54. Hope•

378 36 24
                                        

Kabar kemenangan Sophia sudah menyebar, ke satu platform Indonesia, khususnya di platform pendidikan. Semua orang tentunya merasa sangat bangga terhadap gadis berambut panjang tersebut, karena kembali membawa harum nama bangsa dan negara.

Sudah banyak yang membuat ucapan di online, banner, dan tak sedikit yang mengirimkan bunga langsung ke depan gerbang CIS, dan depan rumah Sophia.

Semuanya sangat turut serta berbangga terhadap kerja keras gadis itu. Tak dapat mereka bayangkan, sekeras apa usaha Sophia melawan orang-orang dari seluruh penjuru dunia yang tentunya tak kalah hebat.

Kemenangan Sophia malam ini membawa berita sejuk nan bahagia untuk seluruh orang.

Namun, berbeda dengan mereka yang sibuk merayakan kemenangan dirinya, disinilah Sophia, termenung menatap ke luar kaca mobil, tatapannya terlihat sendu dan kosong.

Jam menunjukkan pukul 3 dini hari. Tadinya setelah menerima penghargaan, Sophia memutuskan untuk langsung landing ke Jakarta, nyatanya ia tidak tenang karena ujian tengah berlangsung dan menunggu.

Sophia benar-benar tidak mengizinkan dirinya untuk beristirahat, tadi ia sempat belajar dan segera dihentikan oleh Sadewa saat guru muda tersebut mendapati Sophia mimisan.

"Ini lomba terakhir kamu di SMA. Gimana perasaan kamu?" Sadewa yang duduk di sebelah Sophia bertanya, berupaya memecahkan keheningan.

Butuh waktu lama untuk Sophia bisa menjawab.

Kemudian terdengar helaan nafas pelan. "Saking pusing dan capeknya, kayaknya saya mati rasa deh, Pak. I can't feel anything."

Sadewa lantas memandangi Sophia dengan khawatir. "Saya selama pelatihan terlalu keras ya?"

Sophia perlahan membalikkan badannya menghadap Sadewa, ia kemudian menggeleng. "Justru karena bapak, saya jadi sadar betapa pentingnya istirahat. Sebelum dibimbing sama bapak, saya lebih keras dari ini."

"Itu artinya kamu selalu keras ke diri kamu sendiri."

"Siapa yang buat kamu kayak gini?" Tanya Sadewa.

Sophia mengangkat bahunya. "Nothing. Emang udah setelan pabrik, dari kecil juga saya udah ambis."

Sadewa memandangi Sophia dengan seksama, memang sangat susah untuk membuat gadis satu ini terbuka.

"Nggak tidur?" Akhirnya itu yang ia keluarkan.

Sophia menggeleng pelan. "Saya nggak bisa tidur di dalam mobil."

Sadewa mengernyit, "Kenapa?"

"Nggak empuk, nggak ada bantal." Sahut Sophia singkat.

Tanpa di duga, Sadewa langsung merapatkan dirinya pada Sophia. "Senderan di bahu saya aja."

Sophia mengerjap, terlalu terkejut dengan perlakuan tiba-tiba ini.

"Kenapa? Bahu saya empuk kok."

Sophia berdehem pelan, "Makasi pak, tapi nggak usah. Saya juga nggak ngantuk."

"Kalo kamu lupa, saya diberikan tanggung jawab oleh kepala sekolah, yang notabene nya adalah paman kamu, jadi bisa bahaya kalau kamu sakit."

Sophia terkekeh pelan, "Cewek anti banting kayak gini mana mungkin bisa sakit."

Sadewa memicingkan matanya. "Serius anti banting?"

"Kenapa? Bapak perlu dibanting dulu biar percaya?"

Sadewa bergidik ngeri. "No, thanks."

Sophia tertawa pelan.

"Sop, hal apa yang buat kamu bahagia?" Sadewa bertanya.

CircleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang