49. The MEETING•

495 42 3
                                        

Sultan sesekali menatap lekat pada Athena yang sedang fokus pada tumpukan buku-- gadis tersebut sedang mengerjakan soal, mengingat hari ujian sudah semakin dekat.

Tinggal beberapa hari lagi, dan Athena memutuskan untuk semakin ambisius, ia belajar dimanapun, termasuk di ruangan pribadi Sultan, ruangan yang dulunya membuat ia sama sekali tidak nyaman.

Dan ketika Athena menutup semua bukunya, Sultan segera berujar. "Eh? Aku ganggu kamu ya, Na?"

Sembari merapikan alat belajarnya, Athena menggeleng. "Aku capek."

Sultan pun ikut merapikan, sembari mengamati raut Athena yang memang terlihat kelelahan.

Setelah selesai, Sultan segera menarik Athena untuk berada di dekatnya. "Cape ya? Mau peluk?"

Athena mendengus geli. "Apa-apaan banget kamu, nyari kesempatan disaat aku pusing?"

Sultan segera menampakkan raut wajah tidak terima. "Aku kan mau jadi yang ngilangin capek kamu."

Athena terkekeh, namun setelahnya tetap bersandar pada bahu Sultan.

Sultan mengelus surai Athena. "Ciee bentar lagi udah kuliah."

"Ciee bentar lagi LDR." Athena balik meledek.

"Dih enak aja, aku dalam waktu seminggu pasti bakal selalu ke tempat kamu." Balas Sultan dengan cepat.

Athena segera menarik tubuhnya. "Jangan lah! Indonesia-Columbia nggak sedeket itu,  bakal habis banyak ntar kamu. Habis duit, energi--

"Uang bisa terus dicari, dan pas ketemu kamu juga energi aku ke-charge otomatis."

"Udah ya nggak ada penolakan. Pokoknya aku bakal ke tempat kamu setiap minggu." Sultan berkata dengan tegas.

Athena membalasnya dengan kekehan, sebelum akhirnya ia mendadak terdiam.

Sultan yang menyadari perubahan ekspresi Athena, kemudian mengelus pipi Athena dengan lembut, dan bertanya. "Kenapa hm?"

Athena tersenyum kecut, ia kemudian balik menggenggam tangan Sultan yang masih berada di pipinya. "Nggak usah bahayain diri kamu ya? Papa kamu pasti curiga kalo kamu flight setiap minggu."

"Nggak mungkin juga kan kamu bilang mau jenguk aku?" Lanjut Athena, masih dengan senyum yang Sultan tau, bahwa ia paksakan.

Sultan tersenyum. "Mungkin dongg."

"Masalah Papa gampang, tinggal bilang yang sebenarnya aja."

Athena mengerjap. "Udah aku bilang, jangan bahayain diri kamu."

"Loh? Bahayain gimana sih sayang?"

Athena mendengus, ia mengalihkan pandangannya. "Aku nggak mau jadi alasan kamu ribut sama Papa kamu." Ia berujar pelan.

"Naa." Panggil Sultan lembut, ia meraih kedua bahu Athena agar bisa berhadapan dengannya.

"Maaf udah buat kamu ada di posisi ini ya? Kamu pasti kebingungan banget selama ini."

Sultan menghela nafas. "Maaf kalo proses aku kesannya lama banget. Selama ini, banyak banget pertimbangan yang aku bikin, yang cukup menyita waktu aku, Na. Tapi apapun itu, tujuan aku dari awal ketemu kamu sampe sekarang masih sama.. aku pengen pertahanin kamu."

Athena menggeleng pelan. "Your company." Lirihnya.

Sultan tersenyum. "Na, kamu nggak usah khawatirin itu lagi. Semuanya udah baik-baik aja."

"Nggak akan ada yang baik-baik aja selagi Papa kita nggak akur." Balas Athena cepat.

Sultan membawa Athena ke dalam dekapannya. "Aku udah nemu solusinya. Solusi yang dari awal aku kesusahan banget untuk nemuin, tapi akhirnya bisa."

CircleCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang