Empat Puluh Tujuh

1.3K 46 0
                                        

Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi , dan kini mereka sudah berdiri di pintu masuk bandara. Ya, Hafidz memaksa agar Andra, Riki, Cikal ikut mengantar kepergian Keysa yang sementara waktu akan tinggal di pulau yang berbeda. Dan jangan lupakan, jika ada Cikal pasti ada Kinara dan Langit disana yang jelas dengan paksaan Cikal pastinya.

"Selalu kabari gue ya Key," Hafidz mengusap pelan pucuk kepala Keysa.

Keysa tersenyum sedikit mengadahkan kepalanya menatap Hafidz yang lebih tinggi darinya. "Lo beneran bakal nunggu gue kan?"

"Pasti. Gue pasti selalu nunggu lo kapanpun itu Key," Hafidz memeluk Keysa, berat rasa nya tapi ia tak memiliki hak untuk menahan wanita itu.

Keysa melepaskan pelukan Hafidz, menatap satu persatu orang dihadapannya. Ada ketiga sahabatnya, Kinara beserta Langit, dan juga sang ibu.

"Mbak, gue pamit ya. Bahagia terus sama keluarga kecil kalian, gue harap pas gue balik kesini lo udah nambah anak dengan Cikal," Ujar Keysa pada Kinara.

Kinara menganggukan kepala pelan. "Kalo Allah mengizinkan pasti nambah," Kinara menarik Keysa dalam pelukannya, mengusap pelan punggung wanita itu. "Aku do'akan agar luka-luka yang kamu rasakan dibalas dengan kebahagian luar biasa oleh Allah, terima kasih sudah melepaskan Cikal meski hati kamu terluka dahsyat,"

Keysa membalas pelukan Kinara, meski tak bisa dipungkiri hati nya masih sangat terluka hingga saat ini tapi ia akan biarkan saja hingga luka itu sembuh sendiri nya. "Terima kasih do'a nya mbak, udah seharus nya gue mengembalikan Cikal pada pemilik sebenarnya," Keysa melepaskan pelukan itu dan tersenyum lebar pada Kinara.

"Bu, Key pergi dulu ya. Ibu harus jaga kesehatan disini dengan baik," Keysa memeluk ibu nya dan mendengarkan petuah dari orang tua satu-satu nya itu.

Tak lama saling berpamitan , akhirnya Keysa melangkah memasuki bandara dengan satu koper besar yang ia bawa. Sendu sangat terasa, tapi sudah keputusan Keysa untuk pergi sementara seraya menata kembali hidupnya.

***

Sepulang dari bandara Safira - mamah Cikal datang kerumah Kinara dan membawa Langit untuk menginap dirumah, selain rindu dengan cucu pertama nya. Safira memberi ruang untuk Cikal dan Kinara membicarakan hal hal yang memang harus dibicarakan kedepannya, mengetahui Keysa yang sudah pergi menjauh dari kehidupan sang anak.

Cikal duduk disamping Kinara, menonton tv yang menampilkan sebuah film dari salah satu aplikasi merah. Sesekali curi-curi pandang pada sang istri, akhirnya Cikal memberanikan diri untuk mengangkat tubuh Kinara.

"Ish! Cikal!" Pekik Kinara seraya mengalungkan kedua lengannya pada leher suami nya itu.

"Mumpung Langit lagi dirumah mamah papah, kesempatan bikin adik untuk Langit tanpa gangguan sayang," Cikal menjatuhkan tubuh Kinara diatas kasur.

"Langit masih kecil, main aman ya," Cikal menatap datar Kinara, langsung menggeleng kepala nya pelan.

"No no no! Kamu udah umur 30 tahunan sayang, lebih baik kita bikin adik yang banyak untuk Langit sekarang," Cikal melumat bibir Kinara dengan rakus.

Tanpa diberi jeda dan sangat lihai, kini mereka berdua sudah naked hanya selimut yang menutupi tubuh kedua nya. Sebelum melanjutkan lebih dalam Cikal menatap Kinara dengan lekat."Ikhlas ya kalo hamil lagi? Kali ini ada aku yang akan nemenin masa-masa itu sama kamu," Kinara menatap Cikal dan mengangguk kepala pelan.

"Jangan minum pil atau obat lain yan mencegah kehamilan oke? Aku pastiin kali ini akan hamil kembar," Kinara mengangguk pelan, dengan senyum lebar Cikal melanjutkan hal yang tadi sempat tertunda dan baru berhenti 2 jam setelahnya.

Dicium pelan kening Kinara yang penuh peluh, sungguh sangat membuat Cikal candu. "Mbak, aku cinta banget sama kamu," Lirih nya dengan nada serak dengan wajah ditelusupkan diceruk leher Kinara.

Beberapa detik tak mendapat jawaban, Cikal terkekeh pelan. Ah manis nya memiliki istri seperti Kinara, jika orang lain suami yang sering tidur duluan meninggalkan istrinya setelah bercinta tapi lain dengan Cikal dan Kinara yang dimana Kinara selalu langsung terlelap dan meninggalkan Cikal yang masih terjaga.

Mengelus pelan perut polos Kinara, dengan senyum lebar Cikal mencium perut istri nya itu. "Semoga kali ini bener-bener jadi kembar," Ujar nya sebelum ikut memejamkan mata menyusul istri nya yang telah lebih dulu terlelap.

***

Pagi hari nya, Kinara dan Cikal sudah nangkring dirumah Kiky - papah Cikal , bukan keinginan mereka datang pagi-pagi sekali melainkan sang anak - Langit yang sudah menangis mencari Kinara sejak pukul 5 pagi.

"Sok sok an nginep dirumah kakek nenek, tapi subuh subuh udah nyari ibu hm," Ledek Cikal pada anak nya yang kini sudah berhenti merengek dalam dekapan sang ibu.

"Hiks hiks i-ibu ayah nyaaa," Adu Langit pada Kinara yang masih sesenggukan.

"Cikal," Tegur Kinara pelan namun deep ditelinga suaminya itu.

Cikal hanya mendengus kesal, berjalan menuju dapur dan duduk disalah satu kursi kosong samping adik perempuannya. "Gimana sekolah kamu?"

"Baik ga ada masalah," Jawab Ayudia sembari memasukkan sarapan pada mulutnya.

"Jangan pacar-pacaran dulu dek, sekolah yang bener kamu lagi masa ujian kan sekarang," Cikal memasukkan sarapan kedalam mulutnya seperti adik perempuannya itu.

"Siapa yang pacar-pacaran sih bang," Ayudia mendengus kesal. Biasanya juga sang kakak akan cuek bebek, tumben-tumbenan kan bicara seperti itu.

"Ya elu yang pacar-pacaran!" Cikal menyentil pelan kening Ayudia. "Emang gue ga tau kemarin malem lo ngedate ama cowok makan baso pinggir jalan hm,"

"Abang ish! Cuma makan baso bukan pacaran!"

Kinara terkekeh pelan, ia duduk dikursi kosong sebrang Cikal dan mendudukan Langit diatas paha nya. "Ga apa-apa Kal biarin aja, asal tau batasan aja ga berduaan ditempat sepi,"

"Kamu ngebela adik aku terus, aku nya ga dibela-bela," Cikal menatap Kinara dengan tajam dan memanyunkan bibir nya.

"Bukan gitu, tapi menurut aku diusia nya Ayudia itu lagi masa-masa mengenal jati diri. Kita sebagai orang dewasa cukup memantau aja supaya dia ga keluar jalur, kamu sendiri udah melewati masa itu bukan? Semakin dilarang bukankah yang ada semakin ingin melanggar?" Kinara menaikan alis nya sebelah menatap Cikal.

"Bener kata istri kamu," Ujar Safira - mamah Cikal sambil mengambil nasi dan lauk dalam piring. "Cukup kamu aja yang keluar jalur karna dulu banyak dilarang ini itu sama papah dan mamah, yang lain jangan sampai seperti itu,"

"Cukup kamu yang membangkang karna banyak dilarang sama papah, yang lain jangan. Kamu itu pelajaran buat papah dan mamah untuk bersikap lebih baik lagi terhadap ketiga adik mu yang lain," Ujar Kiky.

"Iya iya iya! Udah jangan bahas kelakuan aku lagi, aku juga tau kelakuan aku kaya gimana," Cikal mendengus, bisa-bisa ia dikeroyok.

"Malah merajuk yey," Ujar Kiky mengejek Cikal.

"Baru balik dari luar nagrek malah menistakan anak,"

"Tapi itu fakta loh Cikal Farizky," Cikal memberengut, berdiri dan pergi dari dapur meninggalkan yang lainnya tertawa melihat wajah kesal Cikal.

.
.
.
.
.

Bab bab akhir menuju akhir kisah Kinara dan Cikal 🥲🥰

Sssttt Mbak!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang