45. Can't Escape?

805 43 2
                                        

Burung kenari menari-nari
Halo semuaa, PTMH update lagi!!

Hampun beribu ampun author aturkan untuk pembaca2 PTMH yang selalu kena PHP update huhu🙏

Tolong jangan muak dengan cerita ini karena kalian adalah alasan author masih bisa menulis part 3300++ kata ini walau butuh waktu berbulan-bulan untuk bisa rampung🙇‍♂️🙇‍♂️

Akhir kata tak lupa author ucapkan MAKASIH BANYAK MAKASIH!!! atas vote dan komen yg selalu author terima walau ga pernah update huhu🥲

Part ini diawali dengan flashback dikit yaa, jangan heran sama nama tokoh yg baru muncul, karena emang baru muncul di sini, istilahnya filler doang kok tapi ngaruh dikit buat alur😸

Oke dehh tanpa berlama-lama lagiii, cusss dibacaaa😍


Thelma Aurancia namanya. Gadis itu baru berusia 15 tahun ketika ia lulus dari akademi sihir di ibu kota Edelsteen sebagai lulusan terbaik. Tak lama setelahnya, ia pun direkrut oleh Menara Sydshire dan menjadi bagian dari penyihir-penyihir unggul itu.

Ibunya yang mendengar itu benar-benar gembira bukan kepalang atas kabar yang dibawanya. Walau ayahnya yang seorang penyihir telah tiada sejak ia masih kecil, Thelma masih memiliki sang ibu yang selalu membanggakan pencapaiannya dan ikut bahagia untuknya.

Bagi sang ibu, anaknya yang menjadi penyihir Sydshire tentu akan memiliki umur yang panjang berkat pelatihan sihir mereka yang memanfaatkan energi kehidupan di alam raya tanpa merusak energi itu sendiri.

Sang ibu pikir, ia mungkin akan meninggalkan dunia dengan bahagia hanya dengan mengetahui bahwa hidup putrinya akan lebih lama dari orang-orang pada umumnya.

Ya, seharusnya begitu.

Namun, di hari pecahnya pemberontakan besar-besaran oleh Grand Duke Frederick--adik kandung Kaisar--menjelang upacara penobatan Putri Mahkota Eleanorra, semua penyihir Sydshire pun dititahkan untuk membantu keluarga Kaisar. Termasuk si penyihir muda, Thelma.

Dan, di hari kesepuluh perang besar itu, sayangnya Thelma harus mengembuskan napas terakhir akibat serangan sihir dari pihak oposisi yang menghentikan jantungnya.

Jasadnya tidak hancur sama sekali ketika dipulangkan ke rumah ibunya yang menangis histeris atas kematian sang anak. Walau tubuh Thelma telah membiru, ibunya selalu menunda untuk memakamkan jasadnya. Berpikir bagaimana kalau detak jantungnya kembali sewaktu-waktu karena ternyata hanya berhenti sementara. Dengan begitu, ia terus menunda hari demi hari hingga satu tahun pun berlalu dengan ia yang selalu mengharapkan raga itu kembali hidup.

Namun, ketika jasad itu hanya semakin membiru dan membusuk walau selalu ia mandikan, sang ibu pun akhirnya tak lagi menanti kembalinya detak jantung anaknya.

Tetapi.. Ia tak masalah kalau jiwa sang anak bernaung di tubuh yang berbeda. Toh, meski wajahnya tak sama, tetap saja jiwa anaknyalah yang mengisi raga itu.

Please, Take Me Home!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang