Empat Puluh Enam

1.5K 57 0
                                        

Kini ke empat remaja beserta satu balita sedang duduk disalah satu cafe tak jauh dari perusahaan Adrian - Papah Kinara, tujuan Cikal dan Langit menunggu Kinara yang akan menyusul di jam makan siang. Sedangkan ketiga temannya mengekori dengan dalih gabut, padahal Cikal juga tau mereka cuma niat morotin dompet nya doang.

"Ayah!" Langit berdiri diatas kursi menatap Cikal yang duduk disampingnya.

"Kenapa nak?" Cikal mengangkat kedua alis nya menatap putranya itu.

"Mau itu!" Jari telunjuk Langit menunjuk keluar kaca disamping mereka. Cikal mengikuti arah jari telunjuk putranya itu, diluar sana ada seorang pria paruh baya yang berdiri dipinggir jalan dengan tangan menggenggam beberapa tali yang mengikat balon karakter.

"Oke," Cikal mengangkat Langit turun dari kursi dan mengenggam lengan kecil putranya. "Gue keluar dulu, jangan ganggung pesenan gue inget!" Ujar nya pada ketiga sahabatnya.

Tanpa tunggu lama, Langit berjalan keluar dan menghampiri pria paruh baya itu.

"Permisi pak, saya mau beli balonnya," Perkataan Cikal membuat pria paruh baya itu melebarkan senyum diwajahnya.

"Mau beli berapa nak?" Tanya nya dengan senyum yang tak luntur dari wajah.

"Langit mau beli berapa?" Cikal kini sudah berjongkok menyamakan tinggi nya dengan Langit.

"Mau cemua bolyeh?" Cicit Langit yang terdengar jelas ditelinga Cikal. Dengan gemas Cikal mengusap pelan rambut putranya itu, ia sangat tau tabiat Langit. Tanpa bicara Cikal mendekatkan telinganya pada mulut Langit, membuat balita itu paham maksud sang ayah. "Cian Yah, bayon nya masih anyak," Bisik Langit membuat Cikal semakin mengembangkan senyumnya.

Cikal mengecup singkat pipi putra nya sebelum berdiri kembali menatap pria penjual balon itu. "Satu nya berapa pak?"

"Seiklas nya aja, berapapun saya terima. Yang penting ada untuk membeli nasi, kasian anak saya dirumah menunggu," Jawaban pria paruh baya itu membuat hati Cikal sedikit tersentil.

"Biasa bapak jual berapa?" Tanya Cikal lagi.

"Biasa 20rb nak," Jawab nya pelan.

"Itu ada sisa berapa pak?" Cikal mengadahkan kepala nya, menghitung sisa balon yang ada.

"Ada sekitar 15 lagi,"

Cikal mengangguk kepala pelan, mengambil dompet disaku belakang mengeluarkan 10 lembar uang dengan nominal 100.000 yang langsung di sodorkan pada pria paruh baya itu. "Seiklasnya saya kan? Saya iklas nya segini bapak terima ya. Saya mau ambil 5 balon aja masing-masing karakter berbeda, sisanya bisa bapak bagikan pada anak-anak yang bapa temui nanti saat pulang,"

Pria itu terdiam sejenak, yang selanjutnya menggeleng kepala pelan. "Ini kebanyakan nak," Ujarnya.

"Kan tadi kata bapak seiklas nya saya, ini saya iklas nya segini loh pa," Cikal memaksa menempelkan uang pada lengan pria paruh baya itu. "Anggap aja itu rezeky dari Allah untuk bapak melalui saya,"

"Terima kasih nak, saya do'akan semoga diganti berkali lipat oleh Allah sehat selalu dijauhkan dari marabahaya serta keluarga nya selalu diberkahi dan berikan keturunan-keturunan yang membagakan,"

"Aamiin Allahumma Amiin , terima kasih do'a nya pak,"

Pria paruh baya itu memberikan lima balon dengan karakter berbeda sesuai dengan perkataan Cikal, yang langsung diterima dengan senang oleh Langit.

"Tima kacih pak!" Langit tersenyum lebar melihat lima tali yang menggantung berbagai karakter dilengannya.

"Saya yang terima kasih nak," Pria paruh baya itu mengusap pelan rambut Langit. "Saya permisi ya, anak saya menunggu dirumah," Selanjutnya pria itu pergi dari hadapan Cikal dan Langit dengan raut yang sangat bahagia.

Sssttt Mbak!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang