Kodaline - Brother
Happy reading
******
Author POV
(Di waktu sekarang)
Osaka, Jepang.
Di sebuah gedung parkir.
Karin yang masih berdiri menghadap gedung-gedung bercahaya itu kemudian menengok ke belakang,
Melihat Sahar masih berdiri tidak jauh di belakangnya.
Kedua tangan adiknya tidak dimasukkan ke dalam longcoat yang terlihat hangat itu, tapi malah dibiarkan tetap di luar.
Hal itu juga membuat mata Karin sekilas menangkap jika kedua telapak tangan itu tengah mencengkram dengan kuat.
Bola matanya lalu bergerak ke atas melihat wajah adiknya.
Sepasang mata hazel sedang menatap lurus ke arahnya, ditambah sebuah tahi lalat di bawah mata yang sudah sembab tersebut, begitupun rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin malam.
Karin hanya melihat wajah itu sebentar,
Karena sekarang, di atas dinding pembatas itu, tanpa berkata apapun kedua kaki Karin terlihat baru saja melangkah, berjalan bolak-balik dengan santai di sana.
"Kakak.." ucap Sahar tiba-tiba.
Mendengar suara halus itu, tanpa menghentikan langkahnya Karin lalu menoleh pada Sahar.
"Jangan coba-coba mati sebelum kau menjelaskan semuanya."
Mendengar itu, tidak ada respon yang diperlihatkan oleh Karin, gadis itu malah kembali melangkah di sana untuk beberapa kali putaran.
Sedangkan Sahar masih diam berdiri memperhatikan tingkah kekanakan Karin.
"Berhentilah bermain-main."
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Karin kemudian.
"Semuanya, Karin! Katakan padaku yang sejujurnya bahwa kau benar-benar membunuh mereka!"
"Ya, aku melakukannya. Aku yang membunuh Adrian dan Sabrina." Karin berucap santai sembari menghentikan langkah kedua kakinya,
Badannya kemudian berputar menghadap lurus ke arah Sahar, sekaligus membelakangi pemandangan gedung-gedung bercahaya itu.
Tidak ada reaksi pada wajah keduanya selain mata hazel milik masing-masing saling menatap satu sama lain.
Sesaat dalam posisi itu, Karin lalu mengangkat sudut bibirnya, memperlihatkan sebuah senyuman yang sangat tipis pada Sahar yang baru saja menjatuhkan kembali air matanya.
Sahar sudah tidak mengerti.
Senyuman Karin yang selama ini membuatnya merasa aman itu sekarang terlihat sangat mengerikan.
Sahar seperti sudah tidak mengenal siapa manusia yang ada di hadapannya sekarang.
Hening untuk waktu yang lama...
Di tengah malam yang dingin itu,
Dengan mulut yang sama-sama mengeluarka asap, keduanya masih berdiri menatap mata satu sama lain, bahkan hembusan angin itu tidak berhenti menerbangkan helaian rambut mereka.
Hingga suara Karin lalu terdengar memecah keheningan yang terjadi,
"Kau memiliki sesuatu di balik baju itu, bukan?" ujar Karin sambil mengubah posisinya menjadi duduk bersila di dinding pembatas,
