Extra Chap I

1.6K 52 0
                                        

Tak terasa waktu berlalu, kini kandungan Kinara sudah memasuki usia 8 bulan. Meski disarankan untuk Caesar namun Kinara bersikukuh ingin melahirkan secara normal, meski berbagai resiko tapi akan ia hadapi dan lewati demi lahirnya sang buah hati.

Kinara sedang duduk dikursi teras depan rumah, melihat Langit yang sedang bermain dengan kedua adik kecil Cikal. Ah iya, sejak 3 bulan lalu Kinara pindah kembali ke rumah nya yang dulu karna Cikal tiba-tiba saja membeli rumah itu, yang jelas dengan bantuan sang ayah dan bapak mertuanya.

Rumah yang cukup besar dulu ia tinggali sendiri, kini sudah direnov dengan kamar yang bertambah dan halaman dibuat nyaman untuk tempat bemain anak-anak. Dengan senyuman yang sejak tadi tak luntur, Kinara merasakan elusan diperut besarnya, ia memiringkan wajah dan melihat Cikal berjongkok seraya mengelus pelan perutnya.

"Bahagia banget kaya nya itu senyuman ga luntur-luntur hm,"

"Banget, rasanya kaya apa bener hidup aku sekarang sebahagia ini? Liat Langit bisa berlarian kaya gitu aja udah bikin aku sangat bahagia, apalagi nanti ditambah ketiga jagoan ini pasti bakal lebih bahagia lagi,"

Cikal mengadahkan kepalanya bersitatap dengan Kinara. "Iya, sebentar lagi mereka lahir pasti rumah lebih rame lagi,"

"Asal kelakuannya ga kaya kamu aja semuanya," Suara dari balik tubuhnya membuat Cikal berdiri dan membalik badan. "Apa? Ayah berkata sesuai fakta ya,"

Cikal memanyunkan bibirnya menatap Kiky tajam. "Gini-gini anak ayah, pasti kelakuan aku juga nurun dari ayah,"

"Heh! Engga ya, ayah itu kalem ga kaya kamu bikin pusing 7 keliling," Kiky memukul pelan lengan atas Cikal.

"Aku juga kalem ya ayah, liat aja Langit kalem dan ganteng gitu nurun dari aku," Dengan senyuman miring Cikal menyugarkan rambutnya kebelakang.

"Heleh! Langit itu mirip Ayu ya, walau wajah Langit plek ketiplek kamu tapi sifat dan otaknya itu sangat Ayu banget, iya kan bu?" Ujar Arki yang baru datang dari dalam rumah dengan Inara. "Iya, Langit itu kelakuan dan kepintarannya mirip banget kaya Ayu waktu kecil,"

Ucapan Arki dan Inara kembali membuat Cikal memberengut, dengan kesal ia berjalan dan jongkok tepat didepan Kinara. "Liat nak, ayah dinistakan oleh kakek dan nenek kalian. Pokoknya kalian  harus mirip ayah oke? Ga pake ngebantah,"

Plak. "Enak aja! Jangan sampe ketiga anak kamu mirip kamu ya! Ibu aja ngurus kamu yang cuma 1 pusing, apalagi nanti Kinara kalo dihadapin sama versi kecil kamu, mana ini tiga lagi!! Jangan sampe deh jangan sampe! Kasian Kinara nanti," Safira mengusap dada nya seraya berucap istgirfar berkali-kali.

"Ibu sakit tau main geplak kepala aja! Lagian emang kenapa kalo mirip aku? Nakal dikit ga apa-apa, lag--"

"Masalahnya nakalnya kamu ga dikit Cikal!" Potong Kiky yang kini sudah bertolak pinggang.

Kinara tertawa mendengar perdebatan itu. "Kayanya kamu emang nakal banget ya sampe ayah dan ibu mencak-mencak gitu,"

"Aku ini kalem tau," Cikal memberengut seraya memeluk Kinara dan menciumi perut buncit istrinya itu. "Cepet lahir ya, biar bisa ketemu ayah gantengmu ini,"

"PD banget! Masih gantengan saya kemana-mana," Cikal memutar bola matanya malas, tak cukup apa dengan hadirnya Kiky dan Arki yang sering menistakannya dan ini bertambah lagi personil? Pak Adrian datang dengan Mawar yang berjalan pelan mendekati mereka.

"Bertambah aja orang-orang julid," Kinara menyentil kening Cikal dan menatapnya tajam. "Apa?! Benerkan kenyataannya, orang-orang julid yang ga bisa diem liat aku bahagia, pasti ada aja celetukan bikin aku darting,"

"Makanya jadi anak jangan resek!" Ujar Kiky membuat kelima paruh baya lainnya mengangguk kepala menyetujui.

"Paan sih ga asik banget!" Cikal berdiri dan berjalan menghampiri Langit meninggalkan para paruh baya menyebalkan.

Mawar duduk dikursi sebelah Kinara dan mengusap pelan punggung tangan Kinara. "Berapa minggu lagi mereka lahir?" Tanya Mawar pelan.

"Kalo HPL sekitar 3-4 minggu lagi, tapi firasat aku bentar lagi mereka lahir," Kinara menatap satu persatu orang tua didekatnya. "Dari semalem aku ngerasa kontraksi, tapi masih jarang-jarang,"

"Kita ke rumah sakit sekarang kalo gitu," Safira menggenggam tangan Kinara yang satunya.

Kinara menggelengkan kepala pelan. "Masih belum ko bu, aku selalu merhatiin berapa jarak dari satu kontraksi ke kontraksi lainnya. Takutnya masih kontraksi palsu,"

"Tapi ada baiknya diperiksa nak," Inara mengusap pelan pundak Kinara.

"Lusa aja bu, lusa jadwal checkup," Jawab Kinara.

"Kita nginap disini saja, takutnya tiba-tiba Kinara melahirkan setidaknya banyak orang didekatnya," Adrian berjalan dan berdiri disamping Mawar.

"Ga usah khawatir pah, dirumah ada ibu sama bapa dan disebelah rumah mertua aku, mamah Mawar masih perlu banyak istirahat juga,"

"Mamah ga apa-apa, kita nginap sini aja,"

Kinara menghela nafas pelan selanjutnya menganggukan kepala. Semenjak membaiknya hubungan dengan Adrian dan Mawar, Kinara mulai memanggil mereka dengan sebutan mamah dan papah, serta sejak itu juga Kinara seringkali diperlakukan seperti anak kecil yang dijaga ketat. Mereka seolah lupa Kinara sudah berkepala 3 bahkan bentar lagi akan memiliki 4 anak.

***

Malam hari, Kinara meringis pelan merasakan mulas yang kini semakin jadi terasa. Ia menguncang tubuh Cikal yang terlelap disampingnya, tak lama suaminya itu bangun dengan mata yang di buka tutup beberapa kali hingga fokusnya datang.

"Kenapa sayang?" Tanya Cikal dengan suara serak khas bangun tidur.

"Perut aku mules, kayanya kontraksi nya semakin jadi," Cicit Kinara pelan namun masih terdengar ditelinga Cikal.

Dengan sigap, Cikal mengambil jaket miliknya dan Kinara tak lupa membantunya memakaikan pada sang istri. Dikalungkan tas slingbag yang berisi dompet serta handphone tak lupa tas yang sudah ia bawa, dengan perlahan Cikal membantu Kinara berdiri berjalan keluar kamar.

"Kalian mau kemana?" Tanya Adrian yang kebetulan belum tidur dan sedang bermain catur dengan Arki.

"Kinara mulesnya makin jadi pak, mau aku bawa ke rumah sakit. Tolong minta Ayudia buat jaga Langit siapa tau bangun tengah malem bangun dan minta pindah kesini ya," Ujar Cikal mengingat anak sulungnya menginap dirumah orangtuanya.

"Kalian diantar oleh mas Adrian dan pak Arki ya, biar mamah nanti nyusul dengan yang lainnya setelah ngecek Langit dan mastiin ga ada barang yang kurang yang kalian butuhin nanti," Ujar Mawar yang kini berjalan menuruni tangga.

Tanpa banyak bicara, Adrian mengambil kunci mobil diikuti Cikal dan Arki yang membantu Kinara berjalan. Dengan kecepatan tinggi , Adrian membawa mobilnya ke Rumah Bersalin tempat Kinara biasa checkup.

"Ya Allah lindungilah mereka, dan beri kelancaran untuk anakku dalam melahirkan ketiga anaknya," Ucap Mawar yang selanjutnya bergegas membangungkan Inara serta pergi kerumah sebelah memberi kabar pada besannya.

Sssttt Mbak!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang