SAAHHHH.
Suara semua orang terdengar menggema diseisi rumah, meski hanya keluarga inti tapi terasa sangat khidmat. Yang penting sah nya, bukan ramainya
Kinara mengambil tangan Cikal dan menciumnya dengan lembut, juga Cikal yang mencium pucuk kepala Kinara yang dibaluti kerudung putih tulang. Meski bagi Cikal mendadak, namun segalanya sudah disiapkan oleh Adrian dan Kiky.
Cikal dan Kinara bergantian memeluk ke enam orang tua yang berjasa bagi mereka, Kiky dan Sofia kedua orang tua kandung Cikal, Arki dan Inara kedua orang tua angkat yang mengurus dan membesarkan Kinara, Adrian dan Mawar tanpa mereka berdua Kinara tidak akan ada didunia ini.
Tidak lupa, Cikal dan Kinara memeluk Langit bersamaan. Kini perjalanan mereka bertiga dimulai, tidak memungkinan untuk selalu bahagia tapi setidaknya mereka akan bersama dalam suka duka.
"Terima kasih sudah menerima aku jadi suami kamu," Cikal memeluk Kinara dengan lembut.
"Ekhem, pengantin baru. Masih siang ini dan banyak orang," Ujar Kiky membuat Cikal melepaskan pelukan dan menatap papahnya dengan sinis.
"Sirik aja sama anak," Balas Cikal sinis pada Kiky, namun saat matanya bersitubruk dengan Adrian dan Arki langsung membuat Cikal tersenyum.
Bermuka dua, mungkin itu yang Kiky pikirkan soal anak sulungnya itu. Tapi mau bagaimana lagi, kalo dengan mertua harus jaga image dong ya.
Setelah saling berbincang dan memakan sajian yang disediakan Inara, tinggal lah Cikal, Kinara, Langit, Arki, dan Inara yang ada dirumah itu.
Dengan telaten Cikal membantu membereskan rumah, dengan sesekali mengikuti keinginan Langit apapun itu. Tak lama rumah sudah rapih kembali, tidak ada cucian piring ataupun mainan yang berantakan.
Arki berjalan menghampiri Cikal yang terduduk diatas kursi kecil milik Langit dikamar bermainannya, sambil memperhatikan anak laki-laki itu yang sedang asik mewarnai buku bergambar.
"Nak Cikal," Panggil Arki membuat Cikal refleks berdiri dan menatap Arki.
"Ada apa pak?"
"Ini," Arki mengasongkan sebuah kartu, yang Cikal tau itu kunci pintu yang sudah suport smart home service. "Tadi pak Adrian menitipkan ini , katanya untuk kamu dan Kinara menghabiskan waktu bersama berdua,"
Cikal ragu-ragu mengambil kartu itu, kalo langsung ambil takut keliatan banget pingin mantep-mantep tapi kalo nolak sayang juga kamar hotel gratis. "Ini ga apa-apa aku ambil pak?"
Arki tertawa mendengar perkataan Cikal. "Ya ga apa-apa, emang kamu ga mau menikmati waktu berduaan dengan Kinara? Urusan Langit ada bapak dan ibu yang menjaga tenang saja,"
"Aku ambil ya pa, terima kasih," Cikal memeluk Arki sebentar dan kembali duduk menjaga Langit yang masih fokus mewarnai.
Arki hanya menggeleng kepala kecil dan berjalan keluar menghampiri Kinara dikamar sebelah, dilihat nya Kinara sedang berbicara dengan Inara. Rasanya waktu cepat berlalu, Kinara nya kini sudah menikah. Meski dadakan karna keinginan Kinara tapi mereka tak masalah, daripada hal yang terjadi pada Langit terulang kembali.
"Nak, siap-siap gih," Arki mengelus lembut kepala Kinara.
"Siap-siap kemana pak?" Tanya Kinara heran.
"Ke hotel dengan suami mu, habiskan waktu berdua bersama. Bapak yakin kalian perlu waktu berduaan, entah untuk membicarakan hal yang ingin kalian ungkap tapi masih terpendam ataupun melakukan hal yang bisa membuat Langit mempunyai adik, mungkin," Arki tersenyum jahil membuat Kinara hanya memanyunkan bibir nya kesal tapi wajah nya menunjukkan ekpresi malu.
Cikal berdiri diluar kamar dan mengangkat-ngangkat alis nya pada Kinara, memberi kode yang sangat jelas Kinara tau maksudnya. Ingin menolak, tapi bapak dan ibu nya dengan kuat mendorong Kinara untuk pergi dengan Cikal. Mau tak mau , Kinara mengemas 2 setel pakaian untuk ia bawa dan beberapa barang lainnya yang diperlukan.
Cikal dan Kinara pamit pada Arki dan Inara, sedangkan Langit dibuat asyik dikamar dengan mainan baru yang dikeluarkan oleh Arki yang sebelumnya disembunyikan diatas lemari.
Sepanjang perjalanan Cikal dan Kinara diam tak bersuara, hingga tak terasa sudah sampai di sebuah hotel besar dipinggiran kota namun memiliki view yang sangat indah. Cikal memarkirkan motor nya dan berjalan dengan menggandeng tangan Kinara, sedangkan si pemilik tangan hanya terdiam tak bersuara.
"Bisa-bisa nya gue deg degan gini kaya yang mau diperawanin aja jir," Ujar Kinara dalam hati.
Mereka terus berjalan dan menaiki lift langsung tanpa perlu bertanya pada ressepsionis, karna ternyata papah mertua nya - Adrian sudah lebih dulu mengirim pesan pada Cikal tentang kamar mereka yang berada dilantai paling atas dan kamar paling ujung.
Di tempelkan nya kartu itu oleh Cikal pada pintu, dan membukanya perlahan. Terlihat jelas, kamar suite yang sangat luas dengan kaca yang sangat besar sebagai pengganti dinding. Kasur king size yang dipenuhi bunga mawar merah, membuat semerbak wangi memenuhi kamar.
Kinara melepas pegangan tangan Cikal , berjalan melihat-lihat seisi kamar yang benar-benar dirancang untuk pengantin baru. Kinara berjalan memasuki walk in closet, ada sebuah kotak berukuran cukup besar menarik perhatian Kinara. Diatas nya tertulis "Mrs.Kinara Ayu" , membuat rasa penasaran Kinara semakin jadi.
Dibuka nya tutup kotak secara perlahan, dan sungguh wajah Kinara rasanya memanas bahkan mungkin mulai memerah karna malu. 3 buah lingeri dengan warna berbeda membuat Kinara dian mematung melihatnya, rasanya Kinara tidak sanggup untuk menggunakannya. Namun tangannya terhenti saat akan menutup tutup kotak, tangan Cikal yang lebih cepat mengangkat salah satu lingerie berwarna hitam.
"Pake ini mbak, pasti cantik sekali," Ujar Cikal tepat dibelakang tubuh Kinara. Hembusan nafas nya mengenai leher Kinara, meski terhalang oleh kerudung namun tetap terasa membuat leher Kinara sedikit geli.
"Apaan sih," Kinara mengambil Lingerie dari tangan Cikal dan menyimpannya kembali kedalam kotak sebelum menutupnya.
"Iya deh iya, tanpa Lingerie juga udah menggoda mbak," Cikal menjatuhkan kepalanya dipundak Kinara yang membuat Kinara sulit bergerak.
"Cikal berat," Ujar Kinara, namun Cikal malah memeluk Kinara dengan erat dan mengendus endus leher Kinara yang masih memakai kerudung.
"Mbak," Suara Cikal mulai berat, dan Kinara tau situasi ini sudah masuk ke lampu kuning.
"Berat Cikal," Ujar Kinara berusaha melepaskan pelukan Cikal, namun tak bisa.
"Kinara," Cikal membalikan badan Kinara dengan mudah dan menatap nya dengan lekat, dielus lembut pipi Kinara yang mulai memerah.
Chups. "Aku sangat mencintaimu Kinara," Ujar Cikal setelah mengecup lembut bibir merah muda Kinara.
Kinara diam menatap Cikal, mata mereka bersitubruk. Kinara pun mengangkat tangannya dan melepaskan jarum pentul didagu dan melepaskan hijab nya dengan perlahan. Setelah itu Kinara menarik ikat rambut, membuat rambut hitam nya langsung tergurai.
"Aku bisa gila jika begini," Cikal memajukan wajahnya dan mencium bibir Kinara yang dibalas lembut oleh Kinara.
Lampu hijau didapati oleh Cikal.
.
.
.
.
.
Gimana niiiihhhh? Suasana memanas gaes🔥🔥🔥
KAMU SEDANG MEMBACA
Sssttt Mbak!
AcakBELUM REVISI! TYPO BERTEBARAN NOTES! 🤞🙏 **************************************** Kinara Ayu (28thn), seorang sekretaris disebuah perusahaan swasta yang sedang berkembang. Anak tunggal yang jauh dari sanak saudara. Wanita yang manis, perfectsionis...
