Empat Puluh Empat

1.6K 58 2
                                        

Andra menonyor kening Riki dan menatapnya tajam. "Ya lo pikir aja , beberapa tahun menikah emang kaga nafsu tidur bareng cewe?" Tanya Andra pada Riki pelan namun masih sangat terdengar jelas oleh semua orang yang ada di kamar itu.

"Kalo mo nanya langsung sini ama gue," Cikal mendengus kasar. "Gue udah bilang kan kalo gue ga pernah ngapa-ngapain Keysa, sayang gue ke dia cuma sebagai sahabat dan mana mungkin gue berani berbuat yang engga-engga sama sahabat gue sendiri. Satu-satu nya wanita yang gue tidurin cuma Kinara, ibu nya Langit yang sekarang jadi istri gue. Paham?!"

"Kita paham Kal, cuma si Andra emang kadang mulut nya minta di cipok ikan bogo," Jawab Riki sembari memelototi temannya itu.

Cikal tertawa mendengar perkataan Riki. "Pantesan lo jomblo Ndra, sekarang udah ga demen cewek toh hahaha,"

Langit membuka matanya perlahan kala mendengar tawa Cikal - Ayah nya, dengan wajah ditekuk dan nafas yang sedikit berat tak lama ia mengeluarkan jurus andalannya. "Huaaa I-ibuuuu huuueaaa,"

Ke empat pria itu pun langsung kelabakan kala Langit menangis kencang dan meronta dalam gendongan Cikal, meski sudah di gendong berdiri dan di eyong pun tetap menangis kencang.

"Lo sih ketawa kenceng-kenceng," Ujar Riki.

Cikal hanya memutar bola mata nya malas, malas meladeni kelakuan teman-temannya itu. Lebih baik ia pulang dan membawa Langit pada ibu nya - Kinara, siapa tau istri nya itu mau dibawa pulang juga kan? Sekalian memberinya hukuman karna sudah selingkuh dengan tumpukan berkas yang ditinggal oleh mertua nya yang sedikit brengsek. Iya , sedikit saja kalo banyak-banyak takut kualat Cikal.

***

Dengan santai nya Cikal berjalan memasuki sebuah gedung dengan Langit digendongannya, meski banyak mata memandang tapi ia abaikan. Tak perlu waktu lama hingga ia sampai di lantai tempat Kinara berada.

"Ibu ada diruangan itu nak," Cikal menunjuk sebuah pintu yang tertutup pada Langit.

Dengan cepat Langit turun dari gendongan Cikal, berlari tergesa dan memukul pintu besar itu.

"Ibuuuu!! Huaaaaa ibu bukaaaa!" Sial. Bukannya membantu membuka pintu, Cikal malah terkekeh melihat Langit menangis lagi didepan pintu. Tidak lupa untuk melarang setiap pegawai yang hendak membantu anak kecil itu, sangat gemas seperti anak nakal yang sedang dihukum oleh ibu nya.

Tak lama pintu terbuka, Kinara langsung membawa Langit ke gendongannya dan menenangkan anak laki-laki itu.

"Kenapa tidak dibukakan?" Tanya Kinara pada sekretaris Adrian yang meja nya dekat pintu.

Sekretaris itu hanya mengangkat kepala, dan mengalihkan pandangannya pada Cikal. Berharap Kinara mengerti, bukan dirinya yang tak ingin membantu anak kecil itu masuk. Tapi pria yang berstatus sebagai ayah nya lah yang melarang siapapun untuk membantu.

"Cikal! Ga bisa apa sehari aja ga jailin Langit," Kinara menatap suami nya itu dengan tajam.

"Sorry sayang, anak kita terlalu lucu jika sedang menangis mencari ibu nya," Cikal terkekeh pelan dan berjalan menghampiri Kinara.

"Tapi Cikal, tau tempat. Ini kantor, bukan rumah," Kinara mengusap wajah nya pelan.

"Ck!" Cikal berdecak, mengambil Langit dari gendongan Kinara dan berlalu memasuki ruangan mengabaikan raut kesal sang istri. "Kamu terlalu asik dengan segala urusan pekerjaan sampai lupa kalo sudah punya suami,"

Cikal menurunkan Langit, mengambil beberapa lembar kertas kosong dan pulpen untuk diberikan pada Langit. Ia pun duduk disofa memperhatikan anak laki-laki nya yang anteng ayem menggambar abstrak diatas kertas.

"Cikal please, jangan kekanakan okay? Kamu sendiri tau aku menyelesaikan pekerjaan Bapak ku dan ayah mu," Kinara duduk disamping Cikal.

"Aku kasih 1 jam, kalo kamu masih sibuk aku akan pergi kerumah Keysa dengan Langit," Cikal berdiri dan menghampiri Langit yang sedang mencoret-coret kertas diatas lantai sembari tiduran.

Kinara berdiri, berjalan kembali duduk di kursi kebesaran milik Adrian. "Aku bisa menemui Panca jika kamu pergi menemui Keysa," Ujar Kinara dengan tajam.

"Apa?! Tidak bisa tidak bisa!! Jangan menemui om om ganjen itu!" Cikal langsung berdiri menghampiri Kinara dan menatap tajam Kinara.

"Kamu aja bisa ketemu Keysa bebas, kenapa aku ga boleh ketemu Panca?" Kinara melipat kedua lengannya didepan dada.

"Okay fine! Aku ga akan ketemu Keysa, tapi kamu juga jangan ketemu Panca! Awas aja kalo diem-diem ketemu om om ganjen itu, aku pastikan Langit akan memilik adik kesebelasan," Cikal membalik badan kembali duduk diatas lantai menemani Langit.

Sedangkan Kinara terkekeh ringan melihat kelakuan Cikal, ah ia lupa jika dirinya menikahi pria yang usianya 10 tahun lebih muda dari nya. Rasa nya bukan memiliki suami, tapi seperti memiliki adik yang sering merajuk pada kakaknya. Gemas sekali.

***

Kini Hafidz sedang duduk dikursi taman dekat rumah Keysa, sesuai perkataan Cikal tadi. Dirinya harus memberi Keysa waktu, tapi sebelum itu ada yang ingin ia sampaikan pada gadis yang menjadi pujaan hati sejak lama. Dengan sebuah kotak kecil yang ia pegang, Hafidz mencoba untuk melebarkan senyum nya kala melihat Keysa berjalan mendekatinya.

"Sorry Fidz, lo nunggu lama ya?" Keysa duduk disamping Hafidz.

"Ga apa-apa Key, ga lama ko," Hafidz memiringkan tubuh nya menatap Keysa lekat. "Ini buat lo," Ia menyodorkan kotak kecil yang sejak tadi ia pegang.

"Apa ini?" keysa menerima kotak itu tapi tak langsung ia buka.

"Jangan langsung dipake ya Key, lo bisa pake itu kalo lo udah bener-bener lepas dari masa lalu lo dengan Cikal. Lo bisa pake itu saat lo udah berdamai dengan masa lalu dan siap menata kembali masa depan lo. Saat waktu itu tiba, lo bisa langsung datang ke gue. Gue akan setia nunggu lo sampai waktu itu tiba," Hafidz mengelus lembut pucuk rambut keysa.

Keysa menatap sendu Hafidz, tak ada tatapan bohong dimata nya dan tak ada raut bercanda sama sekali di wajah tampan nya. "Tapi Fidz, lo tau sendiri kalo gue ga bisa janjiin waktu itu dalam waktu dekat,"

Hafidz tersenyum. "Kapan pun itu. Gue tetep nunggu lo Key,"

"Gue...... lusa pindah ke lampung Fidz," Cicit Keysa sangat pelan, namun masih terdengar jelas di telinga Hafidz.

Hafidz terdiam, menurunkan lengannya dan menarik lengan Keysa lembut. "Dimana pun lo berada, gue akan terus memperjuangkan lo Key. Kapan pun itu, gue akan nunggu lo. Kalo lo ngerasa lo udah siap membuka lembaran baru, lo bisa hubungi gue dan gue akan langsung jemput lo untuk kembali. Kita mulai cerita baru tentang kita," Hafidz memeluk Keysa.

"Lo bener-bener bakal nungguin gue? setahun? dua tahun?"

"Ga apa-apa, gue akan tunggu asal jangan lama-lama banget Key. Umur kita makin tua nanti kalo lo kelamaan banget, bisa-bisa yang lain udah beranak pinak sedangkan gue masih setia dengan keperjakaan gue," Hafidz melepas pelukannya dan terkekeh pelan.

"Ga gitu juga Fidz, gue cuma perlu waktu. Tapi gue pastiin ga akan selama itu ko," Keysa tersenyum, menarik tangan kiri Hafidz dan di elus nya pelan. "Makasih ya Fidz, makasih udah mau nungguin gue. Makasih udah mau ngasih gue waktu dan ga memaksa gue. Makasih udah mencintai gue walau belum bisa gue bales,"

Cup. Hafidz mencium kening keysa dengan lembut, memiringkan wajahnya sedikit dan tersenyum tulus. "Gue akan selalu mencintai lo Key, mungkin bukan sekarang tapi gue yakin perjuangan gue akan membuat lo membalas perasaan gue,"

.

.

.

.

.


Sedikit lama update padahal udah ada didraft tinggal publis hee 😌🙏

Sssttt Mbak!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang