tapi kamu meminta untuk dipercepat hari ini juga, kamu yakin?" Adrian bertanya pada Kinara lebih memastikan lagi.
Kinara menganggukan kepalanya pelan dan menatap Adrian dengan senyuman tulus. "Bapak, lebih cepat lebih bagus bukan? Aku ingin menghindari fitnah tetangga karna Cikal yang terus datang kesini hampir setiap hari bahkan terkadang hingga larut disini, meski tidak berduaan ada Bapak Ibu dan Langit. Tapi aku berpikir mungkin akad dulu lebih baik , dan juga menghindari dosa-dosa kecil yang tidak disadari," Ujar Kinara.
Semua orang terdiam mendengar perkataan Kinara, ada benarnya juga. Menghindari fitnah dan dosa-dosa kecil yang tidak disadari itu lebih penting.
"Baik lah kalau begitu, mari kita mulai pak akad nikahnya," Ujar Adrian pada dua orang pria paruh baya yang ternyata seorang penghulu dan pengurus KUA.
"Jadi aku dan Kinara akad sekarang pah?" Tanya Cikal pada Kiky dan mendapat anggukan kecil. "Tapi aku belum beli mahar nya,"
"Nih, mamah dan papah sudah membawa semuanya," Sofia mengasongkan kotak besar yang sudah dihias cantik.
Cikal terdiam melihat isinya. Ada seperangkat alat shalat, sebuah Al-Qur'an berukuran sedang, dan emas antam 50 gram ditengah tengah. Cikal menatap papah dan mamah nya yang tersenyum hangat dan memeluk mereka berdua, yang tak lama dilepas lalu memposisikan tubuhnya dihadapan Adrian.
Dengan fokus Cikal mendengarkan setiap petuah dari penghulu sambil mengisi berkas pernikahan, karna mereka belum mengurus surat-surat jadi dibuat mendadak saat itu juga.
Kinara tersenyum kecil melihat Cikal yang sedang dalam mode serius, sangat terlihat dewasa dan tampan. Kinara tak menyangka jika akhirnya ia bisa jatuh cinta pada bocah yang dulu ia temui di mini market hanya karna ia kurang membawa uang untuk membayar belanjaannya. Takdir memang tidak bisa ditebak kemana alurnya, benar kata orang-orang jika semakin menolak terkadang malah semakin didekatkan oleh tuhan.
"Mbak, siap?" Cikal bertanya pada Kinara dengan senyuman lebarnya.
"Aku siap," Kinara menjawab dengan senyuman tipis malu tidak selebar seperti Cikal.
"Mari kita mulai," Adrian menjabat tangan Cikal untuk memulai prosesi akad nikah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sssttt Mbak!
De TodoBELUM REVISI! TYPO BERTEBARAN NOTES! 🤞🙏 **************************************** Kinara Ayu (28thn), seorang sekretaris disebuah perusahaan swasta yang sedang berkembang. Anak tunggal yang jauh dari sanak saudara. Wanita yang manis, perfectsionis...
