Haiii, Agatha balik lagi nih!
Terima kasih sudah menekan bintang sebelum membaca cerita ini ^^
Happy Reading!
***
"Apa yang ... Hik! Anda lakukan Yang--Hik--mulia?" Ohh!! Agatha merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa kebiasaannya di kehidupan dulu terbawa hingga sekarang? Cegukan dikala gugup. Sungguh memalukan.
"Rupanya benar - benar raspberry, seperti yang kuduga," ujar pria itu dengan begitu santai alih - alih menjawab pertanyaannya.
Dan Agatha yang mendengar ucapan pria yang kini ia juluki gila itu, hanya bisa terpaku di tempat. Membiarkan cegukannya mengisi keheningan diantara mereka.
***
"Yang Mulia, hik!" Agatha tersadar dari ketakjubannya terhadap pria gila di depannya ini, dan langsung mengambil gerak mundur. Menjauhkan dirinya dengan menggeser duduk ke bagian terujung sofa empuk yang kini terasa seperti tumpukan batu tajam bagi Agatha. Membuatnya tak betah dan ingin cepat - cepat bangkit dari duduknya.
"Anda seharusnya tidak melakukan itu," lanjutnya yang masih diiringi dengan cegukan pelan.
"Memangnya kenapa?" Seolah tidak melakukan apapun, Elios malah bertanya dengan begitu santai. Wajahnya masih saja menampilkan ekspresi datar walaupun sempat tercetak seringai geli di sana ketika melihat selai raspberry tertempel di kepangan rambut hitam gadis di depannya.
Agatha tak tahu harus memberi jawaban apa untuk pertanyaan menantang dari pria gila itu. Ya, ia akan terus memanggil Elios pria gila mulai sekarang. Di dalam hati tentu saja. Kematiannya tidak akan menunggu akhir cerita jika ia sampai berani memanggil sang pemeran utama dengan sebutan gila. Oh, mengingat kematian, perut Agatha serasa dikocok - kocok hingga membuatnya mual.
"Kau mengabaikanku, Eleanor?"
Pertanyaan yang sarat akan ancaman itu sukses membuat Agatha kembali ke dunia nyata. Kepala yang tadinya menunduk, kini ia arahkan pada pria gila itu yang rupanya sudah kembali ke tempatnya tadi. Syukurlah, setidaknya Agatha bisa bernapas dengan normal kembali. Keberadaan pria itu di sampingnya--dengan jarak yang begitu dekat tadi, membuat pasokan oksigen di sekitar Agatha terasa menipis hingga gadis itu sulit bernapas teratur.
"Ma-maaf, Yang Mulia, saya hanya ... Bingung harus menjawab apa," aku Agatha. Tak ada salahnya berkata jujur, bukan?
Elios mengernyit mendengar jawaban atau lebih tepatnya pernyataan Eleanor yang begitu jujur. Ia tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari bibir gadis pucat itu.
Tidak tahu hendak menjawab apa? Cih, sepertinya kepala gadis itu bermasalah, hingga untuk menjawab pertanyaan sederhana saja membuatnya kebingungan. Batin Elios.
Kini matanya beralih dari netra biru Eleanor--yang hari ini entah kenapa menguarkan binar asing, bukan lagi binar mendamba seperti yang selalu ditunjukkan gadis itu kala menatapnya--menuju perban putih yang membalut dahi gadis itu, melingkar hingga ke belakang kepalanya.
Walaupun Elios menyaksikan sendiri bagaimana Eleanor terjatuh hari itu, namun dirinya benar - benar tidak tahu pasti di kepala bagian mana gadis itu terbentur hingga mengeluarkan darah sebanyak waktu itu.
Katakanlah dia ... tidak peduli dengan apapun yang terjadi pada Eleanor Rossemarry. Bahkan ketika melihat gadis itu terbaring tak sadarkan diri di pangkuan pelayan pribadinya dengan bersimbah darah, Elios tak sudi untuk mengangkat gadis itu dan membawanya ke tempat yang lebih nyaman dan aman untuk si gadis sekarat.
Sebut saja ia tak berperasaan. Ia tak peduli, karena hal itu memang benar. Apalagi jika menyangkut tentang Eleanor, gadis jahat yang selalu menyiksa Isabelle yang dicintainya. Gadis tak tahu diri yang memaksakan pertunangan mereka walaupun tahu dengan sangat jelas bahwa Elios tak pernah dan tak akan pernah memiliki perasaan apapun untuknya. Kecuali benci. Ya, benci. Elios sangat membenci Eleanor.
KAMU SEDANG MEMBACA
Please, Take Me Home!
FantasíaAgatha adalah seorang gadis 21 tahun yang baru saja menyelesaikan studinya di sebuah Universitas ternama sebagai lulusan terbaik. Namun, menjadi lulusan terbaik dengan IPK sempurna nyatanya tak dapat membuat hidupnya yang adalah seorang yatim piatu...
