Agatha adalah seorang gadis 21 tahun yang baru saja menyelesaikan studinya di sebuah Universitas ternama sebagai lulusan terbaik.
Namun, menjadi lulusan terbaik dengan IPK sempurna nyatanya tak dapat membuat hidupnya yang adalah seorang yatim piatu...
Balik lagi ama PTMH! Dan author rajin di sini mhwhwhw (sarkasin diri sndiri)
Kepada kapal-kapal pendukung Agatha dengan siapapun, tolong pelampungnya dikencengin sebelum baca bab ini ya, semoga kalian kuat dan tidak berpikir apapun hehehe (suspiciously smiling)
Mat membacaaaaa✨✨✨
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Dia sudah tidur?"
Wanita itu mengedikkan bahu. "Entahlah. Terakhir kali aku masih mendengar isak tangis ketika melewati kamarnya."
Miss Annora mengambil duduk pada sofa melingkar di tengah ruangan. Diliriknya sebuah gulungan kertas yang terbuka setengahnya di atas meja--menampilkan gambar gerhana bulan beserta tanggal yang tertera di bawahnya.
"Waktu gerhana bulan tidak akan berubah lagi, kan, Tetua?"
Tetua Sydshire menekuk kedua alis hingga bertemu. "Ya, tidak akan berubah," jawabnya. "Tetapi.. aku rasa kita masih bisa menunggu gerhana selanjutnya untuk mengembalikan Putri Eleanorra ke dunia ini."
Miss Annora melirik tak setuju. "Tetua, anda tahu sendiri bagaimana kondisi Edelsteen selama ini. Begitu banyak rakyat yang menderita karena hilangnya Putri Eleanorra dari kekaisaran, dan anda masih ingin menunda takdir itu terpenuhi?"
"Aku hanya ingin kau juga memikirkan pihak lainnya, Annora. Walaupun kau hendak mengorbankan satu nyawa demi kehidupan di seantero Villucia, itu tetap saja tidak adil."
Wanita itu terdiam.
"Kenapa kau tidak membiarkan Elios De Vell untuk memenuhi takdirnya alih-alih Putri Eleanorra yang sejak awal tidak ditakdirkan untuk menjadi Kaisar?"
"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk membawa Putri Eleanorra kembali ke kekaisaran untuk menjadi Kaisar, sebagai penebusan kesalahan yang kulakukan di masa lalu. Dan aku akan tetap berpegang pada janji itu bahkan jika aku harus mati."
"Lantas itukah yang membuatmu membunuh empati mu sendiri, Annora? Agar kau tidak merasakan apa-apa saat membunuh jiwa gadis malang itu? Akuilah, Annora, kau masih memiliki rasa kasihan di dalam sana, bukan? Aku tahu kau pun tidak tega untuk melakukan rencanamu sendiri."
Seketika, Annora dapat merasakan emosinya merayap kembali. Dan ia tidak suka itu. Lantas ia pun bangkit dari sana, tak mau menoleh pada sang Tetua yang mencoba mengembalikan empatinya untuk menggagalkan rencana sempurna miliknya.
"Anda telah memberiku kebebasan untuk mengembalikan Putri Eleanorra pada Kekaisaran, agar ia bisa memenuhi takdirnya. Dan aku memutuskan takdir yang harus Tuan Putri penuhi adalah menjadi Kaisar selanjutnya, dan anda tidak akan bisa menghentikanku untuk itu."