Halooww
Maaf ngaret..
Masih hari rabu, kan, ini? Hehe
Karena bentar lagi udah mau jam 12 (author tinggal di daerah WITA btw), jadi gak bisa bikin note banyak - banyak, so.. kalian baca aja langsung yess..
Maaf ngarettt:)))))
***
"Hoaamm~"
"Nona, tidak baik menguap seperti itu bagi seorang Lady seperti anda," peringat Vera yang tengah menata rambut Sang Nona dengan telaten.
"Aku tidak tidur nyenyak semalam, dan kau membangunkanku lebih cepat dari biasanya, Vera. Aku belum puas tidur," keluh Agatha.
Semalam ia tak dapat memejamkan mata hingga pukul dua dini hari karena sibuk menyesali perbuatannya di tangga sore itu. Bisa - bisanya ia memeluk Quentin dengan sangat erat disaat semua pelayan di ruangan itu tengah mengerumuninya yang hampir terjatuh di tangga!
Psshhh
Wajah Agatha spontan memerah mengingat kembali kejadian kemarin.
"Maaf, Nona, tapi saya harus membangunkan anda lebih awal karena anda akan ke istana hari ini," balas Vera.
"Hem, y-ya, tidak masalah." Agatha sibuk menormalkan kondisi wajahnya yang semerah tomat masak, sebelum disadari oleh Vera.
Pelayan pribadi Eleanor yang ia anggap sebagai teman itu, menjadi lebih ekspresif di depan Agatha beberapa hari belakangan. Bukan hal yang buruk, tentunya, karena usaha Agatha untuk berteman dengan Vera akhirnya berhasil. Namun, jika Vera melihat wajahnya yang tengah merona ini ... bisa dipastikan jika gadis 18 tahun itu akan menggoda Agatha hingga wajahnya semakin memerah atau lebih parahnya lagi, menjalar hingga leher dan telinga.
Bukan tanpa alasan Agatha berpikir seperti ini. Pasalnya sejak adegan pelukan di tangga kemarin, desas - desus bahwa Eleanor--a.k.a dirinya--menjalin hubungan spesial dengan dokter muda nan tampan keluarga Rossemarry langsung menyebar luas begitu saja ke seluruh mansion. Sungguh, rasanya jaringan gosip antar pelayan di manor ini lebih kuat dibanding jaringan 5G di dunia Agatha. Tinggal menghitung waktu sampai gosip itu menyebar hingga ke seluruh Vallesmeer. Dan akibatnya, Vera yang turut mendengar kabar itu pun berubah jahil dengan menggoda Agatha di tiap kesempatan.
"Hmm, saya kini mengerti mengapa anda dengan mudahnya membatalkan rencana pertunangan dengan Yang Mulia Putra Mahkota. Rupanya Nona lebih tertarik dengan dokter, dibanding calon raja, ya?" goda Vera di suatu kesempatan kala ia tengah membantu Agatha berpakaian.
Cukup mengesalkan karena Agatha tak pandai berkompromi dengan rona merah di pipinya tiap godaan Vera menyerang. Namun, sisi baiknya, berkat semua itu ia dapat mengalihkan ketakutannya atas sosok yang kemungkinan sedang memantaunya dari jendela yang mengarah langsung ke taman aster kemarin.
"Sudah selesai, Nona. Anda bisa berangkat ke istana setelah sarapan," ucap Vera, yang berhasil memutuskan lamunan Agatha beberapa menit terakhir.
Agatha memaku pandangan pada cermin meja rias di depannya. Di sana terpampang wajah cantik Eleanor yang sudah dipoles tipis oleh Vera. Hanya bedak yang sangat - sangat sedikit, dan perona pipi agar wajah Eleanor tidak tampak pucat.
Vera sempat protes dengan Agatha yang tak ingin didandani lengkap mulai dari alis, mata, hingga bibir. Namun, Agatha bersikeras dengan pilihannya. Selain karena tak suka dengan proses makeup yang sangat lama, ia juga mempertimbangkan perintah Elios saat di perpustakaan kemarin agar ia tidak menggunakan riasan apapun jika berkunjung ke istana. Tolong digaris-bawahi, Pe. Rin. Tah. Itu artinya Agatha tak boleh menolak, jika tak ingin dihukum karena melanggar perintah seorang Putra Mahkota.
KAMU SEDANG MEMBACA
Please, Take Me Home!
FantasyAgatha adalah seorang gadis 21 tahun yang baru saja menyelesaikan studinya di sebuah Universitas ternama sebagai lulusan terbaik. Namun, menjadi lulusan terbaik dengan IPK sempurna nyatanya tak dapat membuat hidupnya yang adalah seorang yatim piatu...
