"Agatha, namamu bagus."
Sebuah suara misterius di tengah - tengah ruang hampa itu terdengar menggema ke seluruh ruang.
"Maaf? Siapa di situ? Dan, tempat apa ini? Ada yang bisa jelaskan aku sedang berada di mana?"
Dan Agatha berada di sana dengan seribu satu pertanyaan di kepalanya.
"Namun sayangnya, kehidupanmu tidak begitu," lanjut suara itu.
"Siapapun, tolong keluarkan aku dari tempat gelap ini!!" Agatha mulai frustasi.
"Terlahir sebatang kara, dibesarkan di panti asuhan, dan selalu dipandang remeh oleh semua orang,"
"Ya! Aku tahu kehidupanku memang semenyedihkan itu, namun haruskah semakin diperjelas? Sekarang keluarkan aku dari sini sebelum aku menjadi gila!"
"Heheh," Suara misterius itu terkekeh.
"Kau ingin keluar? Baiklah, jika itu maumu." Putus suara itu kemudian, lalu menghilang begitu saja. Meninggalkan Agatha di ruang hampa nan gelap yang tidak diketahui itu.
"Jadi sejak tadi kau bisa mendengarku? Hey! Mau kemana kau! Jangan pergi! Aku takut sendirian di tempat gelap ini! Kumohon, hiks," isak Agatha.
"Sial, kenapa aku lemah seperti ini? Ayolah Agatha, kau pernah mengalami hal yang lebih parah dari ini, hentikan tangisanmu!" ujar gadis 21 tahun itu pada dirinya sendiri.
"Tenanglah Agatha, sebentar lagi." Ujar suara misterius itu. "Sebentar lagi, kau akan merasakan hidup seperti yang kau inginkan selama ini."lanjutnya.
"Menjadi orang kaya, bukankah itu yang kau inginkan?" Agatha mengangguk.
"Bagaimana kau ..."
"Baiklah, asal kau tak berulah, kau akan aman dan hidup bahagia selamanya. Ini kesempatan kedua mu, Agatha, jangan sia - siakan itu."
"A-apa maksud--"
"Dan jangan ikuti jejakku dulu ..." Gumam suara itu yang tidak didengar oleh Agatha yang kebingungan setengah mati. Berusaha mencerna maksud perkataan suara misterius itu. Disaat Agatha sedang sibuk berpikir, sebuah cahaya putih menyilaukan terlihat di ujung sana, tepat di hadapannya.
"Jalanilah hidup sesuai yang hatimu inginkan, Agatha. Kau pantas mendapatkan kesempatan ini. Pun juga diriku. Berbahagialah ..." Tutup suara itu, bersamaan dengan Agatha yang ditelan oleh cahaya putih tersebut dan menyerap semua ingatannya di tempat gelap itu.
***
"Nona ... Nona! Anda sudah sadar?"
Ugh, berisik.
Agatha memaksa kelopak matanya yang terasa berat, untuk terbuka. Memberi akses kepada cahaya matahari menyilaukan untuk menyerang netranya yang belum siap menerima cahaya, hingga membuat kedua bola matanya terasa sakit dan menjalar sampai ke kepala.
"Nona, anda baik - baik saja? Seseorang panggilkan tabib! Nona sudah sadar! Oh, syukurlah!"
Berisik. Silau. Ugh, terlalu silau.
Telinga Agatha terasa berdengung. Kerongkongannya juga sakit karena begitu kering. Belum lagi kepalanya yang pusing tujuh keliling entah karena apa. Terlalu banyak rasa sakit yang tidak nyaman yang menyerangnya secara bersamaan saat ini.
Gadis itu bingung harus melakukan apa untuk mengatasi semua rasa tidak nyaman ini. Namun, untuk langkah pertama, mari basahkan kerongkongannya terlebih dulu, agar setidaknya ia bisa berbicara untuk meminta tolong.
KAMU SEDANG MEMBACA
Please, Take Me Home!
FantasyAgatha adalah seorang gadis 21 tahun yang baru saja menyelesaikan studinya di sebuah Universitas ternama sebagai lulusan terbaik. Namun, menjadi lulusan terbaik dengan IPK sempurna nyatanya tak dapat membuat hidupnya yang adalah seorang yatim piatu...
