47. A Date Before The Eclipse

177 14 1
                                        

Aloha, pembaca yang saya cintai dan saya banggakan

Lagi2, PTMH molor semolor2nya untuk update, dan kali ini kayaknya udah nyetak rekor baru, butuh setahun untuk up chapter baru lagi, kan maennn🏃‍♂️

Jujur aja maju mundur banget buat up sekarang atau tunggu chapter ending rampung dulu baru up sekalian sampai selesai.. tapi dengan penuh pertimbangan, part 47 inipun akhirnya tayang ygy😊

Tolong tetap nantikan cerita Agatha di dimensi Villucia ya my beloved readers😿💓💓💓

Btw chapter kali ini berisi 4800an kata loh di luar yapping author🥰

Hope you guys enjoy, and happy readingggg😘

Ps. Penumpang kapal Abercio dan Elios, silakan berpegang kuat-kuat karena sekarang adalah waktu bagi Quentin a.k.a Arion untuk bersinar wahaha👻

a Arion untuk bersinar wahaha👻

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Sebelumnya...

Abercio tengah bertarung sengit melawan Elios yang, harus dia akui, benar-benar mahir menggunakan pedang sekaligus sihirnya. Tak heran jika lelaki satu itu ditakdirkan untuk menjadi kaisar selanjutnya bagi Villucia.

Abercio nyaris tersudutkan ketika luka bekas tancapan belati di punggungnya terbuka lebar akibat gerakan berlebih sehingga darah segarpun kembali mengucur dari sana.

Nona Callie sialan.

Ck, harusnya Abercio meminta bantuan dokter Lawrence untuk menyembuhkannya sebelum pria itu pergi membawa Agatha.

Dentuman besi tajam yang saling bertemu, dan deru napas yang berpacu bersama getaran tanah di setiap langkah yang penuh perhitungan, menjadi satu-satunya perpaduan suara yang menemani serangan demi serangan yang mereka layangkan untuk satu sama lain.

Satu ayunan pedang yang begitu cepat datang dari Elios, membuat Abercio segera menangkisnya walau luka di punggung membuat gerakannya lebih lambat, dan nyeri yang tercipta berhasil meloloskan rintihan kecil di wajahnya yang dingin.

Elios menyadari itu. Ia tahu mengenai luka akibat tikaman belati yang dilayangkan oleh orang yang begitu Abercio percaya.

Memanfaatkan luka yang memperlambat gerakan lawannya, Elios lantas melayangkan serangan bertubi-tubi, meningkatkan kecepatannya dengan bantuan sihir yang meringankan beban pedang dan gerakannya. Memaksa Abercio untuk fokus menangkis hingga ia tak sadar telah terpojokkan.

Ketika celah itu muncul, Elios memberi serangan terakhirnya yang ia yakin tak akan sempat untuk ditangkis.

Abercio lengah. Ia tak dapat mengangkat pedangnya tepat waktu. Rasanya waktu berjalan begitu lambat kala kilatan bilah tipis itu melayang ke arahnya, tepat ke arah vital di antara bahu dan kepalanya.

Abercio ... Akan mati?

Saat ini juga?

Trang!

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 22 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Please, Take Me Home!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang