Kygo, Dean Lewis - Lost Without You (with Dean Lewis)
Happy reading
***
Author POV
Jakarta, Indonesia
Sudah seminggu lamanya Sahar menemani dan merawat Keana secara langsung di rumah sakit, gadis itu benar-benar tidak pernah terlihat pergi atau selangkah pun keluar dari gedung itu.
Hal itu pula yang membuat Jeje, Shanin, Rere dan Nadia sudah jarang terlihat di sana, dan sekarang pun sudah kembali ke kehidupan dan aktivitas sekolah masing-masing. Mereka sudah kompak untuk tidak ingin mengganggu Sahar yang sepertinya ingin selalu berada di sisi Keana.
Dan sejauh ini, di rumah sakit itu hanya terlihat Sahar dan Vikar, yang mana sesekali sosok Joshua juga tampak menunjukkan batang hidungnya di sana.
Ya, mengendap-endap bahkan sampai kejar-kejaran dengan satpam pun akan Joshua lakukan demi bertemu dengan Harumi ataupun hanya sekedar mengunjungi Dipha.
Seperti saat ini tepatnya pukul 13.00 siang, seorang dokter spesialis jantung beserta dua orang perawat sedang memeriksa kondisi Keana.
Namun sayangnya tidak ada Harumi di sana, karena di ruang inap itu ternyata hanya ada Keana, Sahar, Vikar dan tentu saja Joshua yang baru bergabung 15 menit yang lalu.
Joshua yang sedang duduk seorang diri di sofa itu bisa melihat dan merasakan keadaan canggung yang sedang terjadi, tepatnya pada Sahar dan Keana.
Dengan jari telunjuk dan tengah yang ia ketuk-ketuk pada bibir manyunnya, Joshua yang ikutan awkward hanya bisa memperhatikan ruangan itu, yang mana sosok Keana yang sedari tadi hanya diam mengabaikan mereka semua, kecuali menjawab ucapan sang dokter.
Alasan Keana bersikap seperti ini? Tidak lain tidak bukan, hanya karena sebuah handphone.
Ya, bisa disimpulkan sampai sekarang Sahar belum memberikan Keana sebuah ponsel baru.
Logikanya siapa yang tahan jika tidak diizinkan untuk memiliki ponsel hampir berminggu-minggu lamanya? Di zaman sekarang, tidak memegang ponsel selama beberapa jam saja rasanya tidak mungkin bisa.
Jadi, mau tidak mau semua orang sepertinya harus memahami bentuk protes dan kemarahan yang diperlihatkan oleh Keana sekarang, apalagi memang sudah tidak ada lagi alasan rasional dan bujukan bisa diucapkan.
Selain itu, tidak lama ini Keana juga sudah meminta kepada Sahar jika ia ingin pulang secepatnya.
Sejauh ini Keana sudah merasa lebih baik, hanya kakinya saja yang butuh pemulihan, tapi bukankah pemulihan tersebut bisa dijalani di rumah saja? Sungguh Keana juga sudah sangat jenuh di sana.
Di sisi lain, saat seorang dokter itu masih melakukan pemeriksaan dengan pertanyaan, jawaban bahkan banyak saran yang dilontarkan, Sahar yang sedang berdiri berdampingan dengan Vikar itu terlihat hanya diam, tapi raut wajahnya jelas ia sedang memikirkan sesuatu yang cukup rumit.
Entah berapa lama Sahar melamun, hingga tidak terasa jika dokter itu baru saja menyudahi sesi kunjungannya kepada mereka semua.
Namun setelah baru saja pamit dari sana, dokter yang baru melangkahkan kaki itu kembali menengok karena suara Sahar yang tiba-tiba terdengar,
"Maaf, jika anda tidak sibuk, bolehkah kita bicara sebentar?"
Di saat yang bersamaan, entah mengapa wajah Vikar tampak sangat terkejut, matanya langsung melirik Sahar yang masih berdiri di sebelahnya, sekaligus mengabaikan suara dokter yang mengiyakan ajakan Sahar barusan.
