51. Love Language•

439 34 15
                                        

"Halo? Selamat malam kakakku yang paling ganteng!!" Seorang gadis dengan rambut yang tergerai menyapa dengan ceria seorang pasien rumah sakit jiwa yang sedang terduduk di ranjang kamar.

Orang tersebut menoleh, sedikit tersenyum melihat kedatangan adiknya. "Yara kenapa kesini? Nggak dimarahin sama Papa Mama?"

Ya, gadis tersebut adalah Yara.

Yara yang sudah mendudukkan dirinya di tepi ranjang segera saja mengibaskan tangannya. "Baru jam 7 mah aman Kakak Yaren, lagian tadi Yara juga udah bimbel."

Kakak Yara yang bernama lengkap Skayaren Raswana itu tersenyum tipis, ia mengangkat tangannya untuk mengelus surai lembut adiknya. "Yara nggak capek?"

Yara yang ditanya seperti itu memajukan bibirnya. "Cape sihh, tapi pasti lebih cape kakak. Jadinya Yara nggak boleh sembarang ngeluh."

Yaren sedikit mengernyit. "Siapa bilang gitu? Yara boleh ngeluh ke kakak."

Yara tersenyum, mana mungkin.

"Ah udahlah lupain aja. Perasaan Kak Yaren hari ini gimana? Udah minum obat?" Yara segera mengalihkan topik pembicaraan.

Yaren mengangguk. "Udah, perasaan kakak juga baik, tambah baik pas kamu dateng, nanti sering sering jenguk ya? Kakak disini kesepian banget."

Ada sesuatu yang remuk dalam diri Yara saat ia mendengar permintaan yang sangat polos dari kakaknya. Bagaimana ia bisa menolaknya? Yara sadar bahwa kakaknya itu hanya punya ia seorang.

Yara segera saja tersenyum lebar. "Oh sudah pasti dong, setiap ada kesempatan Yara akan jenguk kakak."

"Tapi kalo Yara capek habis belajar gapapa nggak jenguk kakak."

"Yara nggak akan pernah capek belajar, kan Yara belajarnya juga demi kakak."

In fact, Yara dari tahun-tahun sebelumnya, tepatnya ketika kakaknya dinyatakan mengalami gangguan mental, sudah membulatkan keputusan kalau ia ingin mengambil jurusan Psikologi.

Namun hal ini ia rahasiakan dari semua orang, termasuk kepada teman-temannya. Yara mengatakan kalau ia mengambil Ilmu Komunikasi. Yara hanya tidak ingin orang-orang semakin merasa simpatik kepada dirinya.

"Oh iya ini Yara ada bawain kakak cemilan sehat, Yara udah tanya sama perawatnya juga tadi, dan perawatnya bilang aman."

Yaren tersenyum, memang hanya gadis itu yang perhatian pada dirinya.

Kemudian mereka berdua terlonjak kaget saat knop pintu ruangan VIP tersebut berbunyi. Yara mengernyit, bukannya waktu besuk untuk Yaren adalah 15 menit? Dan ini bahkan belum 15 menit.

Kemudian saat ia tersadar sesuatu, ia membulatkan mata. Yara menoleh dengan kasar ke arah belakang.

"Pa-papa? Mama?"

Dan begitulah, ketakutannya benar-benar terjadi.

Kedua orang tuanya berdiri tepat di depan ia dan Yaren, tampak tidak terlalu terkejut, seperti sudah menduga keberadaan Yara.

Melihat tatapan dingin kedua orang tuanya, Yara segera menghampiri dengan raut memelas.

"Pa, Ma, tolong jangan marahin Yara. Ya-yara baru kali ini aja jenguk kakak, itu karena Yara kangen, Yar--

Plak!

Yara jatuh tersungkur begitu saja saat mendapat tamparan keras dari sang Papa. Bayangkan tenaga laki-laki yang kuat digunakan untuk seorang gadis serapuh Yara.

"Kamu tidak usah berbohong Yara! Kamu pikir saya bodoh dengan tidak melihat riwayat jenguk Yaren?!"

Yara bungkam, sial, ia terlalu ceroboh.

CircleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang