Wanda saat ini tengah berada di kediaman Jo, sedang duduk melamun di sofa karena kepikiran insiden yang menimpa Sophia.
"Itu orang tuh sengaja biar konsennya Sophia keganggu anjir, satu dunia juga tau CIS lagi ujian sekarang. Dia kayak seakan nunggu banget momen dimana Sophia jatuh." Omel Jo kesal, ia benar-benar tidak terima saat sahabat baiknya mendapat kecaman dari banyak pihak, dan bahkan.. MEDALI SOPHIA TERANCAM DITARIK?!
Wanda menghela nafas jengah, "Lo tau apa yang lebih mengesalkan dari semua ini Jo?"
"Semuanya juga ngeselin Wan." Jawab Jo.
Wanda menggeleng, "Nggak. Yang paling mengesalkan itu adalah ketika SI PIHAK LAKIK DIEM AJA KAYAK ORANG BEGO! ANJ GENTLE DIKIT KEK?!" Oke, Wanda sudah keceplosan berbicara kasar kelewat gedeg.
Jo membulatkan bibirnya. "OIYA gue baru inget ini tuh masalah dua pihak."
"Iyakan? Giliran ngedeketin si Sophia aja dia gacor, giliran kena masalah ngilang kayak pengecut."
"Etapi tadi pas Athena nanya, Sophia sempet bilang kalo Pak Sadewa katanya bakal mengusahakan nggak sih?" Ujar Jo kembali mengingat-ingat curhatan Sophia pagi tadi.
"Ngomong doang mah gampang Jo, yang kita perluin di saat ini tuh aksi. Kebukti kan, udah 12 jam lebih saat rumor itu kesebar, si Sadewa Sadewa itu nggak ada ngambil tindakan apa-apa? Circlenya juga noh, dari luar aja sok keras njir, malah cuma Maminya Frey aja yang baru bantu ngambil tindakan hukum."
Jo berpikir. "Apa kita sekarang ke rumahnya Sophia lagi ya, Wan?"
"Mending nggak usah deh Jo. I know her so well, dia bakal lebih suka sendiri di saat-saat kayak gini." Sahut Wanda.
Jo menghela nafasnya. "Kasian banget deh Sophia huhu."
Wanda mengangguk mengiyakan. "Karsa nggak ada ngomong apa-apa soal ini?"
"Dia bilang, dia nggak nyangka Pak Sadewa bakal kecolongan gini."
"Ya kita juga nggak nyangka Sophia bakal kecolongan gilakk! Padahal dia selalu menentang kebulol-an, dan sekarang dia ngalamin langsung, mana langsung kena imbasnya."
Jo kembali menghela nafas, ia baru akan berujar saat menyadari handphone Wanda menyala.
"Eh Wan, ada yang nelpon tuh."
Wanda menoleh pada ponselnya yang tergeletak tak jauh dari sofa ia duduk, dan saat ia melihat siapa yang meneleponnya, muka Wanda berubah menjadi kusut.
"Biarin lah, nggak usah diangkat."
"Loh kenapa? Dari siapa emang? Dari Papa lo?" Heran Jo.
Wanda sontak menggeleng. "Dari si Candra."
"Buset dah, dari tahun orok masalah lo berdua kagak selesai-selesai juga?!?!" Pekik Jo.
"Ya gimana mau selesai kalo dia tiap hari ada aja gebrakannya, Jo!!" Wanda ikut memekik.
"Emang kali ini apa gebrakannya?" Tanya Jo penasaran.
"Sekitar 2 minggu lalu sebelum ujian ada yang ngirimin gue foto dia ciuman sama cewek lain."
Jo melotot. "THE HELL?!"
"Ya sebenernya ngapain juga gue marah orang nggak ada hubungan apa-apa. Tapi bodohnya gue malah marah Jo."
"Wajar nggak sih? Toh dia juga intens banget ngedeketin lo."
"Asli dah ini gengnya Sultan pada sakit jiwa semua, awas aja endingnya gue sama Bara ya."
Jo segera menabok bahu Wanda. "Sembarangan lo."
Wanda kembali menatap ponselnya yang terus menyala, menandakan panggilan dari Candra belum juga berakhir.
KAMU SEDANG MEMBACA
Circle
Ficção AdolescenteFOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA! Untuk kaum pelajar yang bersekolah di SMA/SMK dan sejenisnya pasti sudah tidak asing dengan 'pembagian circle' pada tiap daerah sekolah mereka. Umumnya, circle-circle paling mendominasi dan cenderung ada di tiap sekola...
