Empat Puluh Tiga

2K 57 0
                                        

"Dasar mantu mesum kurang ajar, kalo mau berciuman jangan diruangan saya!!" ujar Adrian dari sebrang sana.

Tanpa menjawab Cikal pun menyentuh tombol merah dilayar dan memutus sambungan telfon, sialan bisa-bisa nya dia terpergok oleh bapak mertuanya. Cikal pun menatap Kinara yang tersenyum mengejek sambil berjalan menuju kursi kembali, mulai berkutat dengan tumpukan kertas diatas meja.

"Kok bisa sih bapak kamu tau kita ciuman?" Tanya Cikal yang kini sudah duduk dikursi depan meja berhadapan dengan Kinara.

"Lo aja yang bodoh! Ini ruangan CEO ga mungkin ga ada kamera cctv," Jawab Kinara membuat Cikal melongo tak percaya.

"Sial gue lupa!" Ujar Cikal sambil menelisik setiap sudut ruangan mencari cctv yang diucapkan Kinara.

Handphone nya kembali bergetar, Kiky - papah nya menelfon kembali. Mau tak mau Cikal mengangkat panggilan itu.

"Heh anak mesum, kata Adrian ngapain kamu memperhatikan setiap sudut ruangannya. Tidak ada yang tau dimana letak cctv nya selain Adrian," Ujar Kiky dengan nada mengejek.

"Pah! Kenapa sih kalian manggil aku anak mesum, emang salah mesum sama istri sendiri!" Balas Cikal tak terima.

"Terlalu kentara ke-mesuman mu nak,"

Cikal menatap layar ponsel nya tak percaya, sambungan diputus sepihak oleh papah nya. Ia hanya bisa menghelas nafas nya pelan, apa segitu kentara nya kalo Cikal mesum terhadap Kinara? Percaya lah ia sudah menahan mati-matian tatapan memuja setiap bertemu Kinara.

Ia merasa sudah sangat hebat, setiap bertemu Kinara selalu menahan diri untuk tidak mencium bibir kenyal nya itu. Namun masih saja kentara?

"Sayang," Cikal menatap Kinara, namun yang ditatap malah fokus sendiri dengan berkas-berkas. "Aku pulang aja, mau main sama Langit,"

Cikal pun berlalu pergi meninggalkan ruangan Adrian, sedangkan Kinara hanya menggelengkan kepala melihat tingkah suami nya itu. Salah dirinya juga sih mau aja diajak nikah sama bocil yang usia nya bertaut 10 tahun, namun mau bagaimana lagi semua sudah terjadi bahkan sudah hadir Langit ditengah-tengah mereka.

***

Cikal kembali pulang hanya untuk menjemput putra nya - Langit, dan membawa nya berjalan-jalan menggunakan mobil milik Kiky. Jelas, karna dirinya belum memiliki mobil sendiri. Walau tak jarang Kiky menawarkan namun Cikal menolak, karna merasa sudah dewasa dan jika ia ingin memilik mobil pun inginnya menggunakan uang nya sendiri.

Kini Cikal memarkirkan mobil di halaman sebuah rumah minimalis dengan halaman yang cukup luas ditemani oleh berbagai tumbuhan, dengan menggendong Langit didekapannya Cikal berjalan hingga depan pintu.

"Assalammualaikum," Tak lama seseorang dari dalam membuka pintu dengan. "Halo tante, Andra nya ada?"

"Ada di kamar dengan yang lainnya," Jawab wanita paruh baya yang Cikal tau ibu dari Andra - sahabatnya.

"Cikal permisi ke atas dulu ya tante," Cikal pun berjalan memasuki rumah dan menaiki tangga pelan-pelan, mengingat dirinya menggendong Langit yang sedang mengerjapkan mata nya. Mengantuk.

Cikal pun membuka salah satu pintu kamar , dan mengitrupsi para sahabat agar tak bersuara. Ia pun duduk diatas permadani samping Riki, menyender pada kasur.

"Ga ditidurin aja diatas kasur Kal?" Tanya Andra, melihat Cikal yang tetap menggendong anak nya itu.

"Baru banget merem, kalo langsung ditidurin nanti bangun," Jawab Cikal dengan nada pelan namun masih terdengar.

"Oooohh begitu, tumben amat lo bawa Langit?" Tanya Andra lagi.

Mendengar pertanyaan itu membuat Cikal menghela nafas. "Mbak Kinara selingkuh sama tumpukan berkas, gue diabaikan jadi gue bawa Langit jalan-jalan daripada gue kesel sendirian,"

"Oh mbak Kinara udah kerja lagi diperusahaan kaya dulu?" Tanya Riki dengan tangan yang memainkan surai Langit yang lembut dan hitam.

"Perusahaan bokap nya Kinara lagi ada masalah di cabang Singapore, jadi mau ga mau Kinara sementara ini menangani tugas yang belum selesai,"

"Kenapa lo ga bantuin?" Tanya Hafidz.

"Kalian tau kan gue ga tertarik untuk meneruskan jejak bokap gue? Itu juga alasan gue buka usaha sendiri, ya walau terkadang dibantu kalian,"

"Ta----"

"Stop! Gue ga terina pertanyaan lebih lanjut lagi," Cikal mengangkat tangan kanannya tepat didepan wajah Hafidz yang berada didepannya. "Sekarang gue mau nanya,"

"Tinggal nanya aja kenapa pake bilang izin segala," Ujar Andra dengan tangan siap memasukkan keripik kedalam mulutnya.

"Lo kapan nikahin Keysa Fidz?" Tanya Cikal dan menatap Hafidz dengan telisik.

"Uhuk uhuk, mi-huk-num ky uhuk," Andra menepuk nepuk dada nya dan segera meninum tandas air dalam gelas yang disodor kan oleh Riki.

Hafidz menatap Cikal dengan raut wajah tak bisa ditebak, helaan nafas lolos begitu saja dari mulut nya membuat ketiga temannya menatap dengan curiga.

"Ga ada kemajuan lo?" Tanya Cikal lagi.

"Bukan ga ada kemajuan, tapi ga semudah itu bikin dia jatuh cinta sama gue," Ujar Hafidz dengan nada pelan namun masih terdengar.

"Emang si Keysa ngomong apa ke lo?" Kini yang bertanya Andra dan memiringkan wajah nya mengingat posisi duduk nya disamping Hafidz, dan tangannya masih memasukkan keripik kedalam mulutnya.

Hafidz menatap Andra. "Simpen dulu tuh keripik kalo lo ga mau keselek lagi,"

"Oke oke," Andra meletakan toples keripik dan mengangkat kedua tangannya ke atas. "Sekarang lo bilang ke kita,"

"Kemarin, gue kerumah orang tua nya Keysa dengan niatan baik. Gue bicara dengan ibu nya tentang keseriusan perasaan gue, dan ibu nya menyerahkan semua keputusan ke Keysa," Hafidz menatap Cikal dan menghelas nafas pelan. "Keysa bilang, dia perlu waktu untuk menata kembali hati nya meski dia memilih untuk menerima laki-laki yang mencintai nya dan berhenti mengejar laki-laki yang ia cintai tapi dia bilanga ga semudah itu dan ga dalam waktu dekat,"

Cikal terdiam mendengar setiap perkataan Hafidz, ia sangat tau dan mengerti perasaan Keysa ataupun Hafidz. Tapi mau bagaimana lagi, Cikal pun tak bisa berbuat apa-apa. Kini fokus nya hanya pada Kinara dan Langit.

Cikal menepuk pelan pundak Hafidz. "Sabar ya, gue yakin entar juga lo bakal diterima sama Keysa. Dia cuma perlu waktu, dan lo jangan bosen untuk nunggu memberi nya waktu,"

"Always Kal, gue akan terus perjuangin Keysa," Hafidz tersenyum tipis pada Cikal. Tanpa di minta pun ia akan terus memperjuangkan wanita itu.

"Tapi gue mau nanya nih," Ucapan Andra membuat Hafidz, Cikal, dan Riki menatapnya. "Lo beneran ga pernah nyentuh Keysa sekalipun Kal?"

Seperti nya pertanyaan dari mulut Andra sungguh tidak di filter, membuat Cikal dan Hafidz terdiam menatapnya.

"Kenapa lo harus nanya gitu bego!" Ujar Riki pelan namun penuh penekanan.

Andra menonyor kening Riki dan menatapnya tajam. "Ya lo pikir aja , beberapa tahun menikah emang kaga nafsu tidur bareng cewe?" Tanya Andra pada Riky pelan namun masih sangat terdengar jelas oleh semua orang yang ada di kamar itu.

Sssttt Mbak!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang