"CIE HABIS DATE SAMA SELINAA!"
Tian yang baru saja sampai di ambang pintu rumah terkejut saat Jo langsung menyambutnya dengan pekikan.
"Bikin kaget aja kamu honey." Tian mencolek gemas hidung Jo sebelum akhirnya merangkul bahu adiknya tersebut.
"Eh ada apa ini?" Tian menatap dengan heran pemandangan yang ada di depannya, dimana Papi dan Mami nya terlihat memang sudah menunggu kehadiran dirinya di sofa ruang tamu.
"Nah akhirnya si main character dateng juga. Yuk sini Tian, duduk depannya Papi." Ucap Mami.
"Jo dimana Mii?" Tanya Jo.
"Jo disini ajahh sama Mami." Mami menepuk nepuk tempat di sampingnya.
Kakak beradik itupun mengambil tempat duduk sesuai dengan instruksi dari kedua orangtua mereka.
Saat Tian sudah duduk di hadapannya, Papi langsung angkat bicara. "Gimana, Tian?"
Tian sempat terdiam sejenak, kemudian saat menyadari kemana arah pembicaraan mereka malam hari ini, ia kemudian segera memberikan konfirmasi. "Tian sama Selina belum pacaran."
"Ohh belumm." Mami dan Jo kompak berucap dengan nada yang menggoda.
Tian kembali menatap heran, apalagi saat melihat Papi yang menghela nafas.
"Kamu udah sempet ketemu sama orang tua Selina?" Tanya Papi, dan kemudian langsung diangguki oleh Tian.
"Udah Pi."
"Orang tua Selina baik sama Tian, dan Tian juga nyaman ngobrol sama mereka, Tian ngerasa sefrekuensi."
Jo diam-diam mengangguk, sudah pasti akan sefrekuensi, sih.
"Tian, Papi mau tanya satu hal. Tapi, kamu harus bisa jawab dengan jujur. Bisa?"
Glek.
Suasana apa ini? Kenapa mendadak mencekam? Seingat Tian Papinya tidak pernah ikut campur saat Tian dekat dengan gadis manapun.
"Bisa Pi."
"Kamu serius sama Selina?"
Pertanyaan tersebut langsung Tian respon dengan anggukan mantap. "Iya Pi, Tian serius."
Kemudian helaan nafas kembali keluar dari Papi. "Kamu nggak manfaatin dia buat bisnis kamu kan Tian?"
"Maksudnya manfaatin?" Mami langsung menyenggol pelan lengan Jo yang tadi melontarkan pertanyaan, mengisyaratkan putri bungsunya untuk diam. Biarlah dulu ini menjadi percakapan serius antara Papi dan Tian.
Tian yang sadar akan dugaan Papinya langsung memberikan penjelasan. "Tian sama sekali nggak ada niat untuk manfaatin Selina, Pi. Tian awalnya emang ngedeketin Selina dengan cara nawarin kontrak model GentIan ke dia, itupun karena Tian yakin sama potensi yang dia punya. Tapi terlepas dari semua itu, Tian beneran tulus sama dia."
"Papi tau kamu orangnya pasti bodoamatan sama pandangan orang lain. Tapi Selina lumayan terkenal di sosial media, begitu juga kamu. Pasti akan ada beberapa oknum yang punya asumsi buruk tentang hubungan kalian. Dan disaat semua itu terjadi, kamu harus bisa dan siap menjaga Selina."
Tian berusaha mencerna wejangan Papinya. "Jadi maksud Papi, akan ada beberapa orang yang memberikan sudut pandang negatif ke Tian dan Selina karena hubungan pribadi dan hubungan kita di bisnis?"
Papi mengangguk. "Dan seperti yang kamu tau, rumor apapun yang mengenai pasangan di sosial media, yang lebih dirugikan adalah pihak perempuan, karena cercaan yang di dapat pasti lebih parah. Jadi, setelah kamu memutuskan untuk menjadikan Selina bagian dari hidup kamu, kamu harus siap untuk melindungi dia, dari apapun dan siapapun."
KAMU SEDANG MEMBACA
Circle
Teen FictionFOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA! Untuk kaum pelajar yang bersekolah di SMA/SMK dan sejenisnya pasti sudah tidak asing dengan 'pembagian circle' pada tiap daerah sekolah mereka. Umumnya, circle-circle paling mendominasi dan cenderung ada di tiap sekola...
