Kini disalah satu ruangan bersalin Kinara sedang sekuat tenaga menahan rasa mulas untuk tidak mengejan atas perintah dokter, karna pembukaan yang masih di 8 juga menunggu persiapan lahiran lainnya antisipasi jika terjadi hal-hal diluar prediksi. Cikal dengan erat menggenggam pegangan tangannya pada tangan kanan Kinara yang bebas, sedangkan tangan Kinara sudah terpasang infus yang sudah diberi obat khusus oleh dokter.
"Kuat ga sayang? Kalo ga kuat kita ambil cara Caesar aja ya? Aku ga kuat liat kamu kesakitan kaya gini," Lirih Cikal melihat peluh dikening Kinara.
Kinara menggelengkan kepalanya pelan. "Aku kuat ko, pegang terus tangan aku ya. Lahirin Langit sendiri aja aku bisa kok, masa lahiran mereka dengan kamu disamping aku aku ga kuat,"
"Argghh sssttt," Kinara meringis kala merasakan mulas yang semakin menjadi pada perutnya.
"Dokter ini kapan lahirannya sih! Istri saya kesakitan gitu liat!" Cikal dengan lantang protes pada dokter wanita yang akan membantu Kinara melahirkan hanya berdiri dengan wajah menatap monitor dipojok ruangan.
"Saya coba cek lagi ya, seharusnya udah bertambah pembukannya," Dokter itu berjalan mendekati, membuka kaki Kinara dan mengecek pembukaan yang sungguh dibuat kaget kala tepat ia membuka kaki Kinara langsung keluar air ketuban yang pecah dengan deras.
"Air ketubannya sudah pecah dan pembukaan sempurna kita bisa mulai persalinan. Ibu Kinara jangan dulu ngeden kalo saya belum bilang, oke? soalnya kepala bayi udah sedikit terlihat tapi harus saya siapkan dulu posisinya," Kinara hanya membalas dengan anggukan kepala pelan.
Cikal tak henti berdo'a dengan sesekali bergerak melihat jalan lahir sang anak yang sungguh membuat ia ngeri, tapi tetap saja ia berkali-kali mengintip. Hanya butuh waktu 23 menit hingga bayi pertama lahir, selang 7 menit bayi kedua lahir, dan selang 5 menit kemudian bayi ketiga lahir.
Cikal sudah menangis deras setiap mendengar tangisan sang anak mengalun merdu, mungkin kini menurutnya tak ada suara yang lebih indah selain tangisan pertama para anaknya. Meski ada sedikit rasa sesal karna ia teringat jika ia melewatkan momen lahir anak pertamanya - Erlangit Cikal Saputra, namun ia berjanji akan mengganti hari-hari yang terlewat dengan hari yang lebih indah setiap harinya.
Cikal mencium kening Kinara dan mengusap pipinya lembut. "Terima kasih Kinara Ayu, udah berjuang dengan sekuat tenaga hidup dan mati untuk melahirkan anak-anak kita. I love you more and forever," Cikal melumat pelan bibir Kinara dan menempelkan kening mereka berdua dengan tangis yang masih menghiasi pipinya. Sungguh tidak ada wanita yang bisa membuat Cikal begitu jatuh cinta selain istrinya , Kinara Ayu.
***
5 tahun kemudian.
Seorang anak laki-laki dengan seragam merah putih berdiri sambil bertolak pinggang menatap tajam orang didepannya, dengan pipi yang sedikit chubby dan kulit sedikit kecoklatan karna sering bermain dibawah terik matahari, anak laki-laki itu menghentakkan kaki nya dua kali kala melihat respon didepannya tak sesuai harapan.
"Udah kakak bilang berhenti mainin seragam kakak! Siniin dasi, topi, dan rompi kakak!" Langit - anak laki-laki itu anak pertama Cikal dan Kinara.
"Nda mau!!" Jawab tiga anak laki-laki berwajah sama dihadapannya bersamaan.
"Ada apa sih pagi-pagi udah ribut aja," Cikal datang menuruni tangga dengan tiga tas kecil dan satu tas sedang dikedua tangannya.
"Ayah lihat dong! Dasi kakak dipake Kasa, Topi dipake Bhum, dan Rompi dipake Gala. Ini hari senin ada jadwal upacara harus pake atribut lengkap kalo ga nanti dihukum," Langit menghela nafas pelan, tiada hari tanpa ribut dengan ketiga adik kembarnya itu dirumah ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sssttt Mbak!
RandomBELUM REVISI! TYPO BERTEBARAN NOTES! 🤞🙏 **************************************** Kinara Ayu (28thn), seorang sekretaris disebuah perusahaan swasta yang sedang berkembang. Anak tunggal yang jauh dari sanak saudara. Wanita yang manis, perfectsionis...
