Delapan Puluh Dua

14.5K 745 279
                                        

Kenshi Yonezu - Lemon

Happy reading

****

Author POV

Jakarta, Indonesia.

"So, what brings you here? (Jadi, kamu ngapain di sini?)" bisik Sahar setelah melepaskan ciuman mereka.

"Time to get back to your bed." ucapnya lagi membuat Keana yang belum sadar seutuhnya itu hampir menjerit karena Sahar tiba-tiba menggendongnya.

Dan dalam sekejap, sekarang Keana sudah kembali terbaring di kasurnya.

"Hah? Hah?" dengan wajah sembab akibat menangis, Keana terlihat masih terheran-heran dengan apa yang baru saja terjadi.

Sahar yang sedang membetulkan letak tiang infus itu hanya mengangkat sudut bibirnya melihat wajah lucu itu.

Setelahnya, tangan Sahar kemudian mengambil beberapa helai tisu lalu menghapus sisa air mata yang ada di pipinya.

Saat Sahar masih sibuk dengan kegiatan ringannya, di sebelahnya Keana masih termenung mengerjabkan matanya,

"Barusan dia ngangkat gue sambil megangin tiang infus? Serius? Sekuat itu?"

Pikir Keana selain cantik dan pintar, dia emang gak terlalu berat sih, tapi gendong orang sambil megang tiang infus kan susah? Kok tadi kelihatan mudah banget?

Lamunan singkat Keana seketika buyar saat Sahar baru saja memegang sebelah kakinya yang sedari awal memang dipasangi gips.

Ya, kenyataannya sekarang keadaan kaki Keana hampir sama dengan Vikar, bedanya abangnya itu hanya memakai perban elastis, sedangkan ia dipasangi gips fiberglass yang membuat kakinya tampak besar sebelah dan tidak memungkinkan untuk berjalan dengan normal.

"Kan belum waktunya kamu berdiri, kenapa nekat banget?" tanya Sahar yang malah seperti mengomeli,

"Lain kali jangan diulangi lagi, mana gak pakai alat bantu." ucapnya lagi mengabaikan wajah Keana yang sudah berubah cemberut karenanya.

"Tahu gitu harusnya dari awal kamu langsung angkat aku, gak usah pake adegan ciuman dulu." balas Keana tidak terima.

"Ya kan tadi sambil aku pegangin?"

"Halah."

"Apa?"

"Aku masih mau lihat pemandangan, soalnya stress ditinggal kamu berbulan-bulan."

"Tapi kan aku udah di sini? Berarti sekarang aku pemandanganmu."

"Oh, ya benar juga." batin Keana dengan polosnya, mengabaikan Sahar yang tetap memberikan apa yang Keana mau dengan baru saja menekan remot yang membuat gorden itu otomatis terbuka.

Keana tentu sudah tahu jika gorden itu otomatis, tapi dari awal alasannya memilih turun dari ranjang adalah hanya untuk memastikan apakah ia masih bisa berjalan atau tidak.

Keana hanya merasa takut, makanya tadi saat melihat tidak ada siapa-siapa di ruangan itu membuatnya nekat untuk membuktikannya sendiri.

"Jelek ya?" tanya Keana saat Sahar sekarang malah seperti kepo dengan posisi-posisi luka yang terdapat diseluruh anggota tubuhnya.

Di luar dari itu semua Keana juga merasa sangat sedih karena ada luka yang terdapat di bagian rambut kepala, tepatnya berada sedikit di belakang telinganya, "Gak ya, ini beneran gak lucu karena gue lagi pitak depan Sahar."

Sedangkan Sahar yang tadinya merasa marah dan sedih melihat semua luka itu, sekarang hanya mengangkat sudut bibirnya.

Sahar mengakui jika diawal tadi ia sempat salah fokus dengan warna rambut Keana sekarang. Selain rasa rindu yang sudah memuncak, melihat tampilan Keana tadi memang membuat Sahar begitu terpesona hingga kehilangan akal sehatnya dengan langsung melumat bibir gadis itu begitu saja.

Heaven (gxg)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang