4. The Crown Prince

22.5K 2.4K 45
                                        

*Cuap - cuap author

Kalau kalian suka membaca dengan diiringi musik, silakan putar musik di atas yaa.. aku ga tau musiknya bakal cocok dengan ceritanya atau nggak, tapi kalau buat aku sih, cocok - cocok aja😂

Jujur aja aku gak tau cara milih musik yang cocok, jadi kalau kalian punya rekomendasi, silakan mention di sini yaa^^

Terima kasih sudah membaca dan mem-vote cerita ini ^^

Happy reading!





***

Agatha tengah menikmati sarapannya dengan penuh khidmat ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya dengan sedikit ... tergesa - gesa. Tanpa diminta, Vera langsung membuka pintu putih berukir bunga persik kesukaan Eleanor itu dan nampaklah sosok pengetuk di baliknya. Vera terlihat sedang berbicara dengan si pengetuk, sedangkan Agatha hanya duduk diam di sofa kamarnya sembari menikmati teh chamomile yang ditemani roti, salad sayur, dan juga Maccaroon sebagai menu sarapannya. Terlihat tidak peduli dengan apa yang dibicarakan Vera dan--mungkin-- pelayan di depan pintu kamarnya.

"Nona, ada kabar dari pelayan yang bertugas di area dapur manor tadi, katanya ... Yang Mulia Putra Mahkota, Elios De Vell sedang berada di manor ini, Nona," ucap Vera.

Agatha baru saja hendak menyuapkan potongan roti tawar yang telah ia olesi dengan selai raspberry ke mulutnya, namun ucapan Vera yang baru saja kembali dan berdiri di sampingnya itu, membuat gadis itu mengurungkan niat, dan malah melotot horor pada Vera. 

"Kau bilang apa? Putra Mahkota ada di sini?!" tanya Agatha yang tanpa sadar melengkingkan suaranya hingga membuat Vera takut. Pelayan pribadinya itu rupanya masih belum percaya jika Nonanya telah berubah menjadi lebih baik, sehingga masih saja berpikiran buruk jika Eleanor menaikkan suaranya sedikit saja. Begitu pun pelayan - pelayan lainnya yang sudah pernah memasuki kamar Eleanor setelah Gadis  itu sadar dari komanya. Walaupun Eleanor tidak banyak bicara saat pelayan - pelayan selain Vera memasuki kamarnya, namun bagaimana tingkah gadis itu saat menyuruh ataupun bertanya ... sangatlah berbeda dengan Eleanor yang mereka kenal selama ini.

Sikap Eleanor setelah siuman, membuat para pelayan yang sudah pernah berinteraksi atau setidaknya melihatnya secara langsung itu menjadi bingung. Bingung dengan Nona mereka yang berubah menjadi lebih baik--karena tidak pernah meneriaki dan memarahi mereka lagi--namun di sisi lain juga merasa bersyukur dengan hal itu. Mereka harap, Nona mereka akan tetap seperti ini untuk waktu yang lama.

Kembali lagi pada Agatha, yang merasa bersalah karena telah membuat Vera takut, gadis itu kini menghela napas agar bisa mengontrol suaranya menjadi lebih pelan walaupun sebenarnya ia ingin berbicara dengan suara nyaring demi bisa meluapkan perasaan takut di dadanya begitu mendengar kabar tentang Elios.

"Ohh, maaf, aku tidak bermaksud untuk meninggikan suaraku," ujar Agatha.

"Ti-tidak, nona, saya mohon, jangan meminta maaf pada pelayan rendahan seperti saya," jawab Vera dengan kepala semakin tertunduk. Kini ketakutannya tergantikan oleh perasaan bersalah karena telah membuat Nonanya meminta maaf pada pelayan sepertinya.

"B-baiklah, maaf--m-maksudku ... Ya, tidak akan kuulangi." Agatha tersenyum kaku. Ia masih belum terbiasa dengan sistem perbedaan kasta seperti ini. "Sekarang naikkan kepalamu, tidak perlu menunduk seperti itu Vera, kau tidak bersalah," sambungnya.

Vera pun mengikuti perintah Nonanya. "Nahh, seperti itu," ucap Agatha dengan senyum yang semakin merekah. "Sekarang, katakan, apa yang dilakukan Pu-putra Mahkota di manor keluarga Rossemarry ini?"

"Ugh, bahkan untuk menyebut gelar pangeran itu saja membuatku gemetar," batin Agatha dengan tangan yang mulai dingin. Jangan tanyakan mengapa ia seperti ini, karena sungguh, ia sedang ketakutan setengah hidup.

Please, Take Me Home!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang