"Buset dah tuh kakek-kakek, udah tua bukannya malah tobat, dia malah menambah dosa!" Zoey sudah mencak-mencak.
Sepulang dari kantor detektif, geng cebu memutuskan untuk mampir dulu di salah satu restoran di mall untuk mengisi perut mereka yang kosong.
"Jujur, gue nggak ekspek dia bakal seniat itu untuk stalking kita satu-satu. Dan gobloknya lagi kok bisa kita nggak nyadar?" Audrey masih mencoba untuk berpikir dan mencerna semua kejadian yang terlalu waw untuk mereka saat ini.
"Dia gitu karena nggak punya kerjaan njir. Ya gak si? Kan dia udah diberhentiin dari sekolah, makanya dia ada banyak waktu luang untuk mikirin rencana balas dendam ke kita. Apalagi anaknya masih mendekam noh di lapas." Terka Wanda.
"Tapi gue juga sama bingungnya kayak yang diomongin Audrey di point akhir. Kok bisa ya satupun dari kita nggak ada yang nyadar di mata-matain sama dia?" Ujar Jo.
"Tapi, gue nemu pattern sama di foto yang tadi sempet ditunjukin sama Mr.Lawson." Ucap Frey.
Kemudian ia melanjutkan. "Nyadar gak kalian? Si kakek itu selalu ada di momen-momen genting kita. Contoh, ada foto si kakek itu stalking Yara sampe RSJ, ada juga yang dia ngintilin Athena sama Sultan berduaan di toko Ice Cream."
Frey menghela nafas. "Dari pola itu kita bisa simpulin kalo dia mau nyari bahan untuk 'ngehancurin' kita pelan-pelan. Dan dia cukup pinter untuk nyari itu di momen genting kita, momen dimana kita nggak bakal nyadar karena fokus kita cuma satu."
Brak!
Selina tiba-tiba menggebrak meja dan membuat orang-orang sekitaran menoleh dengan kaget.
"Dimana sih rumahnya?! Pengen gue kulitin sekarang rasanya!" Ia berbicara keras, lagi-lagi mengundang perhatian.
Wanda yang melihat itu meringis. "Woy Sel, inget yaa lo lagi nggak sewa tempat ini, jadi ini tempat umum! Gini deh kalo kebiasaan ngosongin tempat buat nongkrong."
"Masalahnya gue emosi?!"
"Tapi feeling gue dia nggak sendirian." Ucap Sophia, akhirnya dia ngomong juga.
"Pasti sih, strateginya lumayan bagus untuk bisa dikategorikan solo." Sahut Audrey.
Athena menghela nafas. "Gue telpon Sultan ya?"
"Nggak usah!" Yang lain menyahut dengan serempak, membuat Athena sedikit mengerjap.
"Na, kamu nggak inget ya tadi detektifnya bilang kalo dia bahaya?" Yara bertanya dengan pelan.
"Bahaya gimana, Yar? Dia pacar gue sendiri kok."
"Kita sekarang lagi ada di posisi nggak bisa percaya sama siapa-siapa, even dia pacar lo sendiri, Na. So please, ini bukan buat Athena aja, tapi buat kita semua. Tolong jangan ceritain masalah ini dulu ke siapapun." Frey berucap.
"Tapi siapa tau Sultan bisa bantu, kan? Di permasalahan-permasalahan kita sebelumnya dia selalu bantu kok. Dia nggak akan pernah bahayain gue."
"Athena, just keep this problem only for us. Lo nggak percaya sama kemampuan kita sampe harus terus-terusan bergantung sama pacar lo itu?" Selina menatap dengan jengah.
"Selina bukan gitu, gue--
"Oke, stop!" Wanda akhirnya menengahi.
"Habis makan bukannya adem ayem ini malah debat."
"Jadi gimana? Kita ikutin rencana kepala detektif itu?" Tanya Zoey sembari menyeruput banana milkshake miliknya.
"Kalo menurut gue pribadi itu kelamaan, bisa aja bakal ada korban selanjutnya setelah gue. Udah cukup satu kali kita lengah." Sahut Sophia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Circle
Fiksi RemajaFOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA! Untuk kaum pelajar yang bersekolah di SMA/SMK dan sejenisnya pasti sudah tidak asing dengan 'pembagian circle' pada tiap daerah sekolah mereka. Umumnya, circle-circle paling mendominasi dan cenderung ada di tiap sekola...
