Agatha adalah seorang gadis 21 tahun yang baru saja menyelesaikan studinya di sebuah Universitas ternama sebagai lulusan terbaik.
Namun, menjadi lulusan terbaik dengan IPK sempurna nyatanya tak dapat membuat hidupnya yang adalah seorang yatim piatu...
Seperti judulnya, chapter ini masih ngebahas masa lalu yess^^
Happy bacaaa✨✨✨
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nyaris tujuh tahun telah berlalu setelah Isabelle tak jadi diadopsi hari itu. Ia tak lagi tinggal di panti asuhan Roosevelt setelah dibeli oleh seorang keluarga kaya dan dijadikan budak. Ya, budak. Isabelle beberapa kali hendak melarikan diri akibat tak tahan dengan kehidupannya yang begitu menyedihkan. Terakhir kali ia melakukannya, adalah saat ia nyaris kembali tertangkap namun untungnya seseorang berbaik hati menyembunyikan dirinya dari orang-orang suruhan sang majikan yang mengejarnya.
"Terima kasih, tuan. Terima kasih, saya berutang seumur hidup pada anda, terima kasih.." ucapnya sungguh-sungguh pada pemuda yang berbaik hati mengizinkan Isabelle bersembunyi di dalam kereta kuda miliknya.
"Bukan masalah." Pemuda itu mengangkat tangannya meminta Isabelle berhenti menunduk berterima kasih. Lantas menyodorkan sebuah roti yang masih hangat dan terbungkus kertas. Roti yang pemuda itu beli dengan menyuruh pengawalnya beberapa saat lalu. "Ambil ini, dan ... Semoga keberuntungan selalu menyertaimu," kata pemuda bermata emas itu sebelum berlalu dengan keretanya.
Isabelle menerima roti pemberian si pemuda baik hati. Sedang pikirannya kini menerka-nerka sesuatu soal mata emas yang dimiliki pemuda yang nampak seumuran dengannya itu.
Lantas, ia terbelalak saat menyadari bahwa ... hanya keluarga kerajaan lah, yang memiliki mata berwarna emas itu.
"Apa mungkin dia ... Yang Mulia Elios De Vell??!” Isabelle menangkup bibir saat tersadar ia baru saja berbicara cukup lantang. Berbalik untuk melihat kemana kereta calon putra mahkota kerajaan itu pergi, Isabelle lantas mengernyit saat melihat sang Pangeran turun di depan toko bunga yang berjarak cukup jauh--sekitar 30 meter--dari tempatnya berdiri.
Memeluk roti pemberian sang penolong di depan dada, Isabelle picingkan mata untuk melihat seorang gadis yang keluar dari toko bunga, dan disambut dengan senyum oleh Pangeran Elios.
Dia bahkan tak mengukir senyum sekalipun saat berbicara denganku tadi..
"D-dia..?" Isabelle kian mengeratkan pelukannya di roti hangat itu. Gelungan kebencian hebat yang tak pernah lagi ia rasakan, kini meruak kembali ke permukaan. Gadis itu. Gadis yang kini menyelipkan tangannya ke lengan Penolong Isabelle, gadis yang merebut harapan Isabelle satu-satunya tujuh tahun lalu. "Eleanor... Kau.. dasar ... jalang!" umpatnya dengan napas memburu, seraya memandang kereta yang membawa Pangerannya serta gadis yang dibencinya pergi.
Kenapa... Harus Eleanor? Kenapa gadis itu lebih beruntung dibanding Isabelle? KENAPA??! Bukankah mereka sama-sama berasal dari panti asuhan? Mereka sama-sama tak memiliki orang tua, lalu... kenapa??! Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa?!!!
Tepat saat Isabelle mengutuk nasibnya yang tak sebaik Eleanor, sebuah portal hitam muncul di hadapan gadis itu. Terhenyak, Isabelle tak sengaja menjatuhkan roti hangat pemberian sang Pangeran yang belum sempat ia cicipi. Diliriknya kiri kanan untuk memastikan apakah orang-orang di sekitarnya juga melihat portal berbau busuk di depannya ini. Namun nihil, nyatanya hanya Isabelle lah yang mampu melihat portal itu. Ia pula satu-satunya yang mampu mendengar suara-suara mengerikan di dalam portal yang begitu gelap itu.